Kalau sudah mulai ngomongin perihal jalan-jalan pasti saya semangattttt pakai banget, tapi kalau disuruh menuangkan hasil jalan-jalan saya sendiri kok ya agak kesusahan entah mengapa. Okelah, saya mulai aja post kali ini dengan hasil perjalanan saya dua bulan lalu alias perjalanan honeymoon yippie 😀

Mempersiapkan pernikahan pastilah yang saya pikirin pertama Honeymoon. Maklum otak ini isinya jalan-jalan melulu, tapi jarang terealisasi, hehehehe. Bahkan kalau perlu saya menikah tamasya aja, lumayan kan duitnya buat trip yang panjang. 😀

Awalnya wacana pergi ke Hong Kong ini hanya angan-angan karena melihat kenyataan sedang tidak ada promo dengan waktu book yang cukup mepet. Sehingga mamas memutuskan mempergunakan tiket ke Phuket yang sudah kita beli hampir setahun sebelumnya, sebelum kita merencanakan untuk menikah, sebagai honeymoon walaupun dilakukan satu bulan setelah pernikahan.

Hingga suatu hari, saya iseng-iseng lihat harga tiket pesawat murah dan menemukan yang lumayan promo. Saya kasih tahu ke mamas dan dia entah tiba-tiba tertarik. Jadilah kita book dan yeay berhasil kesana.

Di Post ini saya akan menceritakan persiapan-persiapan kami menjelang keberangkatan kami ke Hong Kong.

i.      Tiket

Ya pastilah ya, masa mau pergi ke negeri orang nggak pakai tiket. Seperti cerita sebelumnya. Saya dapat tiket 1/2 promo. Kenapa begitu karena memang saya mengetahui kabar promo itu sudah telat. Tapi masihlah ya dapat promo. Tiket saya beli empat bulan sebelum keberangkatan.

Nah waktu beli tiket ini susah-susah gampang. Kami berniat menghabiskan honeymoon kami di Hong Kong-Shenzhen-Macau. Akhirnya setelah utak-atik itinerary secara kasar dan memperhitungkan tiket PP yang paling murah, jadilah beli tiket pergi ke Hong Kong dan pulang dari Macau, dengan asumsi kita hanya sewa hotel di Hong Kong dan Macau sedangkan shenzhen hanya trip pulang pergi dari dan ke Hong Kong (walau kenyataannya lumayan berbeda).

ii.      Passport

Pergi keluar negeri tanpa paspor nggak akan mungkin kalau nggak mau dibilang imigran gelap :D. Tapi mamas belum punya paspor. Kalau saya sudah pernah dibuatkan oleh kantor. Awalnya mamas pengen pakai agen saja supaya ga perlu capek-capek cuti dua hari. Tapi mengingat keuangan yang pas-pasan akhirnya mamas bikin sendiri saja.

Supaya gampang kita mengajukan aplikasi online saja supaya ga perlu datang tiga kali ke kantor imigrasi. Saya membantu mamas memasukkan aplikasi online saat itu hari Jumat. Lalu sesudah menentukan tanggal wawancara, yaitu hari Senin nya, kita perlu membayar lewat bank BNI. Supaya hari Senin bisa sampai pagi-pagi di kantor imigrasi, hari Jumat itu juga langsung meminta bantuan adiknya mamas membayarkannya di bank BNI dekat rumah.

Hari Senin mamas mengambil cuti dan langsung berangkat dari rumah pukul 6 pagi supaya bisa sampai kantor imigrasi dan mendapat antrian pertama. Menghindari antrian panjang, mamas mengajukan imigrasi di kantor wilayah I untuk Imigrasi Jakarta Selatan yaitu di daerah Pondok Pinang. Ini sesuai saran adik saya karena ditempat itu tidak terlalu banyak, tidak seperti yang di mampang.

Benarlah, mamas sampai pagi-pagi dan dapat antrian pertama untuk jalur aplikasi online. Tapi ternyata jadwal wawancara untuk yang online ini baru mulai jam 10. Walaupun begitu mamas dipanggil jam 9an. Beruntung tidak musti menunggu sampai jam 10. Justru jam 10 itu mamas sudah dalam perjalanan pulang. Beberapa hari kemudian paspor siap diambil, dan mamas meminta izin dari kantor saat makan siang untuk mengambil paspornya, walau sebenarnya bisa diwakilkan asal buat surat kuasa.

iii.      Itinerary

Sampai hari keberangkatan saya tidak punya itinerary yang benar-benar fix tidak seperti traveling saya sebelum-sebelumnya. Alasanya ya karena waktu saya dan juga suami sudah benar-benar tersita dengan persiapa pernikahan kami. Draft kasar itinerary yang sudah kami buat sejak bulan April dan tidak kami perbaharui itu adalah:

Day 1 >> Perjalanan Jakarta Hong Kong + Keliling Avenue of Stars

Day 2 >> Mengunjungi Ngo Ping dan Disneyland

Day 3 >> Mengunjungi Shenzhen (Window of The World dan belanja)

Day 4 >> Mengunjungi Madame Tussaud, The Peak, Victoria Park, & keliling Causeway Bay lalu malamnya ke Macau

Day 5 >> Tinggal di hotel lebih lama baru malamnya ke Macau Tower dan Venetian Macau

Day 6 >> Keliling-keliling Macau lalu ke airport untuk pulang ke Jakarta.

Apakah semuanya terealisasi? Tunggu aja di post-post selanjutnya ya.

iv.      Hotel di Hong Kong

Pencarian hotel cukup membuat kepala kami pening. Pasalnya menurut browsing beberapa situs, hotel di Hong Kong mahal-mahal dengan luas kamar yang tidak seberapa. Saya pun sempat bertanya kepada saudara yang saat saya mulai mencari hotel baru saja dari Hong Kong.

Saudara saat itu menyarankan saya mencari apartemen saja karena pastiya fasilitasnya lengkap termasuk alat memasak. Apartemen-apartemen yang disewakan di Hong Kong bisa di cari di Airbnb harganya pun lebih murah dari hotel. Tapi setelah saya browse saya merasa kurang nyaman lagi honeymoon menginap ditempat orang yang orangnya pun tinggal disitu. Lagian setelah searching-searching ternyata apartemen bisa murah karena yang menginap pun banyak tidak hanya berdua seperti kami. Jadilah kami memutuskan cari hotel saja.

Hotel-hotel di Hong Kong itu mini-mini. Udah gitu harganya mana tahan dan kebanyakan harga-harga itu tanpa sarapan pagi. Untuk mendapatkan hotel yang pas, saya mulai cari-cari perbandingan. Awalnya karena berpikir gimana dapat murah, saya mencari hostel yang bersih. Ketemulah hostel yang bernama Yesinn hostel. Letaknya dimana-mana salah satunya di Causeway Bay–kami dari awal memutuskan cari tempat penginapan di kawasan ini karena kawasan ramai. Waktu dibawa ke mamas untuk approval langsung ditolak mentah-mentah. Katanya kita kan mau honeymoon jadi disuruh cari yang sedikit lebih besar kamarnya dan harