Yes, We Are Ready

Judul diatas adalah kalimat yang saya dan suami katakan saat keinginan kami untuk menikah kami ceritakan kepada masing-masing orang tua. Awal bulan Januari 2014 kami mengutarakan keinginan kami dan Puji Tuhan semua menyetujui walau banyak pertanyaan-pertanyaan yang menguji keyakinan kami. Tentu ada pertanyaan semacam itu karena kami berdua sebetulnya sama-sama tengah memiliki banyak kesibukan #biardikatainsoksibuk#. Dari perbincangan ini dimulailah serangkaian persiapan:

1.   Pertemuan dua keluarga

Kala itu di bulan Februari (jujur tanggalnya lupa :D), dua keluarga inti bertemu saling berkenalan dan mengutarakan keinginan masing-masing untuk menikahkan kedua anak manusia ini. Dalam pertemuan itu disimpulkan bahwa pernikahan ini akan dilakukan dengan tema nasional (tidak merujuk ke suatu adat tertentu) dikarenakan kami berdua berasal dari dua suku yang berbeda, Mamas (panggilan untuk yang kala itu adalah calon suami saya) dari Jawa dan saya dari Manado (disinilah Bhinneka Tunggal Ika di uji).

img_0608

Walaupun begitu keluarga calon mempelai pria meminta agar tetap ada penentuan tanggal menurut penanggalan Jawa sebagai tanda menghormati keluarga besar dari mempelai pria yang bisa dikatakan masih mengikuti adat yang ada – sekalipun keluarga Mamas sudah modern. Serta diputuskan juga bahwa kami akan menikah di bawah naungan gereja Mamas dan diteguhkan di gedung gereja tersebut (GBII Agape – Pasar Rebo)

2.   Penentuan tanggal dan tempat

Setelah melewati hari-hari yang cukup alot atas diskusi yang diwakili oleh kami berdua sebagai calon pengantin, ditentukan lah tanggal pernikahan kami di tanggal 16 Agustus 2014 yang jatuh pada hari Sabtu. Tapi bagaimana dengan tempat? Tempat peneguhan seperti yang tertulis diatas sudah ditentukan. Yang lama penentuannya adalah tempat resepsi.Menentukan tempat resepsi sudah menjadi cerita klasik para capeng dan kamipun akhirnya merasakan juga betapa penatnya — bahkan bisa bikin berantem sesama pasangan — mencari tempat yang tepat. Hingga akhirnya setelah hampir lebih dari sebulan sejak pertemuan keluarga inti tersebut baru ditetapkan kami akan melangsungkan resepsi di Gedung Puspa Pesona, Taman Anggrek Indonesia Permai, TMII pada tanggal 23 Agustus 2014 yang jatuh pada hari Sabtu juga.

Beruntungnya kami dapat jadwal dimalam hari karena gedung ini cukup panas bila diadakan siang hari, dikala mencari gedung murah dalam waktu 6 bulan itu sangattttt sulittttt sodara-sodara. Kurang beruntungnya kami terpaksa memundurkan acara resepsi satu minggu sesudah pemberkatan — ngeri kalau momennya ga bakal dapet. Soooo bagi yang ingin menikah di Jabodetabek dan kota-kota besar lainnya, pastikan mendapatkan gedung yang diinginkan maksimum satu tahun sebelum tanggal pernikahan (inipun di beberapa gedung yang best seller sudah tidak memungkinkan).Dengan penentuan gedung ini akhirnya keluarga si Mamas memutuskan untuk mengadakan dua resepsi terpisah, tanggal 16 siang diadakan resepsi dirumah keluarga Mamas dengan tamu keseluruhan dari keluarga-keluarga jauh Mamas yang — ajegile — banyaknyaaaa. Tanggal 23 malam dilanjutkan dengan resepsi di gedung dengan bidikan tamu keluarga saya dan kolega-kolega calon pengantin dan orang tua.

3.   Penyusunan schedule dan anggaran

Nah ini dia yang paling krusial menurut saya. Berhubung kita memutuskan untuk mengerjakan sendiri pernikahan ini agar lebih hemat, jadilah kami tidak memakai WO. Artinya urusan jadwal dan anggaran harus kami rencanakan sendiri. Kami mulai dengan membuat skema besar dalam pernikahan ini. Ya, layaknya kalau kita bikin event entah di perusahaan atau di kampus, atau dalam organisasi tertentu lah. Saya memang berpengalaman mengerjakan event-event sebuah organisasi tapi tetap saja mengatur pernikahan sendiri membuat saya kebingungan karena ini pertama kalinya mengurus hal ini.

Sebulan pertama yang saya kerjakan adalah mencari referensi dan tanya sana-sini, apa yang harus kami kerjakan terlebih dahulu. Kok semuanya nampak harus serempak tapi tiba-tiba nampak terlalu terburu-buru kalau kami mengerjakannya diawal. Intinya memang sejak kita memutuskan untuk menikah entah dalam waktu 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, atau bahkan 2 tahun kedepan, buatlah perencanaan yang matang dan kerjakan sesuai perencanaan itu. Jangan ditunda. Buatlah template perencanaan sendiri dan carilah referensi sebanyak-banyaknya. Mulai dari vendor-vendor yang akan kita pakai hingga peralatan-peralatan terkecil yang harus ada di dalam pernikahan kita.

new-picture3

Tiga skema besar yang saya buat dalam perencanaan pernikahan kami adalah pertama acara LAMARAN, acara PEMBERKATAN, dan acara RESEPSI. Dari tiga skema besar ini kami rinci apa saja yang harus dilakukan dan diurut dari yang lebih dulu atau prioritas lalu cantumkan dengan jadwalnya / deadline harus sudah fixnya. Kemudian kami mulai mencari vendor atau perlengkapan yang dibutuhkan bagi rincian skema dan mencantumkan estimasi biaya disampingnya. Dari satu format besar inilah yang saya pakai untuk mengontrol seluruh persiapan. Mulai dari kontrol jadwal dan updatingnya jika ada yang keluar dari jadwal hingga pengeluaran biaya-biaya sampai kepada hari H.

4.   Pencarian vendor-vendor

Poin nomor tiga adalah yang krusial, tapi poin nomor 4 adalah yang terberat. Dalam pernikahan vendor-vendor yang umum yang harus di cari pasti pertama adalah gedung, lalu diikuti dengan catering karena kebanyakan gedung-gedung di Indonesia ini harus menggunakan catering yang rekanan sehingga harga charge gedung tidak terlalu tinggi. Selanjutnya vendor foto dan video, vendor untuk bridal, vendor entertainment, vendor kartu undangan, dan tak lupa dan ini penting adalah vendor cincin pernikahan. Bahkan yang kecil-kecil seperti vendor mobil pengantin pun harus kita pikirkan. Souvenir pernikahan juga termasuk dalam daftar. Lalu vendor untuk pre-wedding jika ada. Bahkan sampai kepada kebutuhan untuk honeymoon pun perlu dipikirkan.

Yang paling penting dari semua vendor diatas adalah persiapan-persiapan yang terkait dengan surat-surat pernikahan. Terkadang capeng terlalu terfokus hal-hal teknis pernikahan hingga lupa bahwa ada birokrasi yang harus kita lengkapi sebelum pernikahan berlangsung sehingga pernikahan kita sah dihadapan agama dan negara. Dan ya saya masukkan ini didalam daftar mencari vendor. Cerita selengkapnya akan saya bagikan terpisah.

5.   Pembentukan panitia

Dikarenakan kami tidak menggunakan WO profesional sama sekali, jadilah saya menggandeng temen-temen kuliah semasa masih di Politeknik dulu untuk menggarap acara saya ini. Mereka adalah teman-teman satu organisasi dengan saya yang sudah beberapa kali menggarap acara kerohanian di kampus dahulu. Sekaligus dong memperlengkapi mereka untuk pernikahan mereka kelak :D. Para “WO” ini sebenarnya hanya untuk resepsi di gedung. Bagaimana dengan yang lainnya?

dsc_8474

Untuk pemberkatan tentunya kami bekerja sama dengan pihak gereja dan untuk resepsi di rumah seluruhnya diserahkan kepada orang tua Mamas yang artinya panitia pun di bentuk dari keluarga besarnya Mamas. Dan voila pernikahan berjalan dengan kepuasan tersendiri. Susahnya merencanakan pernikahan sendiri terbayar dengan sukacita bahwa pernikahan kami SAH dihadapan agama dan negara. #sorak kegirangan#

Berikut kurang lebih serba-serbi persiapan saya dan suami saya beberapa bulan yang silam. Tentunya semua itu dapat terlaksana karena dibungkus dengan doa yang tak henti-hentinya dari seluruh keluarga dan segenap handai taulan. Untuk detailnya?? Pantengin terus ya blog saya ini, saya sedang memecut diri saya untuk merampungkannya dengan segera. Kalau ada pertanyaan tinggal komen di kolom bawah ya.

dsc_8135

Regards,

sans sign

5 comments on “Yes, We Are Ready

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: