Mudah-mudahan penikmat SanWa Journeys nggak bosen karena artikel di beberapa bulan terakhir ini berisi hal-hal yang bernuansa kehamilan dan bersalin. Kali ini, saya ingin berbagi informasi seputar persalinan. Dulu saya pernah berbagi informasi seputar kelas senam hamil, sekarang saya mau berbagi seputar tempat persalinan saya. Mudah-mudahan jadi share informasi yang berguna bagi yang membutuhkannya (tidak ada pesan-pesan sponsor untuk tempat persalinan yang saya ulas ya, semata-mata hanya ingin berbagi sekaligus sebagai ucapan terima kasih). Saya melahirkan di Rumah Sakit Harapan Bunda Jakarta Timur bersama dr. Arman Djajakusli SpOG.

bersalin

Memilih Rumah Bersalin

Sedikit cerita, awalnya saya tidak ingin bersalin di RS ini. Atas cerita beberapa teman dan browsing di internet, sesudah hasil testpack saya menyatakan dua garis merah pekat, saya sangat tertarik untuk bersalin di St. Carolus Salemba. Pasalnya disana sebagai ibu baru di ajarkan banyak hal. Menurut informasi dari teman saya, di St. Carolus kita diajarkan cara menyusui, memandikan bayi, diberikan pelajaran mengenai ASIX, dan lain sebagainya yang harus diketahui ibu baru. Tentu itu yang membuat ibu baru seperti saya sangat tertarik dan membuat saya ingin melahirkan disana. Namun kendala saya adalah mobilitas, jauh dari tempat tinggal dan macet. Kalau untuk kontrol rutin masih bisa ditempuh, tapi misalnya pas mau melahirkan ada hal-hal di luar dugaan pasti akan merepotkan. Di tambah lagi di trimester pertama, saya mabok kendaraan. Naik angkot, motor, mobil pasti bikin saya pusing dan pengen makan terus. Sempat terpikir apakah nanti saja sudah trimester ketiga baru ke St. Carolus namun akhirnya setelah diskusi dengan suami saya mengurungkan niat. Tempatnya sukar dijangkau sehingga pasti merepotkan.

Pilihannya berarti hanya RS Harapan Bunda yang paling dekat dengan tempat tinggal saya sekarang. Tapi saat itu saya masih sangsi. Dengar cerita teman banyak yang kurang nyaman bersalin disitu dengan pilihan dokter yang berbeda dan alasan finansial (apalagi saat saya mengetahui saya hamil, kantor saya resmi memakai full BPJS yang pasti tidak bisa melahirkan secara normal di RS).

Memilih Dokter Kandungan

Saya pun bertanya ke salah satu tante saya yang saat itu baru melahirkan. Ia bersalin di Halim. Tapi dokternya praktek di Taman Mini dan Cililitan. Tante saya pun merekomendasikan satu dokter di daerah Kramat Jati dan kalau memang mau ke RS Harapan Bunda tante saya merekomendasikan ke dr. Arman karena rekomendasi temannya.

Jadilah saya searching mengenai ketiga dokter rekomendasi tersebut. Setelah searching dokter pertama (dokter tante saya) saya tidak mau dengan alasan susah ke tempat praktek nya dan bikin mabok. Saya cenderung ke dokter kedua yang di Kramat Jati. Pasalnya saat itu saya masih setengah-setengah ke RS Harapan Bunda karena pernah nggak sreg sama satu ObGyn disana. Ada siyh satu ObGyn wanita yang kata teman saya bagus dan pro normal, tapi antriannya panjang banget dan praktek hanya dua kali seminggu disana. Ditambah lagi informasi yang saya temukan tentang dr. Arman hanya sedikit. Jadilah saya memutuskan ke ObGyn yang di Kramat Jati saja.

Tapi dasar tangan saya gatel suka browsing terus, saat akan ke dokter di Kramat Jati, saya menemukan beberapa ulasan bahwa dokter tersebut kurang ramah memberikan konsultasi ke pasiennya. Nah, saya jadi bimbang lagi. Saya pun membatalkan kunjungan kesana. Tapi nggak mungkin nggak kontrol kan? Akhirnya saya mencoba searching lebih dalam tentang dr. Arman. Saya menemukan bahwa dr. Arman adalah ObGyn yang menangani persalinan Sheila Marcia. Pikir saya artis saja percaya berarti dokternya baguslah. Oke, saya memutuskan mencoba. Toh kalo pertemuan pertama nggak sreg masih bisa ganti ke ObGyn lain.

