Fenomena Mall

Memang ya Jakarta dimana-mana mall. Selalu penuh dihari libur dan dihari kerja. Apa yang dilakukan? Ya sepanjang sepengamatan saya kebanyakan dari pengunjung pergi ke restaurant, cafe, atau rumah makan (hahaha sama aja ya 8D). Sisanya ya pasti belanja entah karena sudah dipikirkan terlebih dahulu atau hanya sekadar melihat-lihat eh ternyata nyantol jadinya membeli (ya kayak keluarga saya saat ini,, xixixi). Walau hanya dengan kantong plastik kecil setiap orang yang ada di mall berbelanja.

Setiap kali libur mall penuh. Mulai dari parkiran yang sudah tidak bersahabat, lobby penuh sesak dengan orang, tempat makan yang ngantri, dan tangga jalan yang selalu tak ada jeda. Apalagi kalau mall lagi memounyai program SALE!!! Mall penuh sesak hingga malam dihari libur walaupun besoknya hari kerja.

Seperti hari ini. Ini hari libur. Hari dimana orang-orang akan memanfaatkan waktu libur ini dengan jalan-jalan. Lebih lagi ya jalan-jalan ke mall (ya sekali lagi seperti saya ini). Ditambah lagi bulan-bulan ini adalah bulan “Jakarta Great Sale” yang artinya bulan dimana toko-toko “menurunkan” harga-harga dari barang-barang yang mereka jual. Jadilah mall, seperti yang sedang saya kunjungi sekarang ini penuh. Beberapa toko tertentu yang memang jadi favorit para pengunjung – yang notabene pengunjung ini kebanyakan wanita yang membawa pasangan prianya untuk menemani – jadi penuh sesak, AC tidak berasa, barang-barang berantakan, crowded sekali.

Pikir-dipikir kejadian seperti ini selalu terjadi di kala weekend di Jakarta ini. Selalu bertanya-tanya juga mengapa mall penuh. Dan akhirnya saya mengerti alasannya. Tempat berlibur di Jakarta hanya di mall. Sejauh mata memandang yang dilihat hanya mall dan gedung-gedung bertingkat. Ya jadilah orang hanya berlibur di mall kebanyakan. Dan fenomena ini menurut saya yang membuat masyarakat terkhusus di jabodetabek ini menjadi konsumtif.

Fenomena seperti inilah yang membuat saya sedih. Secara tidak langsung mengajarkan rakyat untuk membeli, membeli, dan membeli. Bukan berarti saya tidak menyukai keberadaan mall, saya pun termask yang menikmati mall. Tapi ada baiknya jika pemerintah memiliki pembangunan yang merata dari dalam kota sendiri. Taman-taman untuk setiap warganya dapat bersatu dengan alam, dengan kotanya perlu dibudidayakan. Tempat-tempat membaca seperti perpustakaan perlu ditambah dan diperjuangkan demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Tempat-tempat rekreasi perlu digalakkan supaya warga semakin disegarkan dan keluarga-keluarga semakin dekat. Ya memang tempat-tempat seperti itu pun memerlukan uang agar dapat dipergunakan, tapi tidak mengajarkan untuk konsumtif, selalu membuang-buang uang untuk hal-hal yang sebenarnya mungkin kita tidak perlu.

Ini merupakan himbauan jika pemerintah dan kita semua mau membaca blog saya ini. Tapi paling tidak saya ingin mengeluarkan uneg-uneg saya ini. Karna sesungguhnya saya sudah kecapekan menemani orang tua berbelanja di mall yang ramai ini… 8D 8D 8D

Regards,

sans-sign

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: