The Love of Yogyakarta

Di waktu itu kurasakan betapa nikmatnya dan sejuknya serta hangatnya tinggal di yogyakarta. Apalahgi jika dibandingkan dengan tempat ku tinggal saat ini. Ya, tinggal di Jakarta sangat berbeda dengan tinggal di yogyakarta.
Walaupun hanya 3 hari – tak sampai – kumenikmati yogya, tapi terasa sekali perbedaan yang signifikan berada di sana dengan di Jakarta.
Maaf bukan berarti menyudutkan warga Jakarta – karna saya juga adalah warga Jakarta – tapi warga disini sangat berbeda jauh dari disana. Terutama masalah tenggang rasa. Yogya memang terkenal dengan warganya yang peduli sesama, beda dengan Jakarta yang sangat individualistis.
Contoh nyata saya sendiri, sewaktu di yogya saat menunggu untuk menyeberang jalan, biasanya di Jakarta saya menunggu jalanan sepi karena tidak ada kendaraan satupun – motor dan mobil – yang mau memberikan jalannya kecuali diberhentikan oleh polisi ato lagi lampu merah. Pada saat saya di yogya saya menyeberang di Zebra cross yang ada dan kendaraan langsung memelankan mesin mobilnya mempersilahkan saya menyeberang.
Contoh kedua, pada malam pertama saya di yogya, saya menggunakan andong untuk pulang ke hotel dari malioboro. Dalam perjalanan pulang andong yang saya naiki ditabrak motor. Awalnya saya sudah naik darah, tapi kemarahan saya surut karena sang penabrak langsung menepikan motornya meminta maaf dan membantu membetulkan andong yang karet rodanya lepas. Dan ga hanya itu, orang2 yang saat itu sedang berada ditempat kejadian pun ikut membantu dengan tulus. Luar biasa.
Dengan adanya pengalaman ini, saya jadi berpikir, kalo warga Yogya bisa, mengapa kita tidak. Saya jadi mengambil pelajarannya untuk saya sendiri. Saya harus menjadi orang yang tenggang rasa terlebih dulu.
Mari belajarlah bertenggang rasa.

Regards,

sans-sign

2 comments on “The Love of Yogyakarta

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: