Kalau seandainya kita ‘dikurung 1 minggu’ dalam satu kamar yang hanya berisi tempat tidur dan toilet lalu kita hanya diizinkan untuk memilih salah satu dari kedua jenis barang ini yaitu antara satu rak penuh berisi buku dan satu televisi lengkap dengan pemancarnya, manakah yang akan kita pilih? Serak Buku atau Seset TV? Membaca atau menonton?

Kalau saya sudah pasti akan memilih satu rak penuh buku. Mengapa? Karena lebih suka membaca ketimbang menonton. Eit, bukan berarti saya anti film-film bagus. Biarpun saya suka membaca, saya termasuk seorang movie freak. Sedikit saya flashback kehidupan saya ke belakang, kalau saya petakan ada musim saat saya hanya menyukai kegiatan membaca saja, kemudian dimusim berikutnya menyenangi kegiatan menonton, lalu berikutnya berulang lagi.

 membaca

Musim pertama saya dimulai sejak saya SMP. Ini pertama kali saya sangat senang dengan salah satu kegiatan diatas, yaitu membaca (kalau zaman SD yang saya senangi hanya bermain bersama tetangga, saya belum senang dengan yang namanya membaca ataupun menonton). Semasa SMP saya senang dengan yang namanya perpustakaan. Itu karena pengaruh teman saya yang selalu meminta saya untuk menemaninya pergi ke perpustakaan sekolah. Saya tidak menolak untuk menemaninya karena perpustakaan itu adalah tempat yang paling tidak bising dan paling adem karena sedikit orang didalamnya. Lama kelamaan saya tertarik melihat buku-buku yang dipinjam teman saya yang selalu meminjam novel dan mulai merasa ‘kepo’ seperti apa rasanya membaca.

Lama kelamaan saya mengikuti jejak teman saya dengan meminjam novel serial Malory Tower karangan Enyd Blyton dalam bahasa Indonesia. Awalnya memang membosankan karena kegiatan membaca itu lama, namun jenis ceritanya yang menarik membuat saya terus membaca walau perlahan. Lama kelamaan saya malah membaca, membaca, dan membaca terus. Semua buku novel di perpustakaan saya pinjam tanpa jeda. Bahkan di kelas dua saya mulai berani meminjam novel berbahasa Inggris karena stok novel bahasa Indonesia sudah habis (selain itu memang saat itu saya sedang les bahasa Inggris dan dituntut membaca yang banyak untuk latihan). Dikala itu juga teman saya yang lain memperkenalkan saya dengan komik dan saya jatuh cinta dengan segala jenis komik yang direkomendasikannya dan dipinjamkannya.

Masuk bangku SMA, kecintaan saya akan membaca masih sama semangatnya. Pertama kali masuk kelas (seusai MOS tentunya) yang saya cari pertama kali adalah perpustakaannya. Namun saya sedikit kecewa, tidak banyak pilihan novel (apalagi komik) disana. Saya pun bisa katakan saya belum menjadi penggemar buku-buku motivasi ataupun autobiografi, apalagi buku pelajaran sekolah, hehehe. Dengan sedikit kekecewaan tidak lama kemudian saya ‘bertemu’ dengan tempat rental yang penuh dengan novel dan komik sejalan pulang ke rumah. Dengan berbekal tabungan dari uang jajan harian saya, paling nggak saya bisa meminjam minimal satu~dua novel atau beberapa seri komik untuk dibaca dalam seminggu.

Bagaimana dengan menonton kala SMP? Nah, disini saya mulai menyenangi kegiatan menonton (walaupun tidak terlalu) karena terpengaruh teman-teman sekelas yang kala itu gemar dengan anime dan film-film dorama Jepang. Berhubung saya getol baca komik-komik terjemahan jepang jadilah saya suka pantengin TV (biasanya di hari Minggu pagi) untuk nonton anime. Lalu dikala SMA mulai merambah ke dorama Jepang yang kala itu sedang semarak di layar kaca. Kalau masalah nonton bioskop saat itu belum terlalu saya gemari karena tidak pernah ada yang mengajak, maklum belum punya pacar :D. Cuman dulu bela-belain harus nonton film yang diadaptasi dari novel yang sedang in. Siapa yang ingat “Eiffel I’m In Love” dan “Dealova”?? 😀

Masuk Kuliah, kegiatan membaca saya justru merosot baik itu novel ataupun komik. Saya makin menyenangi kegiatan menonton apalagi seri drama korea. Zaman itu lagi yang lagi “in” adalah kdrama Full House dan Princess Hours. Jadi yang saya lakukan saya hunting DVD dari nyelengin uang jajan saya atau tukar-tukaran sama teman kuliah. Saya pun makin menyenangi dan mencari kdrama lainnya termasuk kmovie. Seiring berjalannya waktu karena suka mampir toko DVD, saya sering ditawari film-film movie dan serial barat yang berbau-bau remaja. Ehhhh malah keterusan sampai saya lulus. Saya masih jarang nonton bioskop tapi kalau sudah hunting DVD bisa kalap setengah mati.

Ketika sudah menginjak dunia perkantoran, di tahun-tahun pertama saya bekerja, saya masih menyenangi kegiatan menonton ini seakan-akan saya lupa bahwa saya dulu pernah punya hobi membaca. Saya jarang sekali beli buku dan sekalinya beli itupun karena terpengaruh film adaptasi yang ngetop saat itu yaitu “Twilight”. Sebagai pekerja kantoran baru, gaji saya kebanyakan dipakai untuk beli film-film baru dan bela-belain beli modem internet supaya bisa download serial korea terbaru dengan cepat tanpa menunggu lama. Semalam-malaman saya biarkan laptop dan modem saya menyala demi tontonan baru setiap harinya. Kerjaan pulang kantor ya langsung ngendon dalam kamar dan putar film. Atau bisa ngendon di kamar tetangga kos untuk menikmati kdrama bersama. Dengan teman kantor pun kerjaannya tukar-tukaran DVD korea baru 😀 :D. Intinya saya beneran “kdrama freak” banget saat.

Namun, semenjak saya–akhirnya–memiliki pacar lagi, kegiatan nonton kdrama ataupun film-film remaja mulai berkurang karena pasangan saya itu tidak suka film-film seperti itu. Cheesy dan melow katanya, cengeng (ya, namanya juga pria). Namun film-film action barat terus ditonton karena hanya itu kesamaan kami. Kami lebih sering nonton bioskop dan saya jadi lebih sering mengunduh action movie terbaru. Saya hanya mempertahankan beberapa serial barat untuk sesekali saya tonton di tengah perjalanan ke tempat kerja lewat MP4 abal-abal saya. Selebihnya saya terbuai dengan manisnya masa pacaran, ehehehehe. Uniknya ditengah masa pacaran ini, saya kembali menyenangi kegiatan membaca namun tidak terlalu sering. Saya mulai menyenangi buku-buku self motivation dan beberapa jenis buku non-fiksi. Saya mulai kembali mengunjungi perpustakaan umum untuk menyewa komik ataupun novel (beruntungnya saat itu saya nge-kost di daerah yang dekat sekali dengan rental buku besar di Margonda Depok).

Sesudah menikah, rupanya kegiatan menonton film ini mulai tergerus. Saya dan pasangan hanya sesekali menonton kalau ada film yang bagus. Justru malah saya mulai semangat lagi untuk membaca. Tapi namanya juga sudah lama tidak menyentuh buku, ritme membaca saya kembali pelan layaknya orang yang baru mulai hobi membaca. Saya pun sudah tidak suka lagi baca komik. Lama kelamaan saya sering membeli e-book dan sesekali membeli buku (okey, harga buku-buku ini semakin mahal saja… -__-) namun seringnya saya tumpuk buku-buku tersebut karena saya terlalu lelah untuk membaca setelah melalui hari-hari melelahkan di tempat kerja.

Akhirnya sesudah saya mengandung (bisa baca di artikel ini), kecepatan membaca saya meningkat pesat, apalagi semakin banyak film-film yang diadaptasi dari sebuah buku. Itu membuat saya semakin ingin melahap buku dengan cepat sebelum menikmati film-nya. Namun, kegiatan menonton saya yang sebaliknya merosot. Ini karena film-film box office tidak setiap saat keluar. Acara di televisi pun membuat saya semakin ilfil dengan kegiatan ini. Bukan ingin menjelek-jelekkan tayangan TV (entah itu entertainment ataupun berita-berita politik) tapi kok makin kesini makin kayak dagelan yang jayus buat saya. Saya seperti tidak mendapat manfaat apa-apa, tidak seperti saya kecil dahulu yang masih banyak acara cerdas cermat di TV, kuis-kuis yang membangun pengetahuan tentang negara ataupun dunia, ataupun film-film pendek yang mendidik keluarga. Saya pun bertekad

Jadi fix, sesudah cerita panjang lebar diatas, saya pasti akan memilih satu rak buku penuh untuk menemani saya terkurung dalam kamar selama seminggu. Ya, kalau tidak lagi membaca palingan saya tidur 😀 :D. Kalau kamu, pilih yang mana hayo??

Regards,

sans-sign

membaca