Awal yang Indah: Cerita Melahirkan

Dear all, apa kabarnya? Saya teringat postingan terakhir saya ada di awal tahun 2016. Isinya adalah kilas balik tahun 2015 dan resolusi tahun 2016. Sesudah 10 hari kemudian saya mengumumkan 5 hari sesudah postingan awal tahun, resolusi nomor 1 terpenuhi. Welcome to the world baby JOE!!! Saya sudah melahirkan dunia!!! Ini suatu awal yang indah buat saya sekeluarga. ๐Ÿ™‚

Setelah penantian selama 9 bulan, baby JOE, seorang bayi perempuan, hadir kedunia sebagai anugerah dari Tuhan. Tangisan bayi perempuan memenuhi setiap sudut rumah kami. Ini berarti baby JOE sudah berumur satu minggu saat postingan ini diluncurkan. By the way “JOE” adalah singkatan dari nama anak perempuan kami dan bukan nama panggilannya. Saya menggunakannya untuk keperluan posting saja.

Kalau mengingat peristiwa satu minggu yang lalu rasanya semua terjadi dengan begitu cepatnya. Sedikit saya ingin menceritakan proses persalinan saya yang semata-mata untuk saling berbagi momen bahagia sebagai media sharing informasi bagi yang membutuhkannya.

Tanggal 2 Januari 2016 yang lalu saya sempat masuk ke rumah sakit karena saya mengalami flek. ObGyn saya, yang saat itu sedang cuti, mengharuskan saya dirawat walau belum ada pembukaan. Ini tidak menyenangkan buat saya. Saya meminta rawat jalan namun tidak boleh. Lucunya tiba-tiba saya malah terserang flu saat mulai dirawat. Dikarenakan usia kandungan masih 36 minggu, paru-paru bayi baru akan matang. Jadi saya harus stay di RS untuk bed rest dan di kasih penyuntik paru buat dedek bayi bila sewaktu-waktu melahirkan. Menurut obgyn–yang akhirnya visit juga di tanggal 3 Januari 2016 walaupun cuti dengan menggunakan kaos dan jeans di hari minggu–pada minggu 36 bisa saja melahirkan karena itu usia minimum persalinan, namun ada baiknya tunggu sampai benar-benar matang. Jadilah saya masih harus stay semalam lagi di RS.

Tanggal 4 Januari 2016 setelah visit dokter dan USG, rupanya saya sudah masuk minggu 37. Walau saat cek pembukaan belum ada tanda-tanda pembukaan, ObGyn mengatakan saya sewaktu-waktu bisa melahirkan karena flek masih keluar. Namun tetap harus diperhatikan kadar fleknya. Saya diharuskan kontrol satu minggu kemudian tapi kalau flek bertambah banyak harus segera konsultasi langsung. Jadilah saya sudah diperbolehkan keluar dari RS. Niat saya untuk sekaligus periksa mata tidak tersampaikan karena sudah terlalu sore. Jadilah saya pulang dan beristirahat. Apalagi flu saya makin menjadi, makin meringkuk lah saya sesudah makan malam. Namun sekitar pukul 9 malam saya mulai merasakan kontraksi ringan. Saya masih bingung ini kontraksi palsu atau bukan. Namun lama-lama kontraksinya memiliki ritme yang konstan. Setiap 10 menit pasti kontraksi sekitar 1 menit. Untuk menghitungnya saya sampai menginstall aplikasi khusus menghitung dan menganalisa kontraksi.

Tanggal 5 Januari 2016 pagi saya beritahukan kontraksi yang masih terus berlanjut ke suami saya. Saya bingung perlukah kembali ke poli kebidanan RS atau tidak. Setelah dipertimbangkan, saya akan memeriksa ke kebidanan sesudah periksa mata. Periksa mata ini dilakukan untuk mengetahui apakah mata saya yang menggunakan kacamata minus besar mampu lahir secara normal. Saya merupakan wanita dengan mata minus 5 dan silider 1 untuk kedua mata. Setelah 5 jam, seluruh rangkaian proses pemeriksaan mata selesai. Selama periksa mata ini saya terus merasakan kontraksi beraturan. Dari poli mata saya langsung ke poli kebidanan. Saya di CTG dan dilakukan pemeriksaan pembukaan oleh bidan. Hasilnya, ternyata saya sudah pembukaan satu jalan dua. Bidan langsung laporan ke ObGyn via telepon yang pas banget di hari itu bukan jadwal prakteknya di RS tempat saya melakukan pemeriksaan. Hasilnya saya sudah harus masuk ruang perawatan hanya ditemani ibu mertua saya untuk menanti proses persalinan yang bisa terjadi kapan saja. Sekitar pukul setengah 4 sore saya resmi masuk RS lagi dengan kondisi saya sendiri bolak-balik mengurus administrasi RS dengan perut kontraksi. Namun ini kegiatan yang baik. Saat pembukaan awal sangat dianjurkan berjalan-jalan untuk mempercepat dan memperlancar persalinan.

