Berkeliling Jepara dan Semarang [Hari II]

Hari kedua perjalanan ini kami habiskan di Semarang. Walau masih merasa bosan dan kecewa minimal kami lebih ceria dengan destinasi wisata yang di kunjungi. Sebenarnya tidak banyak yang kami lakukan di hari kedua. Pertama kami menikmati hotel tempat kami menginap hingga jam makan siang. Tentu sayang untuk melewatkan setiap fasilitas yang ada di hotel. Masakan sudah membayar cukup mahal untuk satu cottage tapi tidak dapat dinikmati. Sebenarnya siyh hanya menikmati fasilitas kolam renang nya saja. Karena hanya itu yang menggoda. Apalagi saya yang memang kepengen banget ketemu air alias berenang. Nggak jadi snorkeling berenang pun okey. Tapi paling tidak saat bangun pagi kami disuguhkan pemandangan yang menarik dan menyegarkan dari bangku cottage. Hal menarik lainnya dari hotel ini adalah sarapan paginya, prasmanan dengan menu yang menarik di lidah saya secara pribadi. Memang sarapan pagi hotel prasmanan selalu menggoda saya dan selalu saya tunggu-tunggu setiap kali menginap. Berikut ini foto-foto untuk melengkapi cerita saya.

image

image

image

image

image

Sesudah puas menikmati hotel, kami semua berkunjung ke Sam Poo Kong. Kami menghabiskan banyak waktu disana hanya untuk berfoto. Mengenai sejarah tempat ini sama sekali saya tidak mengerti. Saya baru mencari tahunya lewat internet sesudah berkunjung kesana. Yang saya suka dari tempat ini sebenarnya adalah warna merah meriah yang khas. Untuk berfoto sangat ciamik. Memang saat kesana pastilah kita tidak bisa masuk ke beberapa klentengnya karena di khususkan untuk sembahyang. Kita hanya bisa mengabadikan diri di depan setiap klenteng. Lokasi juga tidak terlalu besar jadi tidak akan lama kita menghabiskan waktu di tempat ini. Apalagi kalau cuaca lagi panas, wuihhh gerahnya tak tertahankan. Perlu pakai topi dan bawa air minum. Berikut beberapa foto yang saya abadikan disana.
image

image

image

Sesudah itu karena sudah lewat tengah hari kami mencari makan siang terlebih dahulu di daerah simpang lima yang bisa dibilang jantung kota Semarang. Tempat makan prasmanan yang menjual beraneka ragam makanan
khas Jawa. Tempatnya cukup enak walau tidak ber-AC. Harga makanannya pun pas. Untuk rasa bisa dibilang standar lah ya.

Sedudah makan siang kami langsung mengarah ke Lawang Sewu. Ini tempat yang saya secara pribadi nanti-nanti. Saat tahu tidak bisa ke Karimun Jawa pikiran saya hanya ingin berjelajah Lawang Sewu dan penjara bawah tanah yang terkenal itu. Berkeliling Lawang Sewu kala itu kami menyewa pemandu. Sebenarnya hanya dengan membaca brosur dan papan-papan yang ada disana sudah cukup mengetahui sejarah Lawang Sewu, tapi saya pribadi sangat menyukai setiap berjelajah museum atau tempat-tempat bersejarah tertentu didampingi pemandu karena pasti ada saja hal-hal tidak tertulis yang disampaikannya. Ditambah lagi nilai tambahnya pemandu bisa membantu kami foto secara rombongan tanpa bantuan tongsis yang angle nya terbatas (teteup narsis).

Beberapa hal yang masih saya ingat dari cerita pemandu tersebut:

  1. Lawang Sewu bukan berarti pintunya ada 1000. Sebenarnya jumlahnya hanya sekitar 700an (saya lupa-lupa ingat dengan jumlah pasti yang disebutkan oleh pemandu tersebut, kalau searching di internet pasti ketemu kok). Namun karena jumlahnya banyak ya langsung saja disebut “Sewu”.
  2. Bangunan lama dari Lawang Sewu ini justru terdiri dari bebatuan kokoh tanpa semen (campurannya pun saya tidak mencatat apa). Walau sekarang sudah banyak pemugaran dan beberapa sudah dilapisi semen.
  3. Kaca jendela yang ada di Lawang Sewu amatlah kokoh. Memang sudah banyak kaca yang berganti. Namun kita tetap bisa membedakan mana kaca yang lama dengan kaca yang baru. Kaca lama memiliki tekstur bergelombang dan dua lapis sehingga tidak mudah dipecahkan serta kedal suara. Bayangkan kalau rumah kita menggunakan kaca seperti ini. Anak nangis mungkin tak terdengar. Namun sudah pasti modalnya mahal sekali.
  4. Ada beberapa jalur bawah tanah yang dipakai untuk membuang tahanan yang sudah meninggal di penjara bawah tanah ke sungai yang ada di belakang bangunan. Saya melihatnya begidik ngeri.
  5. Oh ya bagi yang belum tahu Lawang Sewu ini pada jaman penjajahan Belanda memang dibangun sebagai kantor perkeretaapian namun saat penjajahan Jepang beralih fungsi jadi markas tentara Jepang sehingga ruang bawah tanah difungsikan menjadi penjara.
  6. Masuk ke Lawang Sewu banyak spot-spot menarik untuk berfoto namun memang suasananya remang-remang walaupun siang hari jadi hasilnya kurang maksimal. Koleksi yang ada di dalamnya pun menarik untuk dilihat seperti bahan bangunan yang dipakai membangun Lawang Sewu, kereta api yang pernah beroperasi disana, bentuk rel, dan lain sebagainya.
  7. Sayangnya waktu kami datang, ruang bawah tanah yang selalu basah itu sedang ditutup karena pemugaran jadilah tidak bisa trip spooky. Saya sebenarnya membenci hal-hal yang menyeramkan (termasuk tidak menyukai nonton film horor) namun yang satu ini saya benar-benar ingin menjelajahinya. Oh ya mengapa ruang bawah tanah itu selalu basah karena itu dipakai sebagai pendingin ruangan di Lawang Sewu. Itu seperti AC alaminya. Jaman dulu kan ya belum ada AC jadi untuk membuat udara lebih segar dan adem dipergunakan tuang bawah tanah yang disirkulasi dengan air.

Mau lihat foto-fotonya?? Ini dia…
image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Sesudah dari sama kami langsung beli oleh-oleh khas Semarang seperti bakpia, tahu bakso, dan bandeng presto. Saat itu kami dihantar ke salah satu gerai oleh-oleh besar disana (maaf lagi-lagi saya lupa namanya). Sesudah belanja kami langsung di hantar ke pool bus Bejeu untuk kembali pulang ke Jakarta. Sebenarnya waktu keberangkatannya masih lama sekali tapi nampaknya sudah tidak ada tempat yang bisa kami jelajahi di kota Semarang. Kalau agak sedikit jauh tentu tidak sempat. Kami hanya mampir makan mie jawa yang ada persis di pool bis itu. Memang ya makan mie Jawa langsung di Jawa nya itu beda rasanya. Maknyus banget.

Sekitar jam 9 malam bus yang menghantar kami ke Jakarta sudah tiba. Sayangnya di perjalanan pulang ini kami dapat kursi di belakang. Tapi buat saya pribadi bus ini lebih bagus dan nyaman. Ada colokan untuk ngecharge dan ada wifi gratisnya. Saya bisa tertidur pulas lebih dari 4 jam walau dengan kondisi kebut-kebutan yang sama. Hanya sayang mesin bus sempat mengalami kendala. Di tengah perjalanan AC-nya mati. Lagi enak-enak tidur cukup terganggu karena pengap.

Overall perjalanan ini biasa saja walau lebih ke arahbkecewa. Tapi saya jadi mengambil hikmahnya. Karena sebulan sesudah perjalanan ini saya menemukan saya sudah hamil 2 bulan. Artinya waktu foto narsis di Semarang sambil lompat-lompatan saya tengah hamil 1 bulan. Mungkin ini alasan kenapa nggak bisa nyeberang ke Karimun Jawa. Takut mabok kali ya… Wehehe hanya spekulasi saya siyh.

Regards,

sans-sign20150516_164608_hdr_wm.jpg

8 thoughts on “Berkeliling Jepara dan Semarang [Hari II]

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.