Berdandan… Pentingkah?

Mmmm terlalu kontroversial ga siyh judulnya? Tapi pertanyaan inilah yang seringkali terlintas di pikiran saya. Sejak dulu saya tidak begitu memperhatikan penampilan. Cenderung menyukai kaos dan jeans yang biasa-biasa saja. Kemana-mana mencintai sandal tanpa preferensi khusus yang penting nyaman digunakan. Tas pun tidak penah berganti terlalu sering hanya itu-itu saja, tidak seperti mama saya.

Tidak terkecuali dengan wajah. Wajah pun tidak terlalu suka saya poles. Alasannya simpel, karena saya takut muka saya akan cepat tua kalo kebanyakan make up. Ini mungkin sudah menjadi sugesti dibenak saya sebetapapun iklan-iklan perawatan itu gencar di media massa. Dan alasan utamanya ya apalagi kalau bukan duit. Dari dulu saya terlalu pemilih untuk membeli produk-produk kecantikan daripada membeli segala jenis buku dan makanan. Makanya saya suka bertanya-tanya pentingkah seorang wanita berdandan?

Bukan berarti akhirnya saya tidak memperhatikan penampilan sama sekali. Kalau udah berurusan dengan acara-acara formal tidak jarang saya panik internal (hahaha, ini adalah bahasa saya jika menyebutkan panik yang cuman dirasa dalam hati dan tidak terlihat oleh orang-orang sekitar). Saya bukan orang yang pintar mix and match pakaian. Saya juga tidak mahir berdandan. Tapi saya tidak ingin terlihat paling kumal dari antara yang hadir. Kalau sudah seperti ini pasti masalah busana saya lari ke ibu saya meminta ide. Untuk masalah rambut pasti langsung merujuk ke kata salon.

Nah untuk urusan dandan akhirnya tetep belajar dikit-dikit hanya supaya tidak terlihat pucat. Dandanan pun harus yang natural artinya cuman pakai pelembab, bedak, dan lip gloss. Tipe dandanan seperti ini yang selalu saya pakai di acara-acara formal seperti ke gereja, seminar / rapat kantor, dan hajatan besar. Dengan make up yang sangat natural itu sebenarnya saya nyaman, tapi kalau udah lihat hasil foto-foto saya langsung menyalahi diri sendiri kok kayaknya cuman saya aja yang kumal dibanding saudara atau teman-teman difoto.

Dulu sewaktu saya belum memiliki pacar dan sudah menjadi orang kantoran saya getol berdandan pada saat pergi kerja ataupun bermain walaupun tetap dengan tipe dandanan yang sama. Mungkin karena jomblo ya. Jadi saya mulai cari-cari perhatian gebetan lewat dandanan. Tetapi sesudah memiliki pacar kegiatan itu hilang. Begitupun sesudah menikah. Dandanan hanya teraplikasi saat hari pernikahan atau mendatangi undangan pernikahan saja. Tak jarang ke gereja pun saya tampil polosan.

Hingga akhir-akhir ini saya ditegur suami sendiri, “Kenapa siyh kamu ga pernah dandan lagi mentang-mentang udah bersuami?”

Saya berkilah, “Lah apalagi yang dicari? Ga dandan pun aku tetep istri mas. Yang penting kan inner beauty. Mang kalo ga dandan aku jelek ya?”

Suami mencoba menjelaskan, “Betul, ketika inner beauty kamu bener-bener cantik, kecantikan kamu akan terpancar keluar. Dan aku melihat kamu memiliki itu. Tapi dandanan itukan bukan untuk menutupi muka yang jelek melainkan menambah value kecantikan inner beauty kamu. Nggak perlu yang mahal-mahal, cukup yang natural sehingga tidak mengubah wajah kamu dan paling tidak orang-orang pun melihat kamu lebih fresh dan inner beauty nya terpancar sempurna.”

Mendengar paparannya aku cukup dibuat doengggg. Udah gitu dalam minggu yang sama dilain kesempatan, entah mereka ini janjian atau tidak, adikku pun berkomentar, “Kamu kok kucel banget siyh kak. Dandan dikit kek biar capeknya ga kelihatan. Abis nikah harusnya tambah fresh dong paling ngga buat suami lu kak.” Lah denger ini tambah doeng lah aku.

Ditambah lagi temen kantorku berkata yang sama, “Kok lo keliatan kucel mulu siyh San tiap pagi. Dandan sedikit biar nambah mood juga di kantor. Kesannya lo kusuuuttt mulu sama kerjaan. Apalagi sekarang musim udah ga jelas. Dandanan itu sudah seperti produk perawatan muka. Polusi dimana-mana. Sering terpapar matahari. Minimal perawatan lah yang murah-murah aja.”

Gara-gara inilah saya mulai concern sama yang namanya berdandan. Bukan masalah pentingnya ternyata, tapi masalah bagaimana saya ingin tampil lebih baik. Waktu sempat melihat-lihat foto pernikahan saya, saya sukaaa banget dengan hasil dandanannya. Kelihatan sangat beda–tapi bukan berarti berubah bentuk ya. Inilah yang membuat saya terpacu untuk kembali berdandan lebih sering.

Sudah dua hari belakangan ini saya mulai dandan lagi ke kantor walau hanya natural. Tapi menurut saya kurang cukup, supaya saat okasi-okasi besar terlihat sedikit berbeda saya mulai punya niatan untuk membeli peralatan dandan yang lebih. Mulai lihat-lihat di elevenia bagian beauty apa yang saya butuhkan.

Saya membutuhkan lipstik berwarna lebih cerah dan tegas. Selama ini saya hanya berani menggunakan lip gloss atau lipstik-lipstik berwarna muda yang nyerempet warna bibir saya yang malahan membuat wajah saya pucat. NYX Soft Matte Cream Lip yang berwarna merah tua ini menjadi bagian dari wish list saya. Tapi tidak melupakan lip balm sebagai pelembabnya. Keranjang wish list saya tambahkan dengan Don’t Worry Lip Balm dari Etude House.

Pada wajah selama ini saya hanya menggunakan bb cream dan bedak. Saya rasa saya memerlukan shadding dan brozer untuk membuat kontur wajah saya lebih tegas atau bahkan terlihat lebih shinny. NYX Blusher & Bronzer Combo – Sunrise in Bali dan [Innisfree] Mineral Shading – Vanilla menjadi pilihan saya. Supaya saat di foto muka saya tidak terlihat kumal ^^.

Nah untuk mengaplikasikan itu semua ditambah peralatan dandan yang sudah saya miliki, saya butuh kuas-kuas yang sesuai penggunaannya. Jujur baru dari adik saya mengetahui bahwa penggunaan kuas itu tidak bisa serampangan kalau hasilnya ingin maksimal. Kuas pun butuh perawatan khusus agar tidak bau dan bahkan meruska kulit. Sooo, 12PCS MAKEUP BRUSH SET with LEATHER POUCH – ELEGANT juga menjadi bagian dalam keranjang wish list saya.

New Picture2Berharap dengan menggunakan produk-produk ini membuat saya dapat mengapresiasi diri saya sendiri dan paling tidak suami saya bukan untuk mengubah wajah saya. Itupun saya baru mau mulai belajar. Tapi paling tidak bisa ngirit duit juga ga perlu dandan di salon πŸ˜€ πŸ˜€ :D. Well, walaupun begitu masing-masing orang punya opini masing-masing akan berdandan dan kecantikan. Bagaimana dengan opinimu?

Regards,

sans sign

NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam Beauty Box Challenge dari Elevenia. Penulisannya bukan semata untuk keperluan kontes melainkan pengalaman pribadi nyata. Disaat-saat saya mulai menyadari akan kecantikan ternyata ada kontesnya. Ya sekalian saja saya berbagi. ^^ πŸ™‚

9 comments on “Berdandan… Pentingkah?

  1. Waduuh… Aku dulu pas masih kerja tiap hari dandan, tapi sekarang karena cuma di rumah aja, gak pernah dandan lagi… Baca komen2 para suami di sini kayaknya harus mulai dandan lagi nih, mungkin pakai bedak dan lipstick aja biar keliatan seger.

  2. penampilan itu kunci kedewasaan seseorang, berdandan tak masalah donk. Yang paling penting tetap hidup sehat agar bugar.

    Terima kasih Kak Sandrine Tungka

  3. Penting gak penting sih. Istri saya waktu belu nikah sama sekali ga pernah dandan tapi sekarang mulai rajin. Saya yang lihatnya sih semakin seneng. HIhihi..
    Sukses ya kontesnya.. πŸ˜€

  4. Ini adalah komen seorang suami ya……
    Bahwa berdandan itu sangat penting namun harus sewajarnya jangan sampai terlalu menor. Enak dipandang suami adalah sesuatu yang bisa meningkatkan keharmonisan dan menumbuhkan cinta yg terus tumbuh. Berbeda ketika masih lajang dulu, saya cenderung melihat lawan jenis itu secara natural. Ketika saya bertemu dengan lawan jenis pasti saya selalu memperhatikan wajah, tangan dan kakinya jika sama maka natural dan jika wajahnya bersih bersinar namun tangan dan kakinya tedak demikian berarti hanya efek riasan belaka. Pun demikian ketika saya bertemu istri dulu, dia adalah wanita yang bersih putih namun tidak berhias.sama sekali namun sekarang dia selalu berdandan untuk saya sehingngga walaupun dia sudah mempunyai lima dia malah smakin kelihatan muda dan cantik. Tentunya cintaku semakin tumbuh dan tumbuh (serius).

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: