Kalau pengunjung blog ini memperhatikan widget sidebar paling atas pasti akan menemukan quote ini:

“The more that you read the more that you’ll know, the more that you learn the more places you’ll go!” – Dr. Seuss

Bahkan bagi pengunjung yang merupakan teman saya di BBM atau whatsapp juga akan menemukan quote dibawah ini pada bagian status:

“Give yourself a chance to read.”

Dua quote ini adalah pengingat saya terhadap luasnya dunia yang bisa dijelajahi melalui buku. Sejak kecil saya sudah tertarik dengan dunia kata-kata. Mulai dari yang bergambar hingga yang hanya berisi rangkaian alfabet A hingga Z, kalau itu menarik mata saya, pasti akan saya babat habis. Sejarah saya menyukai buku sebenarnya bisa dilihat ditulisan ini. Atas kecintaan saya dengan buku inilah yang membuat saya menelurkan satu blog khusus untuk review buku yang saya baca. Memang belum rutin dikarenakan saya lebih excited untuk baca buku yang baru ketika sudah selesai satu buku :D.

Pic. Courtesy of earlymoments.com
Pic. Courtesy of earlymoments.com

Saya tergolong pribadi yang tertutup. Namun saya merasa itu bukanlah kelemahan saya. Justru karena karakter yang seperti ini membuat saya mencintai membaca. Saya teringat saat SD saya sama sekali tidak pernah masuk jajaran 10 besar. Belajar untuk ulangan pun hanya ketika mama yang mengajari saya. Namun ketika SMP, dikarenakan punya keinginan besar untuk membanggakan orang tua, saya mulai membaca sendiri setiap buku pelajaran ketika ulangan. Ditambah lagi pengaruh teman saya yang selalu mengajak saya ke perpustakaan untuk sekadar meminjam buku baru ataupun belajar. Dari situlah saya mulai tertarik membaca dan mencari berbagai genre lainnya.

Kecintaan akan membaca membentuk karakter saya menjadi pribadi yang lebih baik. Yap, bagi saya, membaca dapat membentuk karakter seseorang. Saya bisa mandiri karena buku. Bukan berarti tidak ada peran orang tua ya. Namun dengan tambahan bantuan dari buku saya mulai membuka diri saya untuk lebih berani menghadapi hidup. Contohnya, saya menjadi pribadi yang nggak takut pulang sendiri saat SMP (oh ya, saat SD saya takut pulang sekolah sendiri dengan naik angkutan umum) karena saya ingin setangguh tokoh Elizabeth dalam serial Sweet Valey Junior High.

Saya juga berani bermimpi lebih tinggi berkat buku Around The World in 80 Days. Buku ini saya baca saat sedang mengantri dokter mata dan habis dilahap selama menunggu. Karena buku ini saya berani punya cita-cita untuk mengunjungi dunia luar–yang secara bertahap kesampaian satu persatu–dan mulai berani belajar bahasa asing yaitu bahasa Inggris. Ini adalah buku berbahasa Inggris pertama yang saya baca.

Melalui buku Harry Potter and The Goblet of Fire saya diajar bersabar karena ini adalah buku tertebal pertama yang saya baca ditambah pula yang saya baca adalah versi bahasa Inggris. Ini tidak mengada-ada. Namun benar saya jadi lebih sabar. Sebelumnya sanking sudah jatuh cinta dengan buku, rasa-rasanya ingin menghabiskan seluruh buku yang saya pinjam atau beli dalam waktu sekejap seakan-akan tidak kenal waktu. Tapi dengan buku tebal ini saya mulai belajar manajemen membaca. Ada waktunya untuk membaca cerita naratif dan ada waktunya untuk belajar.

Kecintaan ini ingin saya telurkan kepada anak(-anak) saya. Bagi saya membaca bukanlah sekadar hobi namun keharusan. Apapun pasti bentuknya adalah bacaan kan? Mau itu koran, artikel di internet, teks berjalan di televisi, ataupun berbentuk buku tebal pastilah perlu dibaca. Sejak dini saya mulai mendongengi anak saya dengan berbagai cerita rohani walaupun dia belum mengerti apa yang saya ceritakan. Harapan saya ini bisa menjadi perangsang bagi anak saya untuk mencintai membaca terlebih-lebih mencintai buku. Saya sudah berencana membeli berbagai buku yang bisa dinikmati sejak usia bayi.

