Jalan-jalan ke Hong Kong-Shenzhen-Macau – Hari 2

Masuk di hari kedua perjalanan bulan madu kami. Kalau mengikuti draft itinerary kami, hari kedua ini diisi dengan mengunjugi Ngo Ping di setengah hari pertama lalu di lanjutkan ke Disneyland di setengah hari sisanya. Tapi apa daya, kami terlalu terlena dengan kamar luas L’hotel Elan ini sehingga kami baru bangun pukul 8 pagi. Tidak terlalu bersalah banget siyh karena artinya di Jakarta baru pukul 7 pagi. Lagian kita lagi liburan kan ya. 😀

Karena bangunnya tidak pagi lagi, ditambah kami menghabiskan waktu siap-siap yang sangggaaattttt lama, kami baru turun breakfast pukul 09.30. Ini menyebabkan jadwal kembali mundur. Saat resto breakfast tutup 10.30 kami baru beranjak naik lagi ke kamar untuk siap-siap melancong. Sampai kamar kami teringat bahwa kami butuh menukar HKD terlebih dahulu. Karena kami tidak ingin menukar dengan rate yang tidak bagus, kami langsung mengontak teman kami yang sedang tinggal dan bekerja di Hong Kong. Sekalian ingin bertemu akhirnya kami merombak itinerary hari kedua kami. Jadwal hari ke-2 kami hanya akan diisi dengan pertemuan dengan teman kami lalu dilanjutkan dengan menghabiskan hari di Disneyland.

 

Reuni di Negeri Orang

Tepat pukul 12.00 siang, kami baru keluar hotel. Kami janjian dengan teman kami pukul setengah 1 siang di depan pintu keluar MTR causeway bay Forever 21. Disini sempat terjadi miskomunikasi. Saya pikir teman saya akan langsung datang tanpa tunggu saya menghubunginya berhubung saya tidak pakai paket internetan apapun–kami benar-benar fakir wifi disana. Sampai pukul satu menunggu di depan Forever 21 sekalian ngadem tidak terlihat tanda-tanda teman kami. Akhirnya saya inisiatif cari wifi ke salah satu pusat perbelanjaan disitu, Hysan Place. Ternyata teman kami memang menunggu kabar dari kami.

Lima menit kemudian teman kami langsung muncul. Saya sampai kaget sendiri memang sedekat itu kedutaan besar Indonesia dari stasiun MTR Causeway Bay ini. Berhubung kami lapar–padahal jam setengah 11 baru selesai makan pagi, hwehehe–kami langsung diajak kesalah satu restoran favorit disekitar situ, namanya Mackie Kitchen. Ini jenis restoran kecil yang saya suka lihat di film-film orang barat dan yang saya idam-idamkan untuk kunjungi. Kesampaian juga :D.

Pada saat kami sampai, restorannya penuh sehingga kami perlu antri diluar pintu restoran. Walaupun udara panasnya menyengat, demi bisa mencoba masuk restoran kecil itu ya saya jabani. Kurang lebih 10 menit kemudian kami dapat tempat duduk dan langsung memesan makanan. Restoran ini menyajikan menu western. Bentuk menunya berupa halaman standar dengan karton yang di laminating. Saya lupa nama makanan yang saya pesan. Yang saya ingat saya dan teman pesan seperti fish and chips menggunakan mashed potato dilengkapi sayur-mayur wortel, jagung, kacang polong. Menurut teman kami, ini adalah makanan bestseller di Mackie Kitchen. Porsinya pun besar.  Kalau suami saya memesan–maaf–sejenis pork steak memakai nasi putih–namanya juga asli Indonesia, nggak makan nasi nggak nampol :D.

