Senin, 23 Agustus 2014, saya dan suami terbangun pukul 4 pagi dan mulai bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Sebenarnya pagi itu kami sedikit was-was karena kami tidak punya sama sekali e-ticket penerbangan dalam bentuk kertas. Semalaman kami coba print tapi tidak berhasil dan tidak sempat lagi print keluar. Kami memang teledor sampai H-10 jam keberangkatan kami lupa bahwa dokumen-dokumen perjalanan selain paspor belum dalam bentuk fisik. Kami saja baru beli koper H-12 jam keberangkatan dan baru packing H-8 keberangkatan. Bagi saya ini siyh keteteran pasti pas keberangkatan ada aja yang lupa. Terbukti saya lupa bawa obat 😀

Jadwal take-off kami pukul setengah 9 pagi. Jadilah kami perlu sampai di bandara agar lebih aman maksimum pukul 7 pagi. Kami memang sudah melakukan check-in online tapi karena membawa bagasi dan juga boarding pass tidak bisa dicetak jadilah kami harus berangkat pagi. Target kami berangkat jam 5 pagi. Tapi nyatanya dengan santai kami baru berangkat jam 6 dan diantar mertua saya. Kami baru sadar bahwa itu hari senin. Apalagi setelah tol baru ke bandara dibuka, tol simatupang semakin hari semakin macet karena dipenuhi truk-truk hasil pengalihan. Kami benar-benar tidak memperhitungkan hal ini. Gara-gara macet ini juga saya tidak merasa pusing ketika makan dimobil sangking saya sudah senewen dan bercampur lapar.

Jam setengah 8 teng kami sampai di terminal 3 dan aman, kami masih bisa drop baggage dan print boarding pass. Tanpa tiket fisikpun bisa lewat pintu keberangkatan. Yang penting ada yang bisa membuktikan kita akan berangkat. Saya ya pakai ipad saja. Jam 8 kami siap boarding dan setengah 9 take off. Berhubung kami pakai tiket promo pastilah bukan direct flight. Kami harus transit di Kuala Lumpur. Dua jam perjalanan sampai ke KLIA 2 tidak begitu berasa karena kami sibuk makan. Makanan dari maskapai Air Asia itu enak juga ternyata dan tidak terlalu mahal asalkan kita harus pre-order saat kita book tiket. Saya memesankan kami makanan untuk seluruh penerbangan kami. Untuk ke KL ini saya memesan Nasi Goreng untuk mamas dan Nasi Lemak untuk saya.

Sesampainya kami di Kuala Lumpur kami berdua sempat kebingungan, pasalnya ini pertama kalinya kami menggunakan sistem transit. Kami kebingungan apakah perlu ambil bagasi dulu atau bagaimana. Akhirnya modal nekat mengikuti petunjuk yang ada di e-ticket kami langsung check-in di loket transit dan ternyata kami tidak perlu memikirkan bagasi kami. Bagasi akan langsung ditransfer ke penerbangan kami selanjutnya. Maafkan keudikan kami ya 😀

Baru kali itu kami, saya terkhususnya, menginjakkan kaki dibandara baru Kuala Lumpur yaitu KLIA II. Bandaranya cozy tapi memang tidak banyak yang dilihat disana menurut saya. Koridor menuju boarding gate juga agak monoton dan cenderung sepi, saya kurang suka. Tidak seperti Chan*i #ya iyalah#. Mungkin karena waktu itu bandaranya masih dalam proses perampungan sebelum grand opening kali ya. Tapi paling nggak, waktu kami sampai pas lagi ada rumah kebalik yang bisa kami pakai foto-foto :D.

Setelah dua jam transit kami kembali memasuki pesawat, take off menuju Hong Kong. Bagian ini niyh saya excited campur nervous, karena saya belum pernah berada dalam pesawat diatas dua jam. Duh, tegangnya bukan maiiiinnn. Mana selama perjalanan ke Hong Kong itu kurang mulus sama sekali, turbulance melulu. Hanya makan dan tidur yang menghibur. Untuk penerbangan ini saya dan mamas memesan jenis makanan yang sama yaitu Roast Chicken. Akhirnya, jam setengah 6 waktu hong Kong kami mendarat di Terminal II, Hong Kong International Airport. Yeayyy!!!!