Suatu waktu pulang kantor, saya dan suami berkunjung ke dr. Arman. Saya ingat sekali sedang bulan puasa dan pasiennya sedikit. Saya hanya perlu menunggu satu jam. Saat itu saya sempat ciut. Kalau pasiennya sedikit jangan-jangan kurang bagus. Ahaha labil ya saya. Kebanyakan salah, sedikit pun salah. Tapi coba sajalah. Kesan pertama bertemu dr. Arman memang terlihat masih muda untuk ukuran ObGyn dengan gayanya yang cukup casual yaitu kemeja dan jeans tanpa jas dokter yang putih itu. Saat konsultasi pertama, keragu-raguan saya berubah jadi kesan postif. Berkonsultasi dengan dr. Arman enak banget soalnya beliau menanamkan pikiran positif bahwa ibu hamil itu bukan orang sakit jadi jalani hidup biasa saja namun tidak berlebihan. Beliau juga mendukung untuk lahiran secara normal. Waktu konsultasi pun lama banget namun tidak berasa pas ada di dalam ruangan dokter. Pertama konsultasi saya langsung nyaman. Saat pulang berembuk dengan suami, kita memutuskan fix dengan dr. Arman nggak usah cari perbandingan lain.

Pada pertemuan kedua saya baru sadar bahwa dr. Arman ini salah satu the best di RS Harapan Bunda. Rupanya pasiennya buanyakkkkkkk!!! Kalau hari sabtu datang jam setengah 10 pagi saat dokternya baru mulai praktek kita bisa dapat nomor antrian ke 20-an. Itu artinya baru masuk ruang dokter sekitar jam 3 sore. Beliau bisa menangani pasien 3-4 orang per jam-nya. Jadi lebih baik sudah mendaftar dua jam sebelum jam prakteknya dimulai. Intinya hingga pasca melahirkan saya puas dengan beliau. Selama kontrol bulanan, saat melahirkan, hingga pasca melahirkan, konsultasinya selalu menenangkan bahkan mengajarkan. Padahal beliau bukan wanita yang pernah mengalami kehamilan tapi care dengan pasiennya. ObGyn ini pun mau diganggu melalui SMS ataupun WA di tengah jadwal prakteknya yang padat. Memang siyh, dokter itu cocok-cocokkan. Tapi bagi yang masih tur ObGyn, tinggal di sekitaran Jakarta Timur, dan nggak risih dengan dokter pria, saya merekomendasikan dr. Arman Djajakusli. Prakteknya pun nggak cuman di RS Harapan Bunda. Beliau juga praktek di RSIA Evasari Rawamangun dan Kemang Medical Care. Untuk jadwal bisa di cek di masing-masing situs RS nya ya.

Informasi Tambahan Rumah Bersalin

Sekarang mengenai RS nya sendiri. Setelah saya menjalani perawatan di sana, RS Harapan Bunda bagus juga. Mengenai biaya persalinan dan rawat inapnya pun standar, tidak mahal. Bahkan setelah saya bandingkan dengan RS swasta dengan pelayanan serupa justru lebih murah. Hanya RS ini bangunannya tua ditambah lagi sangat crowded. Mungkin karena satu-satunya RS swasta di jangkauan Pasar Rebo dan sekitarnya kali ya. Mungkin ada benarnya bahwa suster dan bidan nya jutek. Tapi nggak juga kok. Selama dirawat saya dapat bidan yang baik-baik. Waktu persalinan pun saya di dampingi bidan yang support juga apalagi pas melihat saya susah mengejan. Ada satu bidan yang saya kangenin. Saya nggak tahu namanya. Saya hanya mengingat muka putihnya dan tubuh gemuknya. Bidan yang satu ini membantu banget saat persalinan. Kaki lemas saya aman di pinggangnya. Ia juga yang membantu ObGyn menjahit luka saya sampai selesai. Orangnya juga supel dan suka bercanda sama ObGyn saya. Jadi suasana saat bersalin agak sedikit mencair. Ahhh… bidannya ngangenin. Tapi saya nggak pernah di kontrol oleh bidan ini selama di kamar perawatan. Cuman pernah sekali, itupun saat saya harus dirawat perihal fleg. Ia yang membantu pemasangan infus.

Yang Penting Nyaman

Ibu hamil bukanlah orang sakit jadi perlu mencari tempat bersalin yang membuat kita aman, nyaman, dan tenteram. Serta banyak berdoa agar saat persalinan kita benar-benar ditangani ObGyn yang sejak awal menangani kita. Ini menyangkut mental. Biar bagaimanapun kita pasti akan merasa aman jika ditangani dokter yang sudah mengetahui record kehamilan kita. Ada beberapa kasus yang memang tidak ditangani oleh ObGyn sendiri karena ObGyn cuti keluar kota atau ada tindakan dadakan di tempat lain. Ada juga beberapa kasus dimana ObGyn datang saat sudah lahiran dan tinggal “menjahit” saja. Tidak perlu menyalahkan ObGyn tersebut, hanya waktunya yang tidak tepat. Jadi perlu berdoa untuk waktu yang benar-benar tepat :).

Pada akhirnya semua kembali ke nyamannya masing-masing kita. Kalau sudah merasa cocok ya lanjutkan saja dan tetap berpikir positif.

Regards,

sans-sign

blog-spog