Malaysia I Was in Lost (Part 1)

Sungguh mencengangkan, siang ini aku bertemu tamu tak terduga yang membuatku mengingat peristiwa di tahun 2012 ini. Tiba-tiba pikiranku melayang-layang dikeseluruhan peristiwa di tahun ini. Memori kembali terputar mengenang peristiwa-peristiwa bersejarah dihidupku. Hingga memutuskan untuk membagikannya di blog ini (sesuai janjiku kemarin).

Mengenang tahun 2012 berarti mengenang seluruh peristiwa yang terjadi selama bulan Januari hingga Desember. Ada peristiwa yang menarik dan tidak menarik. Ada peristiwa yang menyenangkan dan menyakitkan. Ada peristiwa yang membekas ada yang terlupakan. Salah satu peristiwa yang paling membekas dan paling awal untukku di tahun ini terjadi di bulan kedua, di akhir bulan Februari.
Bulan ini adalah bulan dimana pertama kalinya passportku (yang baru saja dibuat 4 bulan sebelumnya) memiliki cap negara asing. Lembar-lembar kosongnya mulai distempel pulang pergi. Sungguh luar biasa excitednya aku saat atasanku dulu memerintahkan aku untuk pergi seminar ke Malaysia. Wew, kali pertama pergi ke negeri orang.
Tapi yang menggetarkan hati adalah, visit ini harus kulakukan sendirian, tanpa kolega yang menyertai atau bahkan tanpa satu orang pun peserta yang berasal dari Indonesia. Ditambah lagi setiap membayangkan akan berangkat, teringat bahasa inggris ku yang sangat pas-pasan dan tak pernah dilatih. Berbagai macam pertanyaan bagaimana terlintas dibenakku. Perasaan tegang menimpaku setiap kali teringat aku akan berangkat tak lama lagi.
Pada akhirnya menjelang keberangkatan aku searching mengenai negeri Jiran tersebut. Tempat-tempat mana saja yang patut dikunjungi dengan waktu seminar yang sangat singkat dan hanya wanita seorang diri (belum terpikir oleh ku akan memperoleh kenalan di Malaysia), jenis bahasa seperti apa yang bisa kugunakan jika aku “stuck” berbicara dalam Bahasa Inggris, dan berapa uang yang perlu kukeluarkan untuk oleh-oleh. Singkat cerita, segala hal sudah dipersiapkan termasuk hati supaya tidak tegang.
Tapi dua hari menjelang keberangkatan aku terserang flu ringan. Memang karena diriku sendiri yang nakal, tidak bisa menahan diri dari ajakan teman-teman sekosan untuk jalan-jalan sampai malam di central park. Hari itu telpon terus berdering dari mama bahkan aku dimarahi setiba ku sampai dirumah. Alhasil meriang melanda. Rencana hari Senin (hari keberangkatan ke Malaysia) akan ke bandara dari kantor, tapi karena masih sedikit meriang, mama menyuruhku istirahat sebentar di rumah dan berangkat ke bandara dari rumah (selain karena lebih dekat ke bandara).
Perjalanan dari rumah menuju bandara cukup membuatku nervous. Bukan hanya nervous karena pergi sendirian ke negeri orang, tapi nervous akan keberadaanku di bandara nantinya. Maklum belum pernah keluar negeri. Takut malu-maluin di bandara. 😀
Sesampainya di Malaysia, rencana hari pertama untuk jalan-jalan gagal dikarenakan aku baru keluar KLIA pk. 20.30 waktu setempat. Kena airport traffic dan antrian panjang di imigrasi KLIA yang membuat waktu terbuang. Demi menghemat uang dan ingin perjalanan lebih cepat, aku memutuskan naik KLIA express (kereta express bandara ke pusat Kuala Lumpur tanpa berhenti di stasiun antaranya) yang menghubungkan bandara dengan KL sentral lalu akan melanjutkan perjalanan ke hotel dengan menggunakan taksi.
