Commuter Keras Bung!

Courtesy: Tender Indonesia

Commuter Line, kata-kata yang tidak asing di telinga penduduk Jakarta Bogor Tangerang. Pasalnya, inilah angkutan yang sangat dimanfaatkan masyarakat untuk menghidari macet berjam-jam di jalan-jalan ibukota. Termasuk diriku. Setiap hari, kurang lebih 3 jam sehari kuhabiskan didalam gerbong kereta ataupun peronnya.

Saya terbilang pemain baru dalam dunia percommuteran karena sebelumnya terbiasa sewa kos-kosan demi menghemat waktu. Tapi seiring berkembangnya kebutuhan, keputusan untuk kembali ke rumah orang tua dilaksanakan demi masa depan.
Sudah beberapa bulan ini setiap pulang kantor dan kuliah menggunakan commuter line. Pada awal-awal, commuter line masih terlihat manusiawi dimataku. Jam pilihan pulangku saat itu adalah kereta kedua dari terakhir jalur Bogor-Tanah Abang. Mengapa? Karena saat itulah saat yang sangat indah untuk bertemu dengan tempat duduk yang empuk di gerbong wanita, aka… kosong, tapi tidak sampai terlalu malam dirumah. Saat-saat itupun, menaiki kereta pk.8.00 malam dari tanah abang masih terhitung manusiawi. Walaupun penuh, kaki masih leluasa bergerak kesegala arah.
Bagaimana dengan sekarang? Bisa kukatakan, beberapa hal telah berubah. Saat-saat pulang jam 9.30 malam berubah menjadi kelelahan luar biasa. Satu bulan belakangan ini, kereta yang kunaiki pukul 9.30 malam, tidak pernah sepi penumpang. Tidak pernah aku mendapat tempat duduk, baik itu di gerbong wanita dan di gerbong umum. Kalau ingin dapat tempat duduk perlu naik kereta pk. 10.00 malam dari Tanah Abang, terkadang pun, pk. 10.00 malam ini masih berebutan dengan penumpang lain.
Begitupun kemarin malam. Kondisiku sangat tidak fit. Keadaan peron kereta Tanah Abang – Serpong/Parung Panjang penuh dengan orang-orang yang pulang bekerja. Sungguh ramai. Padahal jam sudah menunjukkan pk. 09.15. Semua orang ini menunggu kereta yang sama. Pada awalnya aku begitu panik melihatnya. Kondisi tubuhku begitu lemas. Aku jadi begitu kuatir untuk tidak dapat tempat duduk.
Kenyataannya pun, aku pasti tidak akan dapat tempat duduk di gerbong manapun. Jadi aku memutuskan untuk naik di pintu gerbong wanita paling belakang, dan mengambil tempat persis sebelah pintu masinis. Voila, aku berhasil. Disaat penumpang sedang rebutan tempat duduk, aku langsung berdiri ditempat yang ingin kutempati.
Pemandangan aneh yang kudapat dari tempatku berdiri, ada dua wanita yang rebutan tempat duduk dengan ukuran sangat kecil. Sebut saja si merah dan si ungu. Yang aku lihat sebenarnya si Merah yang duduk duluan dengan space yang sedikit lega. Baru si ungu memaksa duduk di space yang lebih kecil. Si ungu merasa tidak bisa duduk dengan nyaman sehingga ia terus memundurkan pantatnya untuk dapat tempat duduk yang layak. Ini membuat si merah kesal. Akhirnya si merah bangkit dari tempat duduknya dan mengambil tempat disebelah kiriku dan langsung duduk bersila dilantai dengan muka yang tak bersahabat. Di tempatku berdiri aku hanya bisa membatin, “Commuter memang keras Bung!”.
Baru saja kereta jalan, aku dapat cerita menarik lain dari pacarku yang sedang menaiki Commuter jurusan Tanah Abang – Bogor. Sambil duduk aku ketawa-ketawa sendiri membaca bbm darinya. Pasalnya, Ia melihat kenyataan yang cukup lucu. Saat memasuki stasiun Sudirman, pacarku yang duduk di kereta, melilhat bagaimana seorang bapak yang belum cukup tua berebutan tempat kosong dengan seorang wanita muda (yang sudah tidak begitu muda) dari dua arah berlawanan. Mereka berdua berlari-lari dari arah pintunya masing-masing. Menurut keteranga pacarku, wanita itu yang sampai duluan, tapi direbut sang bapak itu. Pacarku hanya geleng-geleng kepala ditempat duduknya, hingga tidak tega dan memberikan tempat duduknya pada wanita tersebut.
Aku yang mendapat bbm tersebut hanya bisa ketawa sekaligus miris. Membatin kembali, “Commuter memang keras Bung!” Ya, kata-kata ini memang benar. Jakarta sudah keras, kemacetan pun keras, tetapi commuter pun tidak mau ketinggalan. Ia ikut keras. Kerasnya commuter berasal dari orang-orang yang cukup keras didorong keletihan mereka ditempat kerja sehingga tidak peduli lagi dengan sesama makhluk sosial lainnya.
Jujur, akupun lumayan susah belajar untuk menjadi orang yang “rendah hati” di tengah-tengah situasi seperti ini. Keletihan dan keadaan commuter yang tidak mendukung, menjadi pemicu untuk bertindak individualis. Tapi kalau bukan dimulai dari kita, siapa lagi yang dapat membuat commuter menjadi lebih bersahabat?
Regards,

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: