Glamping Manis Di Legok Kondang

Setelah sekian lama akhirnya saya pernah merasakan glamping yang lagi kekinian dalam beberapa tahun belakangan ini. Tahu kan ya Glamping itu apa? Bagi yang belum tahu, Glamping singkatan dari Glamorous Camping yang merupakan sensasi camping yang lebih mewah. Jelas keliatan lah ya dari namanya. Camping pasti di tenda tapi isinya rasa hotel atau villa. Walau begitu lebih dekat dengan alam. Glamping bisa di dataran tinggi seperti gunung ataupun lembah dan juga bisa di dataran rendah seperti di pinggir pantai.

Nah, sebulan lalu (13-14 Juli 2019) kantor saya mengadakan acara bersama untuk beberapa stafnya di Glamping Legok Kondang Lodge. Menurut panitia, tempat ini bukanlah tujuan awal Glamping ini namun karena satu dan lain hal akhirnya pindah ke Legok Kondang. Belum pernah ada dari kita dari kita yang pernah menginap disana.

Tiga bulan sebelum acara ini, saya dan tim ya sempat ingin ber-Glamping di Ciwidey. Tapi tidak jadi dan digantikan dengan staycation daerah Dago Village. Akhirnya kesampaian juga glamping walau lewat acara yang berbeda. Langsung ke pokoknya aja deh ya. Tempatnya kayak gimana siyh? Terus apa aja yang didapat?

Saat itu paket yang diambil adalah luxury tent, drone foto session, offroad, acara malam, dan paketan makanan serta barbeque. Soal harga boleh langsung aja tanya-tanya ke pihak reservasinya (cek website ataupun instagramnya). Coba kita lihat satu persatu ya.

Glamping Legok Kondang by Kang Jay
Courtesy of Kang Jay

Glamping dengan Luxury Tent

Jenis tenda yang dimiliki glamping ini cukup beragam dari ukuran kecil hingga besar. Dengan beragam ukuran memiliki beragam fasilitas juga. Setiap kamar juga memiliki beragam pemandangan berbeda (lebih lengkapnya ada di website dan IG-nya). Saat itu kami kebagian Luxury Tent yang bisa diisi 7-8 orang. Tent ini dilengkapi dengan akses wifi, free mineral water, sendal, dan TV. Masing-masing tempat tidur dilengkapi dengan selimut yang rapih dan terkesan hangat.

Didalamnya pun terdapat kamar mandi dengan nuansa yang cukup unik dan pastinya memiliki air panas yang selalu menyala. Selayaknya hotel, kita dapat handuk dan toileteries seperti sikat gigi, odol, sabun, dan shampoo.

Tak lupa juga terdapat balkon untuk menikmati udara segar dan matahari pagi. Teh dan kopi pun juga tersedia gratis dan bisa diambil kapan saja walau tidak tersedia didalam tenda. Sayangnya saat itu saya tidak sempat mengabadikan isi tenda dan seluruh fasilitasnya ini. Tapi mungkin bisa cek foto dibawah yang diambil oleh teman saya.

Yang musti diperhatikan adalah saat tidur malam hari suhu bisa mencapai 11 derajat. Bagi yang nggak kuat dingin seperti saya akan tidak bisa menikmati tidur malam kalau tidak memakai penghangat badan yang pas. Disuhu AC ruangan 20 derajat saja saya menggigil. Sayangnya niyh saya tidak mencari tahu lebih dahulu sebelumnya berapa suhu saat tidur malam menjelang pagi. Saya pikir ya seperti di puncak dengan berbekal jaket hangat dan kaos kaki cukup. Intinya kalau mau berpelesir walaupun itu jaraknya dekat dan kata orang biasa aja, banyak-banyakin cari tahu tentang tempatnya lebih mendalam. Takutnya malah kurang menikmati kalau-kalau nggak bawa peralatan yang pas.

My drone, piloted by Rizka

Drone Foto Session

Nama tengah saya adalah udik, karena sesudah bertahun-tahun saya baru tahu ada sesi foto beginian. Saya memang punya drone (yang tidak pernah dipakai) tapi hanya dipakai sebatas untuk foto-foto biasa saja dari ketinggian. Rupanya ada sesi foto (dan video) dengan formasi sehingga menghasilkan ragam gaya dan gerak yang melambangkan kesatuan seluruh peserta.

Gara-gara ini saya jadi cari tahu formasi apa saja yang bisa dibentuk selain untuk foto-foto dari kejauhan. Bahkan saya menemukan formasi drone foto session lentikular yang diikuti oleh ribuan mahasiswa baru di IPB. Ini memecahkan rekor dunia lohhh. Keren pisan!!

Ok, kembali ke topiknya. Berikut hasil foto drone session dengan pilot kang Jay yang juga mengabadikan acara ini dari awal kedatangan hingga akhir. Bagi yang punya drone, boleh dipraktekin niyh ditempat kerja atau komunitasnya masing-masing apalagi kalau bisa bikin lentikular… uuuwwwhhh mantul!!

Courtesy of Kang Jay

Fun Off-road di Rancabali

Bagi saya, acara terseru di glamping kemarin adalah off-road ini. Lagi-lagi keudikan yang kedua, saya nggak tahu seperti apa off-road itu. Cuman pernah liat yang ala-ala Merapi Lava Tour itu walau lewat foto video (kasian deh gue). Intinya ya, off-road itu menggunakan kendaraan diluar jalan raya alias di jalanan berbatu, berlumpur, sungai, pasir, dan lain-lainnya.

Karena lagi musim kemarau, jalur off-roadnya sangat berdebu (musti pakai masker banget). Katanya siyh lebih menantang saat musim hujan karena becek dan lumpurnya tinggi bisa sampai kotor-kotoran peserta yang ikut. Tapi sayangnya jalur off-road yang kita lalui saat itu hanya setengah jalur dikarenakan waktu yang sudah terlampau sore.

Start perjalanan dari Legok Kondang dan kembali lagi menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam dengan half track. Jadi kebayang dong ya kalau full track, bisa menghabiskan 4-5 jam. Totalnya dengan jalur biasa PP Legok Kondang – Rancabali sekitar 1 jam dan fun offroad 2-3 jam, itu juga kalau mulus. Kalau kayak land rover yang saya naiki, yang berhenti ditengah-tengah kemiringan, ya tambah lama lagi pastinya. Pas banget tim saya kedapatan supir land rover yang lagi ospek jadi tambah seruuuuwww :-D.

Ditengah-tengah off-road kita akan berhenti sebentar untuk foto-foto dengan suguhan kebun teh. Saat itu kebun tehnya berkabut tapi tetep terkesan mistis eksotis apalagi sudah menjelang maghrib. Dan beware sama angin dingin! Yesss saya kedinginan karena angin sepanjang perjalanan pergi dan pulang off-road padahal itu sudah pakai lengan panjang. Ini foto-fotonya (credit foto ada di captionnya ya).

Courtesy of Me
Courtesy of Kang Jay
Courtesy of Kang Jay

Barbeque Night

Panitia saat itu menyuguhkan acara malam bertema cowboy night dengan organ tunggal dan pertunjukkan dari peserta secara kelompok. Acaranya sendiri bersifat outdoor dengan meja-meja panjang sambil menikmati makan malam dan steak serta jagung bakar. Berhubung saya sendiri sudah kedinginan dari sesudah off-road jadi agak kurang menikmati acara malamnya (beserta makanannya). Entah kenapa kalau ditempat yang cukup dingin saya kurang bisa menikmati semua makanan (nggak ada bawaan lapar sama sekali). Disana pun dari sampai hingga pulang, saya hanya menyentuh makanan seadanya.

Makin malam cuaca makin dingin hingga 16 derajat. Tidak ada aktifitas yang membuat banyak bergerak alias kebanyakan duduk. Saya pun tidak membawa jaket yang tepat. Sepanjang acara saya hanya bisa kedinginan dan sesekali menggigil. Biasanya saya kedinginan karena faktor tiupan angin dingin. Tapi kali ini benar-benar dingin tanpa angin. Saat berbicara sudah seperti mereka-mereka yang berbicara ditengah musim dingin, dari mulut keluar embun. Meja kursi basah dan barang bawaanpun ikutan dingin.

My drone, piloted by Rizka

Glamping Venue

Secara keseluruhan total venuenya indah sekali. Dengan penginapan yang bisa dibilang berada dilembah namun bisa menikmati pemandangan bukit, gunung, kebun, dan lembah itu sendiri sangatlah menakjubkan. Suasananya terasa segar nan asri. Dibeberapa tempat pun terdapat kolam-kolam kecil untuk menambah tenang suasana.

Untuk masuk ke area glampingnya pun tidak bisa menggunakan bus sedang sekalipun karena jalanan kecil dan cukup berkelok. Kalau menggunakan mobil pribadi tentu masih bisa masuk ke venue. Jika menggunakan bus pariwisata, kita perlu turun di terminal baru dekat legok kondang lalu dijemput mobil odong-odong (fasilitas dari glamping). Dari dalam odong-odong ini kita bisa menikmati perjalanan dengan pemandangan menarik dan rumah warga sekitar kurang lebih 10 menit perjalanan.

Teringat saat bangun di pagi harinya saya langsung keluar kamar untuk mencari spot melihat sunrise yang bagus. Walau dingin tapi lebih baik bergerak supaya badan pun lebih hangat. Disayangkan saya menempati tenda tanpa pemandangan itu. Namun ketika jalan beberapa langkah dari tenda, rupanya terdapat dermaga diatas bukit untuk menyaksikan matahari terbit tanpa halangan. Dan itu luar biasa indahnya!!! Sepanjang menikmati dan mengabadikan sunrise, saya hanya bisa menggemakan dalam hati dan pikiran saya betapa dahsyat dan hebatnya Sang Pencipta.

Sebelum pulang saya dan beberapa kawan sedikit menyusuri tenda dengan kolam renang. Beberapa kawan kami ada yang mendapat tempat di tenda tersebut. Berada diarea kolam tersebut serasa berada di Ubud Bali. Terdapat infinity pool yang langsung dapat menikmati indahnya bukit, lembah, dan pancaran sinar mentari. Saya yakin menikmati sunrise dari spot itu pun pasti sangatlah mengasyikan.

My drone, piloted by Rizka
Courtesy of Me

Perjalanan Membawa Warna

Sayangnya saya menikmati Glamping hanya sebentar, itupun dipotong perjalanan dari Jakarta ke Ciwidey yang cukup menyiksa dengan kemacetannya. Jika ingin ketempat ini perlu persiapan bagi yang tidak tahan dingin seperti saya agar puas menikmati semua fasilitas yang ditawarkan. Kalau ada kesempatan bisa ketempat ini lagi, pasti akan sangat menyenangkan.

Walau begitu, bagi saya setiap perjalanan sesingkat dan seperti apapun itu perlu dinikmati. Pasti akan memberikan makna dan warna tersendiri dalam hidup. Ada kutipan bagus “Ke mana pun kamu pergi, nantinya akan menjadi bagian dalam dirimu”. Kemanapun destinasi perjalanan kita nikmatilah selagi bisa.

Bagaimana denganmu? Pernahkah merasakan glamorous camping? Adakah rekomendasi tempat Glamping lain terkhususnya di pulau Jawa? Bagikan dibawah ya.

Regards,

Sandrine Tungka

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: