Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: April 2015
Tebal Buku: 320 Halaman
ISBN13: 9786020314624
Rating SanWa: 5 of 5
Tanggal Mulai: 13 December 2015
Tanggal Selesai: 18 December 2015
Sinopsis buku:

“Apakah kau masih membenciku?”
“Aku heran kau merasa perlu bertanya.”

Lucas Ford pertama kali bertemu dengan Sophie Wilson bulan Desember pada tahun terakhir SMA-nya. Gadis itu membencinya. Lucas kembali bertemu dengan Sophie di bulan Desember sepuluh tahun kemudian di kota New York. Gadis it masih membencinya. Masalah utamanya bukan itu–oh, bukan!–melainkan kenyataan bahwa gadis yang membencinya itu kini ditetapkan sebagai tunangan Lucas oleh kakeknya yang suka ikut campur.

Lucas mendekati Sophie bukan karena perintah kakenya. Ia mendekati Sophie karena ining mengubah pendapat Sophie tentang dirinya. Juga karena ia ingin Sophie menyukainya sebesar ia menyukai gadis itu. Dan, kadang-kadang–ini sangat jarang terjadi, tentu saja–kakeknya bisa mengambil keputusan yang sangat tepat. 

Okelah ya… Gimana kalau kita habiskan dulu ini sampai nanti sore … #buku #membaca #metime pic.twitter.com/PsPAQE0qYq

— SanWa Journeys (@sandrinetungka) December 13, 2015


“Aku sudah menemukan tunanganmu!” (hlm. 11)

Bagi penggemar yang menyukai karya-karya Ilana Tan pasti tidak asing lagi dengan buku yang diterbitkannya di awal tahun 2015 ini. Saya termasuk penggemar karya-karyanya. Di buku terbarunya ini Ilana Tan hadir dengan kisah fiksi percintaan lainnya yang — lagi-lagi — mengambil settingan tempat bukan di Indonesia. Masih bertemakan cinta, Ilana Tan menyuguhkan dua tokoh dengan kisah cinta yang sebenarnya biasa dialami semua manusia namun dengan gaya yang berbeda.

“Katakan padaku, bagaimana tunanganku mendadak bisa berubah menjadi kekasih orang lain?” (hlm. 88)

In a Blue Moon merupakan kisah roman yang menceritakan bagaimana dua insan yang pernah bersinggungan dengan tidak cukup baik dimasa lalu “dipaksa” bertunangan oleh sang kakek dari si tokoh utama pria. Maksudnya memang bukan berarti dipaksakan siyh ya. Tapi layaknya cerita jaman dahulu, sang kakek ingin sekali menjodohkan cucu lelaki satu-satunya dengan cucu dari sahabat baik kakek tersebut. Namun tidak disangka-sangka setelah pertemuan awal mereka, baru sama-sama tahu bahwa Lucas Ford–tokoh utama pria–adalah orang yang sangat dibenci Sophie Wilson–tokoh utama wanita–sejak masih duduk dibangku SMA.

Sepanjang perjalanan dari cerita dikisahkan bagaimana Lucas Ford justru tidak menyerah. Pantang menyerah nya pada awalnya didorong hanya karena ia ingin dimaafkan dan ia ingin menunjukkan bahwa ia bukan lagi pria SMA ingusan yang pernah menyakiti wanita. Ia ingin menunjukkan bahwa ia sudah berubah. Namun rasa itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih. Sebagai pria dewasa ia ingin menjadi pilihan masa depan Sophie Wilson seperti yang menjadi keinginan kakek Lucas. Akankah Lucas berhasil?

“Baiklah. Tidak apa-apa. Aku tidak takut mendapat saingan, asalkan aku mendapat kesempatan yang sama seperti yang dia dapatkan.” (hlm. 179)

Hhhh… Gaya penuturan Ilana Tan selalu membuat saya jatuh cinta dengan pemeran tokoh utama pria. Saat membaca buku ini saya merasa sedang menjadi Sophie Wilson!!! Hahahaha terlihat sangat lebay namun saya mempunya habit seperti itu. Ketika terhanyut oleh cerita yang saya beri nilai 5 pastilah itu ketika saya merasa diri saya si pemeran utama itu sendiri. Ilana Tan salah satu yang membuat saya selalu memberikan nilai 5 pada cerita-ceritanya. Sebenarnya kisah ini kisah cinta biasa–seperti yang sudah saya tuliskan diatas–namun hey, it can happen to us.

“Kau mungkin tidak sempurna, tapi kau sempurna untukku.” (hlm. 231)

Kita memang bukan sedang berada di jaman siti nurbaya dimana banyak kisah-kisah perjodohan yang dipaksakan harus terjadi (jaman sekarang ini pun di beberapa daerah terpencil masih ada saja kisah-kisah perjodohan yang bahkan memilukan), namun masih ada saja orang tua yang mempunyai keinginan menikahkan keturunannya dengan orang yang dekat dengan mereka, sama seperti dalam buku ini. Tapi buku ini tidak mengisahkan pilunya perjodohan. Buku ini mau memberikan gambaran bahwa tidak selamanya perjodohan itu berakhir pilu. Ia bisa berakhir sempurna layaknya Bulan Biru.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam kisah ini pun tidak terlalu banyak. Namun yang pasti memakan ruang tempat kisah selain kedua tokoh utama adalah sang kakek dari tokoh utama pria dan beberapa sosok yang menjadi peran “kedua” atau penghambat bagi kisah cinta tokoh utama. Pastilah ya, biasanya konflik-konflik percintaan justru hadir dari orang-orang terdekat tokoh utama yang menjadi penghambat. Saya tidak bilang pengganggu karena di kisah ini menurut saya mereka bukanlah pengganggu sama sekali. Justru itu lumrah terjadi pada kisah cinta manapun misalnya seperti mantan yang selalu membayangi pasangan kita…. eyaaaaaaa.

“Aku bersedia melakukan apa pun agar kau tetap berada di sisiku, bersamaku, selama kau juga menginginkan hal yang sama.” (hlm. 289)

Mengenai Ilana Tan itu sendiri, ia benar-benar novelis yang misterius. Saya tidak menemukan biografi singkatnya di dalam bukunya sekalipun. Mencari-cari di beberapa situs pun nihil. Saya pun tidak yakin akun-akun sosial media yang bernama dirinya itu merupakan akun asli dari sang pengarang. Intinya pengarang ini misterius. Tidak ada yang tahu apakah ia seorang wanita atau pria. Tebakan saya siyh dari gaya bertuturnya adalah wanita. Yang membuat ini bertambah misterius adalah cerita-ceritanya rata-rata memiliki settingan di luar negeri tapi tetap meninggalkan ciri khas Indonesia.

Saat membaca bukunya pun saya seperti merasa membaca buku-buku terjemahan. Pemilihan kata-katanya selalu apik dan dengan ejaan yang benar, tidak ada pemilihan kata-kata slang Indonesia. Intinya siyh ya sampai sekarang saya belum pernah tahu seperti apa sosok Ilana Tan ini. Bahkan di film adaptasi dari buku pertama nya sendiri pun saya tidak menemukan “jejak” biografi sang novelis misterius ini. Siapapun dia, saya tetap terinsipirasi dengan semua tulisan-tulisannya. Bagaimana denganmu? Apakah menyukai juga kisah-kisah Ilana Tan?

“Aku hanya ingin ketika aku mengatakannya, dia adalah orang pertama yang mendengarnya.” (hlm. 311)

Regards,