Memesan makanan ditempat ini bentuknya paketan. Yang tertera di menu hanya main course tapi isinya banyak terdiri dari appetizer, main course, dan desert. Keluarnya makanan pun pastinya ala ala western. Mereka akan menyajikan appetizer terlebih dahulu, setelah habis baru akan mengeluarkan main coursenya lalu terakhir desert. Untuk appetizer saat itu yang ready adalah carrot soup yang dimakan bersama roti garlic. Saya sangat menyukai rasanya yang gurih-gurih enak itu. Nah untuk desert, saya kok nggak ingat sama sekali apa menunya :D. Ditilik dari harganya buat saya mahal ya. Kisaran harganya 100~200HKD per porsi. Tapi kok restonya ramai sama karyawan-karyawan dari perkantoran sekitar Causeway Bay? Mungkin memang sudah harga standarnya seperti itu kali ya.

Tanpa terasa kami menghabiskan hampir 2 jam di Makie Kitchen. Bukan karena kebanyakan order melainkan karena kebanyakan ngobrol. Ya iyalah, ketemu temen lama gitu looohhh. Apalagi dia adalah temen berantemnya mamas waktu kuliah, hehehehe. Kami cerita banyak hal terutama saya kepo-kepo nanya ke dia tentang kisah selama hidupnya di Hong Kong dan seperti apa kehidupan masyarakat disana. Saya paling senang dengar cerita orang-orang yang struggling tinggal di negara lain. Selain mengetahui hal baru, hal tersebut menjadi inspirasi juga buat saya. Yang saya paling inget mengenai kisah hidupnya adalah betapa dia rindu Indonesia dengan penduduknya yang ramah-ramah karena masyarakat disana cenderung cuek-cuek. Dan satu lagi, betapa mahalnya harga flat yang ditinggalinya. Sebulan bisa 11.000 HKD dengan besar flat seperti kamar kos-kosan 3x4m. Saya cuman ternganga mengingat bagaimana saya pernah ngekos di kamar yang besarnya sama dibayar dengan harga 450ribu rupiah dan bagi saya itu sudah mahal banget :D.

Pukul tiga sore kami beranjak keluar restoran lalu kami diantar ke money changer yang memberikan nilai tukar bagus. Saya lupa apa namanya, tapi kalau tidak salah ingat letaknya satu blok sebelum kedubes Indonesia dari arah Forever 21. Di depan stasiun MTR sebelum berpisah kami sempat dikasih oleh-oleh sekaleng Egg Roll–kaleng dan kantong kartonnya bagus, rasanya juga enak bingggooooo.

Sebelum saya melanjutkan ada sedikit yang ingin saya bagi terkait pengalaman saya menginjak daerah Causeway Bay:

  1. Kami datang ke Hong Kong saat musim liburan summer. Panasnnnyaaaaaaaaa, ampunnn dehhhh!!!!
  2. Itu artinya spot-spot turis pun ramainya nggak ketulungan seperti di Causeway Bay ini. Walaupun ramai, pengguna jalan tetap tertib banget dan juga bersih sekali. Ditambah lagi ramai dikunjungi dari warga Tiongkok daratan dengan berbagai gaya.
  3. Namanya summer, gaya berpakaian pasti seperti kekurangan bahan. Ada yang hanya pakai kaos kutang, celana pendek, dan sendal tapi masuk ke toko-toko barang mewah. Dimana-mana para wanitanya menggunakan hot pants dan tank top dilengkapi kacamata hitam. Ada juga yang pakai mini dress dengan sepatu booth pendek tapi tentengan belanjaannya seabrek. Yang paling kami takjub adalah, siang-siang begitu dengan kulit yang tidak tertutup kok kuat ya kena sengatan sinar matahari. Kami saja sudah pusiiiinnngggg sekali.
  4. Jalanan tidak hanya ramai oleh turis tapi ramai oleh “SPG” yang menawarkan penginapan dan restoran sambil teriak-teriak dan membagi-bagikan brosur. Kebanyakan SPG-nya orang-orang tua tapi fisiknya kuat-kuat. Terbukti dari mereka berdiri sepanjang siang ditambah lagi teriakannya kenceng bingooooo.
  5. Didepan stasiun MTR ada transaksi jual-beli barang bekas. Bermodalkan 1 bangku kecil, 1 koper lumayan besar, dan 1 banner, ada 1 orang yang mempromosikan jasa jual belinya. Saat kami menunggu teman kami, kami melihat ada beberapa kali orang yang datang bertransaksi. Ada yang sudah tawar menawar gagal, ada juga yang berhasil. Suatu kali ada pria dengan tampilan necis exmud menenteng iPad Mininya menghampiri orang jasa jual beli itu. Ternyata dia hendak menjual iPad Mininya itu. Transaksi terjadi tanpa berpanjang lebar. Tidak ada basa-basi ala tawar-menawar kita di ITC. Sepenglihatan kami dan semengertinya kami dari gaya bicara antara exmud dan pembeli awalnya si exmud hanya bertanya iPad ini akan dihargai berapa, lalu barang dilihat oleh orang jasa jual beli itu, terjadi sedikit tawar menawar, tidak sampai satu menit eh deal. Orang jasa jual beli itu langsung buka koper, ambil duit, terus dikasih ke exmudnya dan si exmud berlalu begitu saja sambil memasukkan duit dalam kantongnya serasa nggak bawa duit banyak. Saya jadi mikir itu kok mudah amat ya jual belinya. Si exmud juga waktu berjalan sebelum menghampir jasa jual beli itu layaknya orang yang sedang tidak membutuhkan uang dan tidak ingin menjual apapun. Apa ia begitu mudah bosan sehingga dijual lalu mencari yang baru? Ahhh entahlah, mungkin ia memang sedang membutuhkan uang.
  6. Awalnya saya berpikir Hong Kong terkhususnya Causeway Bay terdiri dari bangunan rapih, teratur, nan senada seperti Singapore. Tapi kenyataannya semrawut bangunannya. Diatas toko ada hotel berbintang. Cat bangunan dari luar tidak meyakinkan ternyata hotel mewah. Bangunan kecil-kecil tapi ternyata restoran mahal. Diatas restoran bakmi ternyata ada flat atau apartemen mewah nan mahal (seperti apartemen teman saya), sudah gitu gang masuk apartemennya kecil banget dan kotor, kayak yang dilihat di TV itu lah (padahal saya sudah sering lihat di TV tapi masih takjub aja setelah sampai Hong Kong).
  7. Barang-barang diskonan di Hong Kong beneran murah. Tidak seperti di Indo yang dinaikin dulu baru di diskon (itu mah sama aja ya). Kalau barang-barang New Arrivalnya lebih mahal dari Jakarta tapi belum tentu barang tersebut sudah ada di Jakarta :D.
  8. Segini dulu kali ya, kalau ada yang mau ditambahkan monggo, saya tunggu di kolom komen… 🙂

 

 

Masa Kecil Bahagia, Masa Besar Lebih Bahagia

Saat sudah masuk MTR saya dan suami tiba-tiba bingung ingin kemana sesudahnya, apakah langsung ke Disneyland atau mencari tempat lain. Kalau ke Disneyland pastilah kami sudah tidak sempat lagi menonton Carnaval yang jatuh pada pukul setengah 4 sore. Tapi kalau tidak ke Disneyland tiba-tiba kami kebingungan mau kemana serta berpikir itinerary kami yang lainnya akan terancam. Kami sadar kami terlalu lama makan siang. Akhirnya kami memutuskan tetap ke Disneyland walaupun harus rugi karena tidak bisa menonton Carnaval.

Dengan dua kali transit MTR, tepat pukul 4 sore kami sampai Disneyland dengan menggunakan MTR interior Disneyland. Stasiun MTR Disneyland pun dekorasinya sangat Disney, sukkkaaaaakkkk!!! <3 . Keluar stasiun kami langsung disuguhkan dengan teriknya panas matahari. Topi dan payung langsung kami keluarkan sangking menyengatnya. Tapi itu serasa hilang saat kami melihat gerbang khas Disneyland. Disi lainnya ada bukit-bukit hijau nan segar. Keren bingits lah pokoknya. Tidak peduli dengan ciuman mesranya matahari, kami langsung bernarsis ria menggunakan TONGSIS!!! Ini juga yang membuat kami memerah karena semua orang melihat kami dengan Tongsis yang kami gunakan. Kami yang udik atau mereka? Bukannya Tongsis sudah banyak di jual di Tiongkok sejak lama? Ataukah kami yang terlalu norak? Sudahlah yang penting liburan kami ini terabadikan 😀 .

Puas berfoto-foto disepanjang koridor besar Disneyland barulah kami beli tiket. Harga perorangnya adalah 450HKD. Sebelum transaksi terjadi kami diperingatkan oleh penjual tiket bahwa karnaval sudah selesai yang ada hanya tinggal kembang api saat penutupan. Peringatan ini justru itikad baik dari pihak Disneyland. Artinya mereka tidak ingin pengunjungnya sudah bayar mahal-mahal lalu kecewa. Walau sebenarnya saya kecewa karena tidak bisa melihat karnaval yang sudah saya idam-idamkan sejak saya masih balita, kami tetap membeli tiket dan masuk Disneyland. Kapan lagi!!! Kami juga ditawarkan tiket akses dua hari yang artinya jatuh lebih murah dan puas menikmati Disneyland. Tapi kami menolak karena kami tidak punya panjang waktu di Hong Kong. Lagian mana si mamas mau berlama-lama di Disneyland 😀 . Jadilah deal tiket satu hari saja. Gambar tiketnya lucu walau tidak setebal Octopus Card.

Oh ya untuk masuk kekawasan disneyland, seperti halnya ditaman bermain manapun, tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman kemasan dari luar. Saat itu di tas mamas ada beberapa minuman kaleng yang kami bawa dari hotel. Kami disuruh menghabiskan dahulu diluar atau membuangnya langsung. Yap dibuang. Banyak pengunjung lain yang bawa mie instan kemasan tidak diizinkan untuk dibawa masuk dan terpaksa dibuang. Untungnya oleh-oleh kue dari teman kami tidak dilarang (artinya teman kami juga tahu bahwa kue itu aman dibawa masuk ke Disneyland). Mungkin pihak Disneyland tidak memperbolehkan makanan dan minuman yang banyak dijual didalam.

Sesudah masuk ke kawasan Disneyland yang kami cari pertama kali adalah brosur aktifitas dan peta disneyland. Kalau tidak ada ini bagaimana kita dapat mengexplore Disneyland terutama pertunjukkan-pertunjukkan yang menggunakan waktu. Ke Disneyland ini saya deal dengan suami bahwa kita tidak akan menaiki wahana-wahana ekstrem. Entah mengapa saya sedang tidak mood. Saya hanya ingin berfoto dan menonton pertunjukkan. Tapi jika waktunya sempat tidak masalah. Akhirnya tempat-tempat dibawah inilah yang sempat kami kunjungi di Disneyland:

1.   Art of Animation

Tempat yang pertama kali kami kunjungi adalah tempat ini. Atas faktor ketidaksengajaan sebenarnya kami masuk karena sebenarnya kami ingin menonton pertunjukkan disebelahnya yaitu Animation Academy tapi karena antrinya luar biasa kami melipir sebentar kesebelahnya yaitu Art of Animation. Tempat ini semacam museum sejarah perkembangan kartun-kartun Disney dari yang lama-lama seperti Cinderella, Sleeping Beauty, Dumbo, hingga yang lebih baru seperti Toy Story dan Cars. Tempatnya unik karena berisi berbagai jenis gambar dan figur bahkan ada kertas-kertas yang di bisa flip untuk melihat animasi. Yang paling menarik adalah diorama Toy Story, dimana sedikit menggambarkan animasi Toy Story dari figur 3D yang berputar sanggggaaaaattttt cepat. Namun sayang untuk saya tempat ini kurang luas, harusnya bisa diperbesar lagi dan berisi semuaaaaaa kartun disney. Tapi kalo besar-besar nanti nggak sempat mengunjungi yang lain kali ya?

2.   Emporium

Dengan alasan ingin ngadem sementara, saya dan suami berbelok ke Emporium dimana berisi beragam merchandise Disney. Kami berniat membeli satu pasang kaos, biar seperti kaos couple gitu. Tapi setelah sekian lama berputar-putar tidak dapat yang pas dihati, tidak pas bentuknya dan harganya. Akhirnya hanya satu yang kami dapat dari sana yaitu lempengan koin disney yang dibayar pakai octopus card sebesar 15 HKD (nothing’s cheap in Hong Kong bro). Walau mahal tapi kapan lagi coba beli barang-barang asli Disney. Barang-barangnya lucu-lucu banget apalagi buat pecinta tokoh kartu Disney, rasanya semuanya pengen di borong dari Gelas sampai Tas.

3.   Figures Meet ‘N Greet

Puas ngadem ternyata cuaca diluar masih terik walaupun sudah jam 4-an. Selanjutnya kami memutuskan untuk ikutin acara Figures Meet ‘N Greet, lebih tepatnya SAYA yang memutuskan. Figure yang berhasil saya lihat hanyalah Cinderella, Belle Beauty And The Beast, Pluto, dan Gufi. Dari keempat ini saya hanya berfoto bersama Pluto dan Gufi, saya terlalu malu berfoto dengan Cinderella serta Belle, secara yang banyak foto anak-anak udah gitu diajak ngobrol pula. Saya foto aja lah dari pinggir.

Untuk berfoto dengan Pluto dan Goofy membutuhkan waktu lama karena antri, apalagi kalau berfoto dengan Mickey Mouse dan Minnie Mouse, antriannnyyyaaaa nggak tahan. Kalau dibaca tulisannya, antrian mencapai pintu masuk depan membutuhkan 60 menit untuk berfoto dengan mereka. Padahal saya pengennnn banget foto sama dua figur itu. Saya nyesel tidak berfoto dengan Donald Duck hanya karena tidak mau capek-capek antri. Sesudah berfoto dengan Goofy, Donald Duck sudah keburu masuk untuk beristirahat *hiks*.

4.   Festival of The Lion King

Berburu figur untuk foto bersama rupanya memakan waktu lama. Tidak terasa sudah hampir jam 5 sore. Saya langsung menggeret mas untuk menonton Festival of The Lion King. Ini harus!!! Saya langsung ngibrit jalan cepat ke area Adventure Land letak pertunjukkan ini berada. Sampai di koridor depan ruang pertunjukkan ramai sekali yang menunggu. Saya sempat was-was tidak kebagian masuk ke gedung. Tapi siyh seharusnya kebagian ya karena indikator penuhnya adalah koridor yang didepan itu. Kalau koridor penuh artinya pintu masuk koridor pun ditutup karena sudah tidak muat. Yang penting akhirnya kami masuk juga dan dapat tempat duduk yang nyaman, tidak terlalu kedepan, tidak terlalu kebelakang, dan duduk di tengah-tengah pokoknya. Oia, bentuk pertunjukannya seperti nonton sirkus gitu bentuknya melingkar.

Pertunjukan ini hanya berlangsung selama 30 menit. Walaupun biasa tapi saya selalu terlena dengan namanya Drama Musical. Lagu-lagunya ya lagu-lagu Lion King, tapi tetap magical banget didengar. Apalagi yang nyanyiin suaranya ajib banget, bikin merinding, hiiiii. Saya paling suka suara sang narator. Sangking demennya ditengah-tengah lagu pertama saya langsung video in setiap lagu. Cara menyajikan pertunjukkannya pun bagus sehingga bisa dinikmati seluruh penonton segala sudut. Properti juga apik tidak ada yang kelihatan cacat. Penyanyi tidak ada yang lipsing, tapi kok bisa menggema banget tanpa storing ya kayak suara kaset? Berarti memang suara-suara penyanyinya powerfull dan stabil serta didukung teknologi Audio yang canggih *tambah merinding ingetnya*.

