Sebagai ibu hamil yang sedang hamil tua, saya memendam hasrat dan keinginan saya untuk melakukan perjalanan kemanapun. Bukan berarti tidak boleh, namun saya lebih berjaga-jaga dan berhati-hati menjaga kandungan dan si buah hati yang kami nanti-nanti sejak menikah. Ditambah lagi memang tidak nyaman juga berpergian apalagi yang jauh. Saya pengennya di rumah terus supaya bisa tidur dan selonjoran. Untuk memuaskan keinginan, saya teringat oleh beberapa cerita perjalanan yang belum pernah saya bagikan padahal perjalanan ini sudah berlangsung bertahun-tahun yang lalu.

Saya teringat pengalaman pertama saya melakukan Cave Tubing. Dulu, tahun itu, melakukan Cave Tubing di Goa Pindul memang sedang ngetrend-ngetrend-nya. Sekarang pun saya masih suka melihat beberapa cerita perjalanan kesana. Saya bersama suami saya (yang kala itu masih menjabat sebagai pacar)– kita sebut saja dia si mamas, dan kedua teman kerja kami ingin menghabiskan awal tahun dengan menyusuri Jogja dan Dieng (baca kisah menyusuri Dieng disini). Tepat di hari Kamis, 2 Januari 2014, kami berempat menjejaki stasiun Tugu Yogyakarta pada pukul 5.30 pagi. Rasa lelah dan gairah bercampur jadi satu. Dimulailah perjalanan kami menyusuri Jogja dan Dieng ini selama 3 hari kedepan. Hari pertama kami habiskan dengan menikmati wisata yang ada di daerah Gunung Kidul.

Saat sedang menunggu mobil yang akan menjemput kami, kami bertanya-tanya tentang Goa Pindul kepada pemilik Munajat Backpacker di Malioboro tempat kami menginap. Ia bercerita banyak dan persis seperti yang kami lakukan sesudahnya bahkan memberikan nomor telepon PIC wisata di Goa Pindul yang terpercaya sehingga kami tidak salah langkah. Pukul 8 pagi perjalananpun dimulai. Ditemani dengan bapak Duloh, driver yang kami sewa untuk perjalanan kami selama di Jogjakarta, kami pergi ke Goa Pindul. Jangan tanya apa yang kami lakukan selama perjalanan, karena yang kami lakukan hanya tertidur, menyantap kudapan, turun mencari toilet, lalu kembali tertidur.

Memang wisata ke Goa Pindul ini banyak ”perangkap” nya kalau saya bisa bilang begitu. Mengapa? Saya sering kali tertipu dengan billboard ”jasa antar Goa Pindul” ditengah jalan menuju Desa Bejiharjo. Berulang kali saya bertanya pada pak Duloh apakah kita sudah sampai atau belum. Dengan tenang, singkat, dan logatnya yang khas beliau selalu menjawab, ”belum, masih jauh banget”. Setiap bertanya seperti itu dan mendengar jawabannya saya selalu bingung tidak puas dengan jawabannya. Kok ya bisa jauh banget tapi billboardnya sudah dimana-mana. Namun memang kok perjalanannya terkesan tiada akhir. Kok, tidak sampai-sampai.

Akhirnya jawaban saya temukan bahwa itu hanyalah tempat untuk menghantar ke agen-agen wisata di Goa Pindul dan mereka akan mencharge kita mahal hanya untuk mengantar kita ke agen-agen tersebut. Apalagi kalau jaraknya jauh. Pak Duloh dengan PD-nya berkata, ”Saya sudah tau kok dan sudah sering kesana, ngapain pakai jasa seperti itu. Akan bikin mahal mas-mas dan mba-mba nya saja. Cuman ya ngga enaknya ngikutin kita dari belakang kalo ketika kita dicegat dan kitanya nggak mau. Suka bikin kagok.” Dan benar saja terjadi, mobil kami sempat diikuti sehingga membuat pak Duloh kagok dan terlewat di salah satu persimpangan. Tak lama kemudian sampailah kami di Agen Wira Wisata milik bapak Haris.

Kami turun dari mobil, berjalan ke bagian pendaftaran, diberi pengenalan wisata secara singkat dan memutuskan mengambil dua perjalan yaitu Cave Tubing di Goa Pindul dan Rafting di Sungai Oyo. Saat itu kami membayar Rp. 85000,- untuk menyusuri dua dari tiga wisata yang disediakan. Kami mengganti baju senyaman mungkin dan menunggu untuk dipanggil.

