Merah Meriah di Borobudur

Januari 2014

Melanjutkan kisah perjalanan rekan sekerja menyusuri Jogja dan Dieng, teman dalam rombongan saya ingin sekali pergi ke Candi Borobudur. Saya pribadi sebenarnya tidak ingin, berhubung saya sudah pernah kesana sebelumnya. Bukan karena saya tidak suka, namun saya ingin sekali merasakan tempat-tempat wisata menarik lainnya di Jogjakarta yang belum pernah saya kunjungi. Namun, demi teman kami ini yang katanya, “belum ke Jogja kalo belum ke Candi Borobudur,” akhirnya saya mengalah. Ya hitung-hitung, itu kali pertama saya menikmati Borobudur bersama pacar :D.

Baca Juga: Menyepi di Pinggir Pantai Ngandong

Di hari kedua perjalanan kami, pagi-pagi kami langsung check-out dari tempat kami menginap. Hari kedua ini akan kami habiskan di Candi Borobudur dan langsung melanjutkan perjalanan ke Dieng. Saya dan mamas sepakat memakai baju couple yang baru saja kami beli malamnya bernuansa merah. Biarlah dikata alay tapi kami happy, pasalnya kalau buat berfoto dan doyan narsis, menggunakan pakaian berwarna terang akan membuat foto terlihat berwarna, ahahahaha *alesan.

DSC_0040_3

Niat kami untuk mencapai Borobodur pagi hari agar terhindar teriknya matahari, tapi tetap aja ya matahari bersinar mengacaukan sistem-sistem saraf di kepala, alias puciiinngggg pala balllbbbiieee. Sudah pakai topi pun tak mempan. Mau pakai payung kok ya ribet banget bawa-bawanya. Sampai disana saya langsung terbuai dengan emosi jiwa. Benar ya darah sensitif saya naik, dan mamas lah sasarannya.  Mana kita itu kan pakai merah-merah juga, ughhh kayaknya saya tambah emosian aja. Dikit-dikit ngomel, dikit-dikit ngomel. Rupanya mamas pun sama. Itu kan panasnya terik banget yes, mamas itu juga akhirnya kayak orang malas-malasan. Pengennya berteduh mulu. Intinya siyh baru sampai sana, saya udah drama aja sama siyh mamas. Ngider-ngiderin candi tapi nggak ada yang konsentrasi. Sudah gitu, stupa-stupa yang diatas di puncaknya Borobudur itu lagi dari dalam tahap pemugaran. Jadi kita nggak bisa foto-foto disana. Ya, tambah emosi lah saya. Udah jauh-jauh lah nggak bisa narsis juga. Kalau kedua teman saya yang lain mah udah nggak tahu dimana itu. Pada ngider sendiri-sendiri dan cari spot asyik sendiri-sendiri 😀

DSC_0020_8

Akhirnya setelah setengah jam emosi jiwa, saya berhasil berteduh. Jiwa saya pun ikutan teduh. Saya sama mamas maaf-maafan karena saling ngomel satu dengan yang lain. Ahahaha, kalau diinget itu konyol lah ya. Niat mau foto-foto asyik eh malah berantem. Memang efek kemeriahan si merah kali ya. Menutup edisi perjalanan di Candi Borobodur, saya dan mamas kemudian mencari spot asyik untuk berfoto-foto lagi. Rugi lah ya, udah pakai merah-merah eh terus nggak ada foto-foto seru gitu. Kami memang tidak berniat mencari tahu tentang sejarah Borobudur dan plis jangan tanya apapun tentang sejarah candi tersebut. Yup, saya hanya tertarik untuk foto-foto disana terus di posting di social media biar dikata exist (walau akhirnya saya nggak jadi posting juga, sayang kuota, hahahaha). Kan jaman itu lagi booming-boomingnya update foto traveling.

Beberapa spot foto asyik di Borobudur, walaupun dibawah panas terik, mau selfie, wefie, atau sekadar foto tempatnya saja (saya yakin ini siyh sudah pada tahu semua lah ya, anggap saja sebagai pengingat):

  1. Foto dekat stupa
    DSC_0038_5  DSC_0036_4
    .
  2. Foto pemandangan kehijauan
    DSC_0023_7
    .
  3. Loncat-loncatan di padang hijau
    DSC_0056_2
    .
  4. Foto batu peresmian
    DSC_0032_6   DSC_0034_3
    .
  5. Foto tempat wisata beserta keramaiannya
    DSC_0013_6
    .
  6. Foto pakai pakaian atau aksesoris warna-warni cerah meriah seperti payung rainbow
    Saya tidak berfoto dengan properti ini karena seperti yang saya bilang sebelumnya, ribet banget bawa-bawa payung. Tapi di perjalanan ke Borobudur pertama yang saya pernah lakukan kurang lebih 4 tahun silam, saya sempat berpose menggunakan payung warna-warni ala pelangi. Dan itu menambah kecerahan dan keceriaan foto. Apalagi jaman dulu itu belum ada smartphone canggih dengan filter-filter foto yang menarik. Jadi cuman pakai kamera biasa saja membuat hasil foto menggunakan aksesoris warna-warni menjadi hidup

Cara foto asyik saya kayaknya standar banget ya?? Saya memang kurang kreatif (:D) dan tidak fotogenik. Namun foto-foto seperti itu saja sudah membuat saya bahagia. Intinya pakai merah juga bisa bikin meriah di sana. Kalau kamu, foto asyik seperti apa yang selalu dilakukan saat traveling?

Regards,

sans-sign

DSC_0043_4

30 thoughts on “Merah Meriah di Borobudur

  1. Eow,,, ini ceritanya,,, gara – gara memakai merah, terus kepanasan, lalu marah – marah dan kemudian baikan yaw kak?,,, seperti film aja. hehehe. Tapi ceritanya tetep keren, natural apa adanya

  2. Kalo udah panas, gerah, sumuk, bawaannya emang gampang kesel mba. Pengennya maraaah gitu hahaha, pergipun jadi gak enjoy deh. Biasanya kalo kayak gitu aku buru2 melipir cari cafe adem terus pesen minuman dingin 😀

  3. Hahahah haduuuh gara-gara panas jadi sensi dan berantem. Duh roomantisnya. \:p/
    Anyway, salam kenal yaa baru pertama nih mampir di blog ini. Sanwa yaa.

    ((abis komen baru sadar kalo Sanwa ikut KEB, kirain masih belia)). Maafkan saya yang lancang ini mak Sanwa. Hehehe.

  4. San, aku 2014 Agustus juga ke Borobudur sama Suami. Honeymoonan kami waktu itu. Sempat emosi waktu suami ditawarin caping harga 20rb trus main beli aja bukannya ditawar dulu. Aku ngomel sampai ke atas. Eh ternyata diatas panaass banget, lengket, keringetan, makin emosi jiwa. Sama kayak ceritamu ini hahaha

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.