Namun membaca pun perlu adanya pengawasan dari orang lain (terkhusus orang tua atau bisa juga orang-orang yang lebih tua). Tidak semua buku yang terbit itu “layak” untuk dibaca. Buku pun punya kelasnya sendiri-sendiri. Tentu tidak cocok anak-anak SD membaca buku-buku karangan Mira W. Anak pun bisa terjerumus dengan adanya komik-komik yang ceritanya tidak mendidik. Bahkan ada buku yang menyesatkan sehingga menjadi kontroversi dan propaganda (bahkan bisa sampai bertengkar membawa-bawa SARA). Buku-buku seperti ini bukannya membentuk karakter yang baik malah akan memperburuk karakter yang membacanya.

Saya sangat beruntung karena orang tua saya selalu menanamkan pola hidup benar sehingga ketika di salah satu buku yang saya baca ada terselip hal-hal yang “nyeleneh” saya bisa langsung menilai bahwa ada yang nggak beres dengan buku yang saya baca. Walau saya tetap melahapnya sampai habis namun saya tidak boleh menanamkan apa yang saya baca tersebut dalam benak saya.

Ada satu buku cerita fiktif yang saya baca dimana didalamnya menunjukkan betapa membaca pun bisa menjadi boomerang bagi karakter anak jika kurang pengawasan orang tua. Judulnya adalah Beyond the Kingdoms, serial keempat dari seri buku The Land of Stories karangan Chris Colfer. Didalam buku itu diceritakan bagaimana anak seorang Ratu Peri memiliki obsesi yang jahat yaitu menjegal ibunya sendiri dengan menggunakan tokoh-tokoh antagonis dari buku-buku kesukaan si anak. Anak sang ratu peri ini memang sangat senang membaca berbagai jenis buku. Namun sayangnya yang terserap olehnya adalah “kehebatan” tokoh antagonis dalam setiap buku yang dibacanya sehingga muncul obsesi jahat itu. (Saya pernah menyinggung perihal buku ini di dalam postingan yang berjudul “Jelajah Dunia Buku“).

Walau begitu, membaca itu sangat penting bagi pembentukan karakter. Asal ada orang tua (atau orang yang lebih tua dan bijak) yang mendampingi dan memberikan pengarahan pada akhirnya setiap kita, setiap anak, akan menjadi dewasa melalui buku-buku yang dibacanya dan menyerap hanya hal-hal baik yang ada didalamnya. Saya merasakan karakter yang baik terserap dalam diri saya. Bagaimana dengan mu? Buku apa saja yang sudah membentuk karaktermu?

Regards,

sans-sign

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway dari Taman Bacaan Pesisir. Terima kasih mba Adelina yang sudah berbagi mengenai Taman Bacaan ini. Oh ya, sangat dinanti loh sumbangan bukunya. 🙂

image-1-768x1024

54 thoughts on “Membaca Membentuk Karakter Seseorang”

  1. Sama mba, untuk pribadi yang tertutup seperti saya, membaca buku itu salah satu kesenangan tersendiri yang tidak bisa dibagikan kepada orang lain,
    Dan memiliki banyak buku itu seperti memiliki harta karun, hehehe

  2. Tak dapat dipungkiri bahwa membaca dapat membentuk karakter seseorang. Ulasannya sangat menarik. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih ^_^

  3. Saya tergolong pribadi yang tertutup. Namun saya merasa itu bukanlah kelemahan saya. Justru karena karakter yang seperti ini membuat saya mencintai membaca.

    Suka sekali mba dengan kalimat ini. Saya merasa saya pribadi yg tertutup juga dan kadang saya merasa tidak nyaman karena orang lain kok kayanya bisa dengan mudah bergaul. padahal kalau saya bisa mencintai diri sendiri apa adanya perasaan ini ga akan ada 🙁

    1. Awalnya pun sama mba. Saya iri dengan mereka yang jauh lebih supel dan humoris. Tapi lama-kelamaan itu kok malah bikin saya tambah down. Saya bersyukur diperkenalkan dengan yang namanya buku sehingga akhirnya bisa mulai menerima diri saya sendiri yang tertutup. Semangat mba!!! 🙂

    1. Ehehehe nggak salah asuhan kalo nggak terjebak atau terjerumus kok mas. Asal bisa menempatkan diri saja sesudah membacanya. Saya juga penggemar Maria A Sardjono!!!! Wahhh mulai di pegang lagi mas. Kasian buku-bukunya. Tapi saya juga siyh, udah dua bulan di tahun 2016 ini belum kelar satu buku pun :’D