Tak lama kemudian perjalanan dimulai, ditemani pak Yus pemandu kami, kami menyusuri Goa Pindul dengan menggunakan ban bulat (ya pasti bulat ya). Sebelum memulai perjalanan kami di breifing dan melakukan doa bersama. Wew saya cukup tegang sesungguhnya… 😀

Memasuki pintu masuk Goa Pindul ternyata antrian ban sudah mengular. Ya memang siyh itu karena kita memilih tanggal yang memang merupakan tanggal liburan panjang awal tahun. Otomatis banyak yang berwisata kesana. Owh dan satu lagi, air sungainya berwarna cokelat. Itu karena kami datang dimusim penghujan sehingga tanah-tanah disekitar pada becek dan tentunya mempengaruhi air sungai tersebut.

Tanpa berpanjang lebar, sedikit foto-foto selama kami di Goa Pindul.

 

  

Fakta menarik dari Goa Pindul:

  1. Saat mau memulai perjalanan, akan disuguhkan nyanyian dangdut oleh organ tunggal dan penyanyinya lengkap dengan panggung dangdutannya. Kesannya lagi ada konser mini dan para penyanyi ini menunggu di sawer. Saya bertanya-tanya adakah yang saweran dulu sebelum nyebur ke sungai?? ^^
  2. Goa Pindul memiliki 3 zona yaitu Zona Terang, Zona Gelap, dan Zona Gelap abadi. Awalnya ketika di briefing pemandu kami bilang bahwa kita akan benar-benar gelap-gelapan tanpa sedikit cahayapun. Tapi ternyata kenyataannya senter yang dibawa pemandu tetap saja dinyalakan. Apalagi antrian yang mengular itu tentu banyak yang bawa senter juga.
  3. Stalaktit di Goa tersebut banyak yang masih aktif. Bahkan ada (saya lupa namanya apa) yang mengeluarkan tetesan air yang konon dapat membuat wanita yang ditetesinya awet muda. Saat itu saya terkena tetesannya ditangan kanan. Apakah artinya hanya tangan kanan saya saja yang awet muda??? ^^
  4. Tidak mau kalah, disana pun ada batu yang jika disentuh oleh pria akan membuat pria tersebut makin perkasa. Si mamas dan kawan saya menyentuh batu tersebut. Lalu??? Hmmm… No comment lah ya.
  5. Di tengah-tengah kawasan goa ada tangga. Katanya itu tempat penjagaan. Namun banyak burung yang mengarah kesana. Rupanya itu burung-burung walet dan mereka bersarang di tempat penjagaan tersebut.
  6. Tidak hanya ada burung walet disana. Kampret alias kelelawar pun banyak. Tapi seperti yang kita ketahui, kalau siang hari justru mereka tertidur jadi bisa melihat rupanya yang bergelantungan disinari sinar senter. Okey, melihatnya saja membuat saya merinding seakan-akan para kampret tersebut kalau dilihat lama-lama akan berubah jadi drakula.
  7. Bagi pencinta foto narsis kayaknya perlu bawa kamera yang anti air namun dengan resolusi tinggi dan pencahayaan yang bagus dari kameranya soalnya gelap, mau foto-foto apa. Saya pun hanya mengandalkan kamera smartphone biasa dan yap hasilnya gelap-gelap ngeblur.

Terus kesan saya apa dong? Jujur sedikit membosankan siyh buat saya karena gelap. Hahahaha. Kalau gelap-gelap gitu justru membuat saya ngantuk :D. Udah gitu airnya pun bikin sekujur badan saya gatel-gatel karena cokelatnya. Saya tidak tahu sekarang goa pindul seperti apa. Apakah masih seperti yang saya tuliskan diatas?

Ahhhh, biarpun begitu, perjalanan ini ngangenin… Sedikit-sedikit berfoto… Sedikit-sedikit narsis. Pastinya selalu meminta tolong pak pemandu yang mengambil gambar. Maklum waktu itu tongsis belum in. Beruntungnya pak pemandu ini bagus mengambil gambarnya.

Regards,

sans-sign

NB: Sedikit melakukan sensor karena satu dan lain hal dengan yang gambarnya ikut diambil 🙂