Saat itu pula aku menyesali perjalananku menggunakan KLIA express. Aku berbagi tempat duduk dengan 3 orang wanita asing yang dari logatnya orang amerika asli (kental banget bahasa inggrisnya). Mendengar mereka bicara aku menjadi sangat ketakutan, ketakutan tidak bisa berbahasa inggris. Sepanjang perjalanan aku berharap mereka tidak mengajak ku berbicara dan doaku terkabul seketika. Tapi hal yang membuatku tambah jiper adalah ketika satu dari tiga orang tersebut menangis gundah karena salah naik kereta. Wanita-cantik-yang-kelihatannya-keturunan-arab itu seharusnya boarding menuju luar-negeri-yang-aku-lupa-mana tetapi diberi petunjuk dari orang yang salah bahwa dia harus naik KLIA express dulu baru sampai ke bandara (padahal wanita itu sudah di bandara). Kemudian wanita itu panik dan terus menangis sepanjang perjalanan khawatir apakah dia sempat mengejar pesawatnya atau tidak. Kejadian ini cukup mengguncangku berpikir untukku segera sampai ke hotel.
Pukul setengah 10 akhirnya aku sampai di hotel yang — menurutku –  sudah dibook. Shock kembali menimpaku karena namaku tidak tertera di daftar booking, tidak ada satupun orang Panasonic yang menginap di hotel itu, dan ditambah lagi mereka tidak punya kamar kosong ukuran standard. Aku langsung pusing. Udah bahasa pas-pasan, uang pas-pasan, waktu sudah malam dan lelah, lagi flu ringan, kamar pun tidak ada. Dengan pulsa yang pas-pasan juga, aku mencoba menghubungi atasanku. Dia pun bingung, dan jika ia bertanya ke pihak Jepang (yang book hotel tersebut) pasti akan memakan waktu lama. Dan yang lebih malu-maluinnya, aku berangkat ke Malaysia tanpa bertanya kode booking.
Bingung terus melanda, aku memutuskan untuk mencari hotel disekitar untuk menginap tapi yang terbayang olehku adalah, hotel tempat ku berdiri saat itu berada di pinggir jalan tol yang lebat dengan pepohonan dan dengan bangunan tinggi yang jarang. Aku pun bertanya pada sang resepsionis –Puji Tuhan resepsionisnya laki-laki India muda yang baikkkkk sekaliiiiii seakan ikut merasakan kekhawatiranku– akan keberadaan hotel sekitar, dan dia memberikan solusi untukku menempati executive room di hari pertama baru pindah ke standard room di hari kedua. Akhirnya aku memutuskan mengambilnya (untung uangnya cukup walaupun ngepas, ditambah lagi harus deposit karena nggak punya kartu kredit, uang jajan pun jadi tersisa sedikit).
          DSCF0268
Dengan perasaan lelah dan linglung aku naik ke kamar yang dituju. Kamar executive nya begitu luasssssss dan elegannnnnnnn sehingga membuatku mulai lega. Untuk menghilangkan sedikit demi sedikit kekhawatiranku, aku menghabiskan malam itu untuk berfoto dimulai dari tempat tidur, sofa tamu, meja kerja, kamar mandi yang sangat luas, sampai menonton dengan dua televisi, hahahahaha. Walau begitu homesick tetap melandaku. Melihat keluar jendela hotel, yang ada keheningan malam tanpa aktifitas. Tidurpun tak nyenyak karena kedinginan dan nervous yang tidak jelas mengapa.
DSCF0298
Nervous itu terjawab keesokan harinya. Turun dari kamar aku langsung naik mobil shuttle dari hotel menuju tempat seminar. Yang buat aku heran adalah dimobil itu hanya ada 3 penumpang dengan tujuan yang berbeda. Aku makin bingung. Sesampai ditempat seminar dibuat lebih shock lagi bahwa seminar itu tidak ada sesuai yang diinformasikan kepadaku. Pikiran negatif berseliweran di otakku, apakah di cancel tapi kok tidak ada pemberitahuan padaku, apakah mereka melupakan aku, dan lain-lain sebagainya.
Aku langsung kontak ke Indonesia dan aku hanya bisa menunggu di sekitar kawasan seminar itu (yang merupakan kawasan perkantoran dengan memiliki banyak kios makanan untuk dikunjungi) sambil membaca majalah. Bodohnya aku lagi, aku sendiri tidak mempunyai kontak penyelenggara seminar. Benar-benar seperti orang terhilang diriku itu.
to be continued…
Regards,
sans-sign

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Pingback: My Twenty-Something Life - SanWa Journeys

  2. Pingback: My Twenty-Something Life | SanWa Journeys