Deg-deg-ser Lamaran

Setiap pasangan yang akan menikah pasti melalui prosesi ini. Jangan bayangkan bahwa yang disebut LAMARAN hanyalah berbentuk acara formal yang dihadiri kedua keluarga untuk meminta menikahkan anaknya. Prosesi lamaran saat-saat sekarang ini memiliki banyak variasi. Ada yang berbentuk pertukaran cincin. Ada yang hanya dihadiri keluarga inti dan dilakukan di restoran sambil makan malam bersama. Ada pula yang hanya dilakukan dua insan yang biasanya terjadi sambil Candle Light Dinner. Tapi apapun bentuknya, saya yakin semua perasaan capeng sama, ga pria ga wanita, semua merasakan yang namanya Deg-deg-kan, nervous pasti melanda saat akan melamar atau saat-saat akan dilamar.

Bagaimana dengan saya dan calon suami kala itu? Owh tentu mengalami perasaan yang sama. Sesungguhnya saat pertemuan keluarga inti pertama kalinya, ketika menyinggung-nyinggung masalah lamaran tidak ada desiran aneh dihati saya. Mengapa? Ya, yang pasti karena hubungan saya sudah direstui dua keluarga inti untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Tapi nyatanya menjelang hari H lamaran jantung mulai berdetak lebih kencang.

Prosesi lamaran jatuh pada hari kamis, tanggal 15 Mei 2014. Kala itu bertepatan dengan liburan hari merah perayaan Waisak. Sengaja kami memilih hari itu karena dapat dipastikan seluruh keluarga besar akan berada di Jakarta. Dan ternyata tepat ditanggal itu, ibunda si mamas berulang tahun. Untuk prosesi lamaran pastilah acaranya di rumah calon pengantin wanita, yaitu saya sendiri.

Mempersiapkan acara ini ternyata ribetnya ampun-ampunan deh. Berhubung ini acara perdana mempertemukan kedua keluarga besar ternyata persiapannya tidak se simpel yang saya bayangkan.

 

1.  Penentuan catering

Menentukan catering yang dipilih sebenarnya tidak susah. Karena acara diadakan di tempat saya, orang tua langsung menunjuk saudara saya sendiri untuk menyiapkan makanannnya. Yang susah adalah menentukan makanan yang cocok dimakan kedua keluarga. Berhubung saya dari keluarga Manado dan mamas dari keluarga Jawa susah menemukan makanan yang tepat secara keluarga besar saya suka yang gurih dan pedas banget dan keluarga besar mamas lebih suka masakan  yang segar dan manis. Jadilah setelah berembuk berhari-hari kami mengkombinasikan yang pedas dan tidak pedas, yang gurih dan yang manis.

img_20643962221703

Ikan bakar rica-rica, ayam goreng saus mentega, sup kimlo, sambal goreng ati, dan acar manado serta buah jeruk menjadi pilihan kami. Untuk dessertnya, papa membuat klapertaart andalannya dan mama membuatkan puding 3 lapis kesukaan keluarga. Om saya pun menyediakan es buah sebagai pengganti tambahan buah-buahan. Untuk makanan pembukaan, kami membeli Cucur khas manado di Pasar Modern Bintaro. Overall semua masakan dan makanan serta minuman yang tersaji saya beri nilai A. Puji Tuhan makanan pun habis disantap dan dilahap kedua keluarga.

 

2.  Cincin

Kami mengkonsep acara lamaran kami dengan acara pertukaran cincin. Ya semacam tunangan lah. Kalo di Manado disebut dengan Maso Minta. Jadilah yang harus kami pikirkan diawal adalah cincin. Dalam dua bulan cincin sudah harus jadi yang mana itu tidak sulit karena dua bulan adalah waktu yang standar dalam pemesanan cincin. Untuk prosesi ini kami hanya membuat sepasang cincin yang juga akan kami pakai saat prosesi pemberkatan nanti. Namanya juga Pertukaran cincin. Artinya saat lamaran cincin dipasangkan di tangan kiri dan saat pemberkatan akan ditukar ke tangan kanan.

img_20703340765875

Kami memesan cincin di bilangan Melawai, toko yang menjadi langganan orang tua saya, yaitu toko Kaliem. Sebenarnya rate di toko ini sekarang sudah cukup tinggi tapi saya tidak ingin mengecewakan orang tua yang sudah menghantar kami membeli cincin ditempat ini. Jadilah kami bersedia mengeluarkan kocek sedikit lebih tinggi. Toko Kaliem ini sudah memiliki dua toko disana. Satu di melawai yang menjual beragam aksesoris terbuat dari emas kuning maupun emas putih dan satu di Blok M Square yang khusus menjual emas untuk couple yang biasa dipakai untuk keperluan bertunangan atau pernikahan. Kami membeli cincin di toko yang di Blok M Square setelah diarahkan penjaga toko Kaliem yang di Melawai.