  4. Menarik sekali mba tulisannya..
    Saya setuju bahwa membaca dapat membentuk karakter seseorang. Lebih tepatnya menurut saya, siapa orangnya dapat dilihat dari buku yang dibacanya 🙂

    Sukses ya mba give awaynya. Salam kenal pula 🙂

  5. Dalam agama yang saya anut, malah baca “Iqra” menjadi wahyu pertama yang turun meski beliau tidak pandai baca/tulis.
    Jadi “membaca” dalam hal ini sangat luas. Dengan membaca kita bisa menginspirasi lewat penyampaian seperti lewat artikel ini, mendapat dan mendalami pengetahuan.

    Sungguh perintah “membaca” dengan semua maknanya merupakan suatu tanda kasih sayang Pencipta bagi kita manusia.

    1. Betul banget mba. You are what you read…
      Saya baca dari HP pertama sampe ketiga dalam bahasa Indo.. Baru yang keempat saya shock dibelikan yang dalam bahasa inggris dan tebal amat pula. Awalnya udah mau nyerah baca satu bab saja ahahahaha

  6. Suka sekali dengan quotenya mba.
    Aku sempat suka membaca novel ketika kuliah. Tp entah kenapa minat aku untuk membaca agak sedikit berkurang saat ini. Padahal aku pengen banget mengajarkan anak2 aku utk mencintai buku

    1. Biasanya ketika ada begitu banyak kesibukan, minat baca malah berkurang. Dan itu terjadi pada saya :D.
      Tapi nggak ada yang terlambat, mulai lagi dari bacaan paling ringan pasti bisa bangkit lagi minatnya 🙂

  7. Halo Mba Sanwa, ijin mampir dan komen yaaaa.

    Buku yang membentuk karakter kalo buat saya sih seringnya yang udah dibaca berkali-kali. Mungkin buku tsb jadi membentuk karakter bukan karena udah dibaca berkali-kali, melainkan ceritanya bikin jatuh cinta sehingga saya baca berkali-kali kali ya.

    Tapi menurut saya sih buku yang paling membentuk karakter itu buku-buku yang saya baca ketika usia 10-12an. Akhir-akhir ini sih yang paling membentuk karakter itu buku-buku yang berbau manajemen diri gitu (karena memang buku itu tujuannya untuk membentuk karakter pembaca kan ya).

    Kalau Mba Sanwa, buku apa yang paling membentuk karakter? Atau berkesan? Mungkin bisa jadi rekomendasi di daftar bacaan saya ^^

    1. Bener juga siyh mba. Buku yang kita baca sejak dini itu paling krusial untuk membentuk karakter.
      Kalau untuk saya sendiri buku buku “Around The World in 80 Days” itu yang paling membentuk karakter saya. Lalu selanjutnya serial Chicken Soup juga membentuk karakter saya secara langsung.

    1. Sama-sama mba. Generasi sekarang ini terlalu manja dengan yang namanya kepraktisan sehingga bisa menghambat imajinasi. Mudah-mudahan generasi ini dan generasi kedepannya menjadi lebih cerdas berkat membaca.

  8. buku apa ya mbak, buku la tahzan sm quantum ikhlas deh kayaknya mbk, dua buku tersebut udh kayak pengingat bwt aku terutama kalau aku sdg dilanda masalah dlm kehidpn ini *aseg, utk ttp bersemngt dan pantang putus asa.
    good luck yak 🙂

    1. Saya sendiri kalau lagi dilanda masalah kadang suka keinget sama buku ini atau buku anu kok sepertinya mengalami hal yang sama dan akhirnya jadi semangat lagi.
      Terima kasih banyak ya mba.
      Ayuk ikutan juga GA nya 🙂

    1. Wehehehe iya niyh. Mas juga yakkk. Akhh belum mampir… Cuss akhhh.
      Iya mas, apalagi kalo narasinya dari sudut pandang pertama dan ceritanya itu menarik, udah kayak kitanya jadi peran utama dalam buku itu dan ditambah lagi gagal move on pas udah selesai baca :’D

        1. Saya sendiri juga kurang tahu alasannya, haha. Menurut saya, membaca berarti mendapat pengetahuan baru, dan perlu waktu bertahun-tahun untuk benar-benar menguasai dan menerapkannya 🙂

Leave your footprint here ... :)

%d bloggers like this: