Judul: Rumah Cokelat
Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Buah Hati
Tahun Terbit: Maret 2012 [Cetakan Ketiga]
Tebal Buku: 226 Halaman
ISBN: 6028663743 (ISBN13: 9786028663748)
Rating SanWa: 4 of 5
Tanggal Mulai: 25 Mei 2015
Tanggal Selesai: 28 Mei 2015

“Razsya sayang Mbak Upik…” Tiba-tiba seuntai suara halus mengusik momen tersebut.

Rumah cokelat adalah salah satu buku Sitta Karina yang sejak tanggal terbit pertama kalinya saya lewatkan. Mengapa? Karena saat itu saya masih doyan baca buku bagi wanita yang belum menikah dan penuh romantika. Namun ketika Senin yang lalu saya sedang berjalan-jalan di toko buku, saya tergelitik melahap buku Fiksi yang masuk genre momlit kependekan dari mom literature yang mengisahkan kelumit wanita-wanita muda dalam kehidupan rumah tangganya.


Rumah Cokelat sendiri mengisahkan bagaimana seorang ibu muda dengan karier gemilang diperhadapkan dengan hebohnya kehadiran si buah hati yang menginjak usia batita. Dikisahkan seorang ibu muda bernama Hannah Andhito istri dari seorang pria tampan dan sosok suami ideal bernama Wigra Andhito yang memiliki anak bernama Razsya. Hannah merupakan gimmick dari tipikal ibu-ibu muda jaman sekarang ini yang bekerja di kerasnya kota metropolitan seraya mengurus keluarga barunya. “Jadi ibu muda bekerja di Jakarta tidak mudah!”

“… Semakin lama aku manfaatin me-time, semakin akrab Razsya dengan Upik. To be honest, that newfound fact is tearing me inside.”

Cerita ini diawali dengan kenyataan pahit bahwa suatu kali Razsya bergumam didalam mimpinya bahwa ia menyayangi Mbak Upik, pengasuhnya selama Hannah, sang ibu, bekerja. Kontan ini merupakan mimpi buruk bagi Hannah. Ia mengalami dilema antara karirnya, passion-nya, dan keluarga kecilnya ini. Kenyataan pahit ini diperparah dengan kerinduannya untuk “bersenang-senang” seperti masa lalunya, saat-saat ia masih melajang.

“Aku nggak ingin Razsya mengenal kita hanya sebagai orang yang ngasih makan dan ngebeliin mainan saja, Wigra. Aku ingin Razsya tahu bahwa kita juga ada disitu karena sayang sama dia, karena ingin bermain bersama dia.”

Namun rupa-rupanya, dilematis ibu muda ini tidak hanya sebatas itu. Makin hari ia makin merasakan banyak goncangan dalam keluarganya, dimulai dari ibunya sendiri, pikiran-pikirannya yang makin penat, hingga sahabatnya sendiri. Ia merasa harus memutuskan apakah ia memilih untuk memenangkan dirinya sendiri ataukah memenangkan keluarganya. Jadi apakah keputusan Hannah? Langsung baca aja ya… ­čÖé

Sesudah membaca buku ini, terus terang saya jatuh cinta. Mengapa? Karena saya sebagai calon ibu muda saat ini punya dilema yang sama seperti Hannah. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil untuk membina rumah tangga saya sendiri dari peristiwa yang dialami keluarga Hannah. Saya menyadari setiap orang memiliki jalanya sendiri dalam membina rumah tangga. Tapi belajar dari kisah orang lain walaupun itu fiktif akan dapat menjadi jalan untuk introspeksi diri dan keluarga.

Selain itu saya selalu jatuh cinta terhadap buku-buku karangan Sitta Karina. Sebut saja Lukisan Hujan dan serial Hanafiah lainnya yang sukses mencuri hati saya sejak saya masih duduk di bangku SMA. Bayangkan, hampir 10 tahun berlalu namun gaya cerita Sitta Karina selalu pas dalam pandangan saya.

Terlepas dari keprofesionalan Sitta Karina menulis, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dinikmati terkhususnya bagi ibu ataupun calon ibu muda terutama yang sedang mengalami balada rumitnya mengarungi rumah tangga baru. Selamat membaca!!

Regards,









NB: Review ini juga disubmit untuk Lucky No.15 Reading Challenge.