5.   It’s A Small World

Ini wahana pertama yang kami naiki. “It’s A Small World” adalah wahana seperti istana boneka. Bahkan menurut saya boneka-bonekanya sama, hanya properti yang berbeda. Jenis perahu juga sama. Tapi memang jauh lebih bersih, tidak ada jejak sepatu yang naik ke dinding sebelah perahu, tidak ada properti yang rusak, tidak ada boneka yang tidak nyala, airnya jernih. Biarpun begitu bagi kami yang belum punya anak ya terasa membosankan. Kami hanya pakai untuk mengistirahatkan kaki dan mendinginkan badan saja.

Wahana ini kami nikmati karena faktor ketidak sengajaan sebenarnya. Awalnya kami mengejar pertunjukkan “The Golden Mickeys” tapi kami telat 5 menit karena pintu antrian sudah ditutup sedangkan itu pertunjukkan terakhir. Mengapa yang berbau-bau Mickey dan Minnie selalu lewat… *hiks*

6.   The Many Adventures of Winnie The Pooh

Langit mulai gelap. Sesudahnya kami malah bingung mau kemana lagi. Melihat peta tambah bingung. Entah kenapa kami tidak terpikir untuk berkeliling saja melihat seluruh area Disneyland. Kami malah memilih menaiki wahana “The Many Adventures of Winnie The Pooh”. Kami memilih ini karena antriannya panjang. Asumsi kami berarti tempatnya lumayan seru walau tidak ekstrim karena banyak anak-anak juga. Sesudah naik respon kami, “biasa saja”. Sudah antri panjang-panjang, ada kali ya 30~45 menit, wahana ini membosankan walaupun ada efek kursinya goyang-goyang. Memang cocoknya untuk anak-anak.

7.   Raft to Tarzan’s Treehouse

Tidak terasa ternyata sudah hampir pukul 8 malam. Kami bingung perasaan baru keliling-keliling sedikit kok sudah jam 8 malam saja. Akhirnya kami memutuskan masuk ke satu tempat terakhir sebelum duduk manis melihat kembang api penutupan. “Raft to Tarzan’s Treehouse” adalah tujuan terakhir kami. Apa yang kami lihat? Hanyalah merasakan seperti apa hidup nya Tarzan. Wahana ini di setting seperti Treehouse yang ada di film Tarzan. Kita melihat dimana Tarzan tinggal lengkap dengan patung-patungnya, melihat tempat kerja Jane, bahkan sampai menyeberang dengan perahu ala ala rafting untuk sampai ke Treehouse-nya. Sayang karena gelap dan settingannya juga gelap–namanya rumah Tarzan juga didalam hutan–jadilah foto-foto pun gelap juga.

8.   “Disney In The Stars” Disneyland

Terakhir pada pukul setengah 9 malam kami mencari tempat untuk menikmati pertunjukkan kembang api di Sleeping Beauty Castle. Wew, tempat duduknya sudah penuh sampai kesamping. Dengar-dengar dari jam 8 pun sudah banyak yang mencari spot menarik untuk melihat kembang api. Jadilah karena kami telat, duduknya ya disamping, tidak bisa melihat kembang api dari tengah seperti mengelilingi kastil yang ada di kartun-kartun itu. Tak apalah. Sambil menunggu pertunjukkan dimulai, kami membeli makanan, hotdog dan jagung. Lumayan kedua makanan ini untuk mengganjal perut kami. Untungnya kami tidak perlu bawa minum karena minum air putih kami terselamatkan dari razia petugas pintu masuk :D.