Awalnya kami ingin membeli cincin yang di grafir dengan inisial nama kami. Tapi atas alasan budget dan juga tidak cocok dengan model cincin yang kami pilih jadilah grafir hanya standar berada di cincin bagian dalam. Walaupun begitu saya sangat suka dengan bentuk cincin yang kami pilih. Kami memilih cincin dengan perpaduan emas putih dan rose gold tanpa permata.

 

3.  Layout Ruangan

Ini yang paling memusingkan kami. Kami ingin sebisa mungkin menghindari tenda dijalan raya agar seluruh keluarga yang hadir dapat menikmati acara didalam rumah. Rumah keluarga saya ini kecil tapi harus bisa dimuatin kisaran 50 ~ 60 orang. Jadilah kami merencanakan hanya membuat tenda di pekarangan rumah saja, menaruh kursi-kursi di garasi rumah, dan memadatkan kursi-kursi didalam rumah. Segala perabotan yang mengganggu dan memenuhi rumah kami singkirkan.

Pada saat hari H sebenarnya sangat muat tapi sayang tiba-tiba disiang harinya hujan deras. Tenda yang dipasang di halaman rumah tidak kuat menahan air yang masuk. Sangking derasnya, air juga tampias ke garasi yang berkanopi. Akhirnya banyak tamu yang hadir berlindung di teras rumah sebelah yang tidak menggunakan pagar. Saya sekeluarga kecewa dengan tenda yang dipasang. Kurang puas juga dengan kursi-kursi yang kami sewa karena banyak yang rusak. Kipas berair yang kami sewa pun akhirnya tidak terpakai karena suasana sudah adem akibat hujan.

 

4.  Susunan Acara

Sebenarnya inilah persiapan yang paling penting. Jika acara ini ingin menjadi acara yang berbeda, susunan acara perlu dipikirkan matang-matang dan ditanyakan dengan orang-orang yang sudah berpengalaman. Kita tidak ada yang mengetahui susunan acara yang benar jadilah susunan acaranya begitu standar. Bahkan saya sendiri terlalu terfokus menyiapkan tempat dan catering. Walaupun begitu saya tetap meminta om saya yang menjadi MC untuk tetap membawakan renungan sebagai bekal bagi kami berdua calon mempelai.

Tapi yang saya sendiri sangat sesali adalah saya tidak memberikan nama-nama lengkap dari keluarga inti si mamas. Jadilah sepanjang acara om bahkan papa saya sendiri tidak pernah menyebut nama orang tua si mamas karena mereka tidak tahu. Ini memang kesalahan saya dan sungguh memalukan. Beruntungnya orang tua mamas tidak mengambil hati karena tante saya langsung mengambil inisiatif untuk meminta maaf secara langsung. Ini sangat menjadi pelajaran.

 

5.  Pakaian dan Tata Rias

Karena dress codenya BATIK tentulah saya mencari baju BATIK yang unik. Pastilah kami mencari ti Thamrin City pusatnya batik-batik bagus. Tapi cari batik yang unik kesukaan saya tanpa jahit sendiri itu susah. Saya maunya memakai BATIK berupa dress panjang bukan kemeja. Putar sana putar sini kebanyakan menjual batik dengan model dress standar walaupun motif batiknya lucu-lucu. Akhirnya yang bagus-bagus itu dapatnya belakangan. Disalah satu toko yang kita tidak sangka-sangka malah menjual dress yang saya pakai untuk lamaran.

Bagaimana dengan Rias. Penata rias dan rambut tidak dipanggil khusus kerumah melainkan datang kesalon langganan keluarga saya. Riasan saya dilakukan oleh Mba Sri, which I love her work veryyyy muchhhhh. Silahkan simak fotonya aja ya.

 

Kerumitan hal-hal diatas yang sesungguhnya membuat saya pribadi merasakan nervous sebelum lamaran. Hal lainnya yang paling besar menyita rasa nervous saya adalah seperti apa saling keberterimaan kedua keluarga besar. Saya takut kedua keluarga besar ini tidak masuk, tapi syukur kepada Allah, mereka dapat membaur. Happy kah kalau ditanya? Ya tentu dongggg, apalagi seserahannya buanyakkkkk sampai-sampai tidak habis juga dibagi-bagi dengan keluarga besar saya. Inilah seninya nervous menghadapi lamaran.

Regards,

sans sign

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Pingback: Our Wedding Journey | SanWa Journeys