Kesan pertama melihat HKIA, hmmmm sangat kaku dan gelap. Terlalu monoton. Kembali saya tidak suka suasananya. Udah gitu disisi sebelahnya ada bukit-bukit tinggi. Ditambah lagi untuk menuju terminal kedatangan cukup jauh, perlu menggunakan bus yang saat itu antrinnnnyyyyyaaaa nggak ketulungan karena banyak pesawat yang sehabis mendarat. Paling tidak yang menariknya adalah sangat tertib dan ada penjaganya sebelum naik bus kayak naik bus di halte trans jakarta itu. Nggak ada dorong-dorongan. Tapi sensasi sebelum mendarat itu loh, keren!! Karena HKIA seperti mengapung diatas air kayak bandara-bandara pesawat angkatan udara nya AS itu loh.

Sampai terminal kedatangan kami langsung menuju tempat pengambilan bagasi. Tidak perlu waktu lama kami menunggu bagasi kami. Sebelum kami keluar area, ada salah satu corner informasi jika kita butuh informasi mengenai transportasi dan tempat-tempat wisata di Hong Kong. Langsung saja saya bertanya bagaimana meraih hotel kami. Mereka memberi petunjuk dengan lugasnya dan langsung menyarankan kami membuat octopus card untuk memudahkan transportasi kami.

Octopus card merupakan kartu serba guna seperti Flazz BCA atau sejenisnya yang dipakai untuk alat pembayaran di moda transportasi dan juga alat belanja. Sebenarnya ada paket octopus card + kereta express ke Hong Kong kota. Tapi setelah kami hitung biaya yang cukup tinggi dan waktu yang tidak terlalu jauh berbeda, kami tidak membeli paket itu dan memutuskan naik Cityflyer Airport Bus ke hotel sekalian ingin melihat pemandangan sekitar. Sekadar informasi berkeliling di Hong Kong untuk transportasi umumnya bisa menggunakan MTR, Citybus, atau Taxi. Silahkan klik masing-masing link untuk detailnya. Saya sendiri menyarankan naik MTR didalam kota untuk menghemat waktu karena tidak lama menunggu MTR nya. Tapi beberapa MTR yang juga jadi percabangan suka agak tricky sehingga terasa lebih lama daripada naik bus. Kalau lagi nggak macet naik bus di Hong Kong juga cepat.

MTR Route

Pilihan kami tepat karena akhirrrnnnyyyyaaaa saya naik bus tingkat. Yeayyy!!!! (ketahuan udiknya). Busnya juga nyaman, bersih, dan dingin, serta aman. Koper kami taruh ditempat koper dibawah dan kami duduk di lantai dua. Koper dapat dipantau dari TV, karena didepan koper, ditaruh CCTV. Walau kami excited tetap kami harus jaga-jaga jangan sampai kami kelewatan turun.

Perjalanan menggunakan bus nomor 22 menuju shelter yang kami tuju, yaitu shelter MTR Ngau Tau Kok, memang lumayan lama sekitar 2 jam. Setelah turun halte kami masih kebingungan bagaimana meraih hotel kami. Kami merasa seperti orang tersasar pasalnya sekeliling kami terdiri dari gedung-gedung perkantoran bertingkat tidak seperti kawasan ramai wisatawan yang seperti kami lihat di TV. Bahkan kami sempat memasuki area perkantoran dan diliatin orang-orang karena kami bawa koper-koper besar di hari Senin. Wajar saja karena hotel yang kami pilih itu memang dikawasan “Industri” menurut reviewnya. Setelah jalan sana-sini menggeret koper dan bertanya akhirnya sampai juga. Sampai pintu depan hotel kami takjub, kerennn bangeettt. Untuk urusan hotel ini akan saya review terpisah saja ya, biar lebih afdol 😀

Karena sampai hotel sudah kurang lebih jam setengah 9 malam, kami tidak berniat kemana-mana seperti draft itinerary kami. Kami hanya mau pergi cari makan lalu balik ke kamar hotel. Makanan pun hanya kami beli di Mc’D yang kami lewati saat mengarah ke hotel. Habis itu kami pelukan dan bobo deh… Hehehe… Ya, hanya seperti inilah kisah hari pertama kami.

Regards,

sans sign