Saat waktu menunjukkan pukul 5 sore, ObGyn saya datang visit. Ia melakukan periksa pembukaan dan menurutnya saya di pembukaan dua tipis. Artinya di malam hari yang sama saya bisa melahirkan. Ia meminta suami saya untuk sudah stand by di RS jam 7 malam. Saya pun tetap dianjurkan untuk berjalan-jalan seputar kamar perawatan. Secara teori untuk anak pertama jeda pembukaan terjadi setiap 1-2 jam, kira-kira pukul 3 dini hari keesokan harinya saya lahiran. Tapi menurut ObGyn dengan pembukaan tipis saya, saya bisa melahirkan jauh lebih cepat dari itu.

Prediksi ObGyn benar. Pukul 8 malam kontraksi sudah mulai hebat. Saya memanggil bidan dan saat dilakukan cek pembukaan, saya sudah pembukaan 6 masuk 7. Yang mengagetkan lagi rupanya air ketuban saya sudah pecah, bidan sudah langsung merasakan rambut di mulut rahim saya. Kemungkinan saat ke toilet saya tidak sadar air ketuban pun ikut keluar karena di kasur saya tidak basah. Segeralah bidan menghubungi ObGyn dan saya langsung dibawa ke kamar bersalin dengan kursi roda. Saat itu saya hanya berharap ibu mertua saya menghubungi si mamas.

Rupanya saya masih harus menanti. Saya harus merasakan bagaimana sakitnya kontraksi sampai ObGyn datang dan itu harus ditahan dalam waktu kurang lebih satu setengah jam. ObGyn saya rupanya sedang praktek di Rawamangun. Bayangkan saja perjalanan pulang kantor dari Rawamangun ke Pasar Rebo. Pasti lamaaa. Untuk saya yang sedang menunggu, raaasssaaanyaaaa amboyyyyy nano-nano bikin kapok. Tenaga saya terkuras untuk menahan agar tidak mengejan terlebih dahulu. Tangan ibu mertua saya habis di remas-remas oleh saya. Yang membuat tambah menyiksa adalah flu saya yang belum sembuh. Hidung saya mampet sebelah sehingga sangat sulit untuk menarik dan membuang nafas guna menahan sakit kontraksi seperti yang diajarkan saat senam hamil. Berkali-kali saya setengah berteriak tidak kuat untuk dikeluarkan secepat mungkin kepada bidan yang berjaga disitu. Berkali-kali pula bidan mengingatkan saya untuk tidak mengejan sebelum waktunya karena bisa bengkak. Jadi saya terus diingatkan caranya bernafas saat kontraksi. Tapi sungguh ya, baru menarik nafas saja sudah bikin saya ingin mengejan terus ditambah lagi hidung mampet terus-terusan. Rasanya saya ingin memaki-maki bidan yang ada disitu.

Akhirnya penantian yang serasa berjam-jam itu datang juga. ObGyn saya datang. Ia sempat kaget karena si mamas belum datang juga. Tapi sudah tidak bisa menunggu lagi, dengan cepat saya langsung disuruh mengejan. Saya sudah tidak berpikir kapan suami saya datang. Saya hanya ingin kesakitan itu cepat berlalu. Sekitar dua kali mengejan belum berhasil. Metode saya salah. Jujur apa yang diajarkan saat senam hamil sama sekali hilang. Apalagi saya masih flu. Saya merasakan nafas saya pendek. Berulang kali ObGyn mengkoreksi teknik mengejan saya. Namun saya tidak bisa terlalu konsentrasi dengan perintahnya. Sebisanya saya mengejan sesuai yang diajarkan ObGyn. Lalu, tidak berapa lama kemudian si mamas datang. Sambil dibantu para bidan mendorong perut, instruksi dokter untuk mengejan dengan benar, dan yang paling penting doa si mamas dari telinga kiri saya, setelah kurang lebih tiga kali mengejan, pukul 21.45 tanggal 5 Januari 2016 saya mendengar ObGyn berkata, “ini dia sudah lahir.” dan terdengar tangisan bayi yang kencang. Kontraksi pun hilang sudah. Saya langsung menangis sambil dipeluk si mamas. Rasanya lega sekali. Plong….. Si mamas pun langsung disuruh ObGynร‚ย untuk memotong tali pusar baby JOE. Tambah sukacita hati ini.

Sisanya saya hanya bisa menangis menunggu bayi saya di bersihkan untuk IMD. Rasa-rasa dijahit tidak berasa sama sekali, kaki rasanya lemas. Tapi tangan dan badan saya memegang baby JOE dengan tegap dan sukacita luar biasa!!!! Tak henti-hentinya saya mengucapkan syukur kepada yang Maha Kuasa sembari terus-terusan mencium kening baby JOE. Ini suatu anugerah awal tahun yang luar biasa indah. Saya hanya bisa berdoa dalam hati mengucap syukur dan tak hentinya menghaturkan terima kasih kepada ObGyn dan para bidan yang membantu dari mulai kehamilan hingga pasca persalinan melalui ucapan dan doa saya.

ร‚ย 
Sampai hari ini saya masih merasa tidak percaya. Dua minggu yang lalu saya masih membawa perut besar, tapi sekarang yang didalam perut itu sudah diluar. Apalagi kelahiran ini tergolong maju dua minggu. Jujur saya masih ringkih dan kaku memegangnya. Saya merasa bersyukur ibu mertua mau membantu meredakan rewel baby JOE. Sungguh, saya masih belum mampu begadang ditambah flu yang masih belum kunjung sembuh. Namun perlahan tapi pasti, semua akan menjadi biasa. Saya juga mungkin mengalami baby blues, masih merasa deg-degan bingung apa yang harus dilakukan setiap baby JOE nangis kejer tapi mudah-mudahan teratasi dengan baik.

Bagaimana dengan awal tahunmu?

Regards,

sans-sign

Ditulis disela-sela istirahat siang mengumpulkan tenaga untuk begadang di malam hari nanti ๐Ÿ˜€


Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Pas lagi BW saya mendadak ingat mba Sandrine, dan baru ngeh kalau mba sudah lahiran sekarang. Turut bahagia ya mba! Selamat untukmu dan suami, semoga baby Joe tumbuh menjadi pribadi yang takut Tuhannya tetapi sayang keluarganya.

    • Terima kasih banyak mba Wien!!! Saya malah sudah jarang blogwalking sejak ada baby JOE. Masih nyari ritme yang pas untuk kembali ke dunia maya ini ๐Ÿ˜€
      Aminnnn mba untuk semua doanya. Sukses dan bahagia selalu ya untuk mba ๐Ÿ™‚

      • Terima kasih kembali mba Sandrine. Gapapa mba, take your time, baby JOE yang paling penting dari semuanya. Sukses dan bahagia selalu juga untuk mba Sandrine ๐Ÿ™‚

  2. dduuuh, bacanya sampe ngilu nih ma, saya juga mata minus 8 dan 10. dua anak saya dioperasi semua karena mata minus saya dan panggul sempit

  3. Pingback: Awal yang Indah : Cerita Melahirkan

  4. whoaaaaa… udah lahiran yaaa.. semoga ibu dan baby sehat terus ya ๐Ÿ™‚ dan semoga asi lancar jaya selancar-lancarnya… welcome to the world baby joe ๐Ÿ™‚

  5. Hai Sandrine selamat yaa ๐Ÿ™‚ semoga baby Joe dan kamu sehat selalu ya, dan semoga baby blues nya cepat hilang, jangan stres, jangan mikir yg susah2, kerjakan yg didepan mata, pokoknya bikin diri sendiri happy jadi baby blues nya cepat hilang ๐Ÿ˜€ .