What to Share?

I’m now at the state of “Don’t Know What to Blog”. Also between the state of “what i want” and “what i don’t want”. Kalo kata orang jaman sekarang, daku sedang “GALAU”. Dan tiba-tiba tertarik untuk mengupas kata GALAU.

Beberapa bulan belakangan ini, kata-kata ini sangatlah populer. Setiap ada orang yang sedang mellow dibilang galau. Setiap ada orang yang sedang bimbang dibilang galau. Setiap ada orang yang diombang-ambingkan perasaan cintanya dibilang galau. Setiap ada orang yang merenung dibilang galau. Coba kita cari tahu sedikit arti kata galau.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (versi online),

ga·lau a, ber·ga·lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
ke·ga·lau·an n sifat (keadaan hal) galau.

Ternyata kalau dilihat dikamus artinya tidak se mellow yang kita bayangkan. Justru galau itu lebih ke riweh. Bahkan kondisinya ramai. Entah pikirinnya ramai dengan hal-hal yang memusingkan kepala, entah keadaan sekitar sangat ramai memikirkan dan mengerjakan hal-hal yang bikin pusing bersama-sama, entah juga–diartikan secara harfiah–kondisi yang benar-benar ramai disekeliling kita hingga bikin pusing 7 keliling. Intinya galau itu adalah kacau.

Tiba-tiba jadi mengaca kepada diri sendiri. Apa bener hidup ku lagi se riweh itu saat ini sehingga muncul kata-kata galau bahkan ngetweet yang di reply seperti dibawah ini?

bangetttttt….. RT @abednegosibero: galau dong..??hehe RT @sandrinetungka : I’m in the middle of ‘want’ and ‘don’t want

Dan jawabannya itu sangat mungkin terjadi. Gimana nggak, kondisi pekerjaan menuntut banyak tanggung jawab (belum lagi kalo ga sesuai bayaran,, hohoho). Udah gitu kondisi tubuh sedang tidak fit secara jasmani, kepala nyut-nyutan, mata kedutan, hidung mampet, dan lain-lain sebagainya. Udah gitu belum lagi mikirin mau sekolah dimana setelah ini. Terus bisa juga mikirin siapa yang bakal jadi pasangan hidup. Lalu, kerja dimana nantinya. Ditambah lagi, bisakah meraih impian yang diidamkan. Ada lagi, gimana dengan keluarga (ayah, ibu, adik). Dan segudang kondisi-kondisi lainnya yang cenderung tidak menyenangkan. Kondisi-kondisi ini yang membuat pikiran kita “RAMAI”.

Tapi dengan seringnya kita menemukan kata GALAU di twitter, facebook, BBM, dan jejaring sosial lainnya kita juga ikut menyadari bahwa bangsa ini memang bangsa yang GALAU. Rakyatnya semua punya banyak pikiran. Bisa dibilang stress. Hebat juga ya. Satu galau semua ikutan galau (apalagi arti kata galau itu sendiri sudah “ramai-ramai”). Kemacetan sudah jadi kegalauan tersendiri.

Ya sebisa mungkin mari kita hindari kata GALAU–walaupun tadi sempet twit GALAU jadi nyadar. Kendalikan pikiran kita dengan sebaik-baiknya jangan sampai flat ataupun panik. Kalau flat, mari bergembiralah, pasti banyak hal-hal dalam hidup (dari yang konyol sampe yang serius) bisa kita tertawakan. Kalau panik, tenangkan diri. Inget yang fresh-fresh (kayak iklan nu green tea ajah.. hahaha–bukan promosi lowh). Yang paling penting berserah sama yang Kuasa.

Regards,

sans-sign

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: