Menjadi ibu baru itu tidak mudah. Saya yakin semua ibu diluar sana akan berkata yang sama. Bahkan terus merawat, membimbing, menjaga, dan mengasuh anak hingga besar pun bukanlah perkara yang mudah. Saya mulai merasakannya. Hal yang saya rasakan paling berat sejak dua minggu menjadi ibu adalah mengambil keputusan. Apalagi yang dihadapi adalah seorang bayi yang belum bisa berkomunikasi secara verbal. Komunikasinya hanyalah melalui satu cara yaitu menangis. Semua yang diinginkannya hanyalah lewat tangisan. Lapar, buang air, kepanasan, kedinginan, tidak nyaman, sakit, bosan, ingin main, dan lain-lain pasti dikomunikasikannya melalui tangisan. Tangisan inilah yang membuat saya bingung menginterpretasikannya. Saya masih belum terlalu peka. Mengambil keputusan di tempat kerja jauh lebih gampang. Berhadapan dengan bos killer malah ngangenin di banding berhadapan dengan tangisan bayi yang belum sepenuhnya saya mengerti.

Namun sungguh saya tidak menyangka sampai kepada posisi ini, seorang ibu. Suatu hal yang luar biasa kompleks namun indah. Setiap kali menyusui saya hanya memandang wajah mungilnya dengan tersenyum. Tidak jarang setiap begadang saya berharap satu bulan pertama ini segera lewat. Tapi setiap melihat muka imutnya, saya tidak ingin waktu segera berlalu. Saya jadi teringat mama. Waktu saya kecil dahulu pasti mama juga merasakan tidak ingin anaknya cepat besar. Eh, tahu-tahu mama sekarang sudah punya cucu. Jadi kangen mama…

Dua minggu saya lalui, saya rasa cukup berat. Saya pernah menangis hanya karena melihat dedek menangis jejeritan tiap malam dan tiap dimandikan. Saya sangat khawatir terjadi apa-apa (ahhhh blame my sensitive side, i’m over sensitive). Saya pernah menangis hanya karena rewel dedek tidak kunjung reda saat ia menangis. Bahkan setiap kali melihat tanda-tanda akan menangis saya sampai deg-degan sendiri takut ia tidak nyaman dengan saya. Jujur pengalaman persalinan dan mengurus dedek di minggu-minggu pertamanya ini membuat saya sedikit trauma dan tidak ingin punya anak kedua dahulu dalam tiga tahun kedepan (bukan ingin mendahului Tuhan, tapi saat baru mau menikah dahulu, saya mempertimbangkan untuk punya dua anak dengan selang usia tiga tahun). Namun, jika nanti Tuhan berkehendak lebih cepat, saya hanya bisa berserah. Karena pasti semua berlalu atas pemeliharaan-Nya.

Sebenarnya saya cukup beruntung. Saya masih tinggal bersama mertua. Sejak melahirkan saya sangat diperhatikan dengan baik. Pasti banyak yang menyangka saya enak banget pasca persalinan. Pasalnya yang saya lakukan dirumah tidak banyak yaitu, memperhatikan dedek, cuci baju pakai mesin cuci (ibu mertua saya yang menjemur karena letak jemuran di lantai 2, saya belum diijinkan naik turun tangga sampai masa nifas berlalu), makan, mandi, beres-beres kamar, dan leyeh-leyeh. Tapi jujur dua minggu ini rasanya penuh. Saya nggak sempat ngeblog, baca buku, dan blogwalking. Apalagi dengan frekuensi ASI dedek yang makin sering dan lama membuat waktu sehari cepat berlalu. Leyeh-leyeh saya pakai untuk tidur persiapan begadang. Itupun tidak bisa nyenyak karena saya sensitif dengan suara dedek. Ada sedikit suara dari dedek, saya spontan terbangun. Kalau bangun spontan seperti itu pasti kepala saya pusing. Awal-awalnya siyh. Kesini mulai biasa, walau masih suka sedikit pusing.

Kalau siang hari saat si dedek bobo, saya ikut bobo. Tapi emang dasar nggak pernah tidur siang jadilah saya malah susah bobo. Kalau sudah susah bobo cantik siang-siang, saya browsing apa saja seputar bayi dan parenting. Bahkan saya jadi mengetahui beberapa perlengkapan bayi yang kekinian sepeti bedong instan, cup feeder, cloth diaper, bantal menyusui, dan lain-lain. Untuk browsing semua itu saja rasanya seharian nggak cukup. Apalagi hari ini. Sepertinya dedek saya sedang memasuki masa Growth Spurts. Dari kemarin malam rewel terus minta susu hampir setengah jam sekali sesudah mimik. Itupun menghasilkan popok yang harus diganti setiap saat. Baru sore ini dedeknya anteng (dan mamanya bisa melanjutkan postingan ini yang sudah dibuat sejak begadang semalam).

Saya sangat merasakan betapa lelahnya ibu-ibu diluar sana dari yang baru memiliki anak hingga yang sudah beranjak dewasa. Tapi kalau sudah menggendongnya rasanya semua lelah itu hilang. Saya masih suka mengingat-ingat momen dimana dedek lahir ke dunia. Momen itu yang selalu menguatkan saya saat merasa lelah karena kurang istirahat. Tidak jarang saya menyusui dedek sambil mengantuk. Namun saya berusaha keras agar saya selalu terjaga untuk dedek. Jujur adakalanya saya merasa kesepian (padahal banyak orang di rumah). Mungkin karena biasanya selalu berada di luar rumah dan tiba-tiba selama 40 hari masa nifas ini saya hanya harus berada di rumah (bahkan mungkin sampai cuti saya berakhir). Tapi balik lagi, melihat muka cantik dedek dan mengingat 5 Januari 2016 serta tentunya dibungkus dengan doa yang tidak putus-putusnya kepada yang Maha Kuasa menjadi kekuatan saya, walau kadang bercampur dengan tangisan.

Beberapa hari yang lalu saya menemukan gambar ini di share di FB ObGyn saya. Saya cukup dikuatkan dengan tulisan yang ada di dalamnya. Mudah-mudahan ini menguatkan untuk kita semua yang membacanya.

Pic. Courtesy of Facebook Madrasatun Nisa

Regards,

sans-sign

img_2723