Tepat pukul 9, pertunjukkan dimulai. Ternyata masyarakat disana–entah ini penduduk asli atau pendatang juga yang berulah–saat menonton pertunjukkan tidak nyaman sambil duduk. Jadilah yang paling depan berdiri membuat yang dibelakangnya ikut berdiri. Awalnya mengundang protes banyak pengunjung karena mereka bawa anak-anak yang nggak mungkin banget di gendong terus sepanjang pertunjukkan. Tapi karena yang paling depan nggak mau dengar ya sudah tetap saja berdiri, saya pun ikut berdiri dong.

Bisa dibilang pertunjukkan kembang api ini adalah yang paling bagus dari seluruh wahana atau pertunjukan Disneyland yang kami masuki hari ini walau sudut pandang melihatnya tidak dari tengah-tengah. Oh ya ini berlaku hanya buat saya, tidak buat mamas–menurut dia semuanya biasa saja. Sama seperti kata teman kami, kalau ke Disneyland belum lihat kembang api berarti belum ke Disneyland. Menurut saya itu benar.

This slideshow requires JavaScript.

Teman saya sedikit membandingkan wahana di Disneyland dengan USS Singapore, katanya jauh lebih menarik dan ekstrim di USS Singapore. Tapi bagi pecinta Disney yang kurang suka dengan wahana ekstrim apalagi anak-anak, jelas sangat dimanjakan dengan Disneyland. So to me Disneyland is soooo coooollll. Pengen datangi Disneyland lainnya seperti di Tokyo yang katanya jauh lebih bagus dari di Hong Kong, apalagi yang di Amerika sana kapan ya.

Memang benar, menikmati Disneyland hanya setengah hari ternyata belum puas. Saya belum melihat Toys Story Land, Tomorrow Land, dan Grizzy Gulch, apalagi karnavalnya. Sampai-sampai mamas menawarkan untuk besoknya kita datang kembali. Kontan saya gembira dengarnya. Tapi apakah besoknya datang lagi ke Disneyland? Kita lihat saja di post berikutnya.

 

Pulang… pulang… pulang…

Kami kembali dari Disneyland sekitar pukul 9.15 malam. Kami sempat bingung apakah MTR masih beroperasi sampai dengan hotel kami? Tapi nggak mungkin lah ya sampai jam 12 malam sudah tidak beroperasi. Dengan lelah kami berganti beberapa stasiun hingga akhirnya sampai dihotel hampir pukul 11 malam karena MTR yang dari Disneyland cukup lama juga ditunggu. Sampai kamar kami tidak langsung beristirahat karena kami masih lapar. Kami turun lagi mencari makan dan sayang Mc’D sudah tutup. Akhirnya melipir ke Seven Eleven terdekat dan membeli mie instan, nasi kotak instan, dan beberapa cemilan. Awalnya saya juga ingin membeli obat karena tenggorokan saya gatal sekali, tapi tidak jadi setelah melihat harganya yang tidak ketulungan. Bayangkan Panadol saja bisa sampai 90HKD. Hmmm nggak deh, mendingan tahan, banyak minum, dan tidak jajan sembarangan–padahal nyemil melulu 😀 .

 

Regards,

sans sign

25 thoughts on “Jalan-jalan ke Hong Kong-Shenzhen-Macau – Hari 2

  1. Pas baca setelah sarapan trus mau ketemuan sama temen lama kok langsung feeling ke disneylandnya bakalan sore nih. Hahahahaha. Ternyata bener. Meskipun “bentar” tapi seru keknya. Btw yang di foto di depan gerbang berdua ada orang yang jadi potobomber dan ikutan narsis loh. Hahahaha.

    1. Hehehe iya mana pada bangun telat 😄😄
      Seruuuu tapi kurannngggg, jadi ada alasan buat balik lagi atau mengunjungi yang lain bareng2 anak nantinya, aminnn 😁😁
      Wkwkwkwkwk iya ya baru merhatiiiin 😄😄

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.