Kesal atau Tertawa?

Ini adalah pengalaman memalukan kami (saya dan pacar) sekaligus pelajaran menarik. Mungkin bagi sebagian besar pengunjung akan berkata, ‘ah itu biasa’. Atau bahkan ada yang berkata, ‘lebay banget siyh’. Beragam pernyataan lainnya bisa saja bermunculan. Well, inilah kisah kami.

image

Kemarin malam kami yang sedang menunggu-nunggu kucuran dana segar menghabiskan makan malam kami dengan mengharukan. Biarpun begitu, kami senang. Kami berbicara, kami tertawa bahkan sampai cekikikan, dan kami kekenyangan. Tepat pukul 8 malam kami bergegas pulang. Pacar pun berniat mengantarkanku dari Pasar Rebo yang ingin pulang dengan menggunakan bus dan bukannya kereta dengan alasan ingin cepat sampai dirumah. Aku memutuskan untuk naik bus Patas AC jurusan Pulo Gadung – Poris lalu berganti dengan kereta dari Rawa Buntu dan naik ojek dari Stasiun Sudimara untuk sampai ke rumah.

Jadilah kami menunggu di Pasar Rebo. Lima menit menunggu, bus tersebut belum datang. Sepuluh menit menunggu, bus belum juga lewat. Hanyalah bus Agra Mas yang lewat. Kami melewatkan bus Agra Mas dengan alasan bus tersebut tidak lewat Rawa Buntu (hingga sehari kemudian kami baru tahu bahwa Agra Mas juga lewat Rawa Buntu). Akhirnya 30 menit berlalu, bus yang ingin kami naiki tidak kunjung lewat. Hanya bus Agra Mas yang sudah empat kali lewat.

Walau begitu lama menunggu dan kaki terasa pegal, kami tidak melewatkan semenit pun tanpa tertawa. Sepanjang menunggu bus ada aja yang kami komentari, entah mengenai kacamata baruku, entah mengenai perut gembul pacarku, bahkan membuat joke-joke terhadap mobil-mobil yang lalu lalang. Intinya kami sangat ceria.

Hingga akhirnya aku melonjak makin kegirangan melihat bus mayasari berwarna hijau mulai berjalan kearah kami pada pukul 20:40 (bayangkan baru akan naik bus pukul setengah sembilan malam). Tanpa pikir panjang lagi kami langsung naik saja dan kami dapat duduk walaupun terpisah. Saat mau naik aku bilang pada pacarku, “Untung ga langsung pindah haluan naik kereta. Kalo naik kereta sampe rumah jam sebelas akuh.” Ya sebelum bus hijau ini lewat, pacarku menyarankan untuk naik kereta saja, tapi kutolak dengan alasan lama.

Di dalam bus, berhubung dingin dan kaki pegal, mataku sempat terpejam aka ngantuk, hehehehe. Hingga tiba-tiba aku terbangun dan sempat melirik keluar bahwa bus keluar dari jalan tol dan sedang berhenti di POIN SQUARE. Sempat kaget melihatnya kok bus Poris keluar di POIN SQUARE, tapi aku langsung berpikir bahwa mungkin khusus kali ini bus hijau ini turun di lebak bulus untuk masuk lagi di tol pondok pinang menuju BSD. Dan sekejap kemudian aku tertidur lagi *dasar kebo*.

Entah mungkin sepuluh  menit kemudian, aku kembali terbangun. Kali ini aku kaget maksimal. Kok bus yang kunaiki sudah berada di depan Pondok Indah Mall? Aku bingung dan kemudian mata mulai mencari pacar. Dimatanya tersirat kebingungan yang sama dan mengelurkan tanda tanya, kok kita sekarang ada di pondok indah?

Akhirnya aku mengeluarkan HP ku dan mengirimkan BBM pada pacar menyatakan kebingunganku, “Kok kita di pondok Indah? Wawa tadi liat ga, bus yang kita naikin jurusan poris bukan?”. Tapi ternyata nggak sampai-sampai. Disaat lagi kalut, sinyal tidak bersahabat.

Walau wajahku di setel tenang, hati makin lama makin kebat-kebit ketika bus melaju ke arah cipulir. Sesungguhnya kebat-kebit bukan masalah tidak tahu jalan pulang. Tapi masalah duit. Kalo udah salah jalan dimalam hari artinya harus pulang naik taksi, dimana aku sudah tidak punya budget untuk itu selain memecahkan “celengan elektronik” – ku. Wajah yang sama terlihat di wajah pacarku. Walau akhirnya kami bisa duduk bersama, kami bisik-bisikan terus. Kami pun mengambil kesimpulan, saat sudah sampai di flyover kebayoran, bahwa kami sedang naik bus jurusan Ciledug dimana bus yang kami naiki adalah bus terakhir. Artinya, KAMI SALAH NAIK BUS!!!

Sepanjang kemacetan menuju cipulir kami tak hentinya berspekulasi kok ini bisa terjadi. Tapi memang aneh. Kami yang sedang tertawa saat itu tidak fokus dan tidak terpikir untuk melihat plang jurusan bus di kaca depan sehingga kami naik dengan tanpa keanehan apapun. Itu padahal tidak biasa kami lakukan sebelumnya. Bahkan yang lebih aneh — sekaligus mengesalkan — saat pembayaran, kami sebutkan kami mau ke rawa buntu. Mendengar itu sang kernet diam saja, justru mengambil uang dari kami dan langsung mengembalikan dengan nominal yang seperti biasanya kami pergi ke Rawa Buntu. Padahal jurusan Ciledug tidak melewati kawasan Rawa Buntu sama sekali.

Masih berspekulasi akhirnya aku bilang sama pacar untuk turun di terminal Ciledug saja lalu naik taksi sampai rumah. Hanya aku lupa jalan dari Ciledug ke rumah, makin kebat-kebitlah hatiku. Hingga entah bagaimana, saat sampai pertigaan, yang baru setelah kami turun kami tau itu adalah ulujami, aku meminta turun saja karena aku melihat plang bertuliskan Bintaro ke arah kiri.

Setelah turun barulah kami bener-bener secara sadar dan nyata melihat bahwa kami menaiki bus jurusan Kampung Rambutan – Ciledug bernomor P73. Harusnya yang kami naiki P74 ataupun 117, meski memiliki keseragaman bodi bus.

Sudah turun kami masih dibuat bingung. Mau naik taksi dari pertigaan itu ternyata susah. Jalan yang begitu sempit dan banyaknya mobil yang lalu lalang di pertigaan serta minimnya taksi yang lewat membuat kami tak berhenti kebat-kebit. Memang jalan yang akan kami lalui sudah benar, tapi kami bingung naik apa agar tidak salah untuk yang kedua kalinya dalam semalam.

Ingin naik angkot kami bingung karena takut salah naik lagi takutnya jadi muter-muter nggak jelas. Tiba-tiba aku melihat penampakan familiar yaitu Angkot D18, angkot yang dulu suka membawaku pulang dari SMP ke perempatan Bintaro Plaza. Sambil mencari tahu lewat mbah Google, aku mengajak pacar untuk menaiki salah satu angkot D18 yang lewat. Barulah aku pribadi mulai lega akhirnya bisa pulang. Hanya sayangnya aku tak jadi pulang cepat, bahkan pacarku harus pulang lebih malam lagi dengan modal yang besar. Ditengah jalan menuju rumah, aku bertanya pada pacar apa perasaan dia saat itu. Dan dia menjawab, dia kesal tapi mau bagaimana lagi hanya bisa tertawa miris.

Biasa memang cerita ini. Walau begitu, sering terjadi pada orang-orang disekitar kita bahkan kita sendiri dan sesungguhnya mengesalkan. Yang kubingungkan adalah, disaat kami sedang tertawa-tawa ceria kami malah mengalami ini. Sempat bertanya dalam hati apakah karena kami kebanyakan tertawa sehingga “sial” seperti ini?

Belakangan aku sadar kami dibuat tertawa agar tidak galau mengalami kesalahan itu. Walau pacar merasa kesal, tapi dia masih bisa tertawa miris. Begitu pula aku, walaupun kesal tapi tanpa beban dan tidak seperti biasanya yang cemberut dan ngedumel. Dibalik itu aku bersyukur bahwa ini pelajaran menarik agar tidak gegabah saat naik bus. Bahkan bersyukur kemarin aku ditemani pacar. Bagaimana jika aku pulang sendirian? Wow ga kebayang deh kekalutanku dijalan.

Bagaimana dengan mu? Apa pendapatmu? Perlukah kita berkubang dalam kekesalan ataukah tetap tertawa menghadapinya?

Regards,

20140126-094706.jpg

2 comments on “Kesal atau Tertawa?

  1. Ini menyedihkan mbak :p hehe.. Kalau saya ya panik lah. Tapi kalau kesalpun kan yang salah kita sendiri karena gak teliti 🙂 Kenapa gak langsung bertanya sama supir bis kali aja dia bisa bantu gimana caranya pulang, atau mbak langsung turun aja pas tau itu salah jurusan.. Mudah-mudahan gak sampai kelulang lagi ya, ngeri juga kalau hal kaya gini kejadian malem-malem dan sendirian -_-

    1. Sampai sekarang saya masih ga menyangka aja itu bisa terjadi… Paling ga jadi pelajaran… 😁 Mengajarkan untuk lebih hati2….
      Nah itu kesal tak ada gunanya karena salah kitanya juga 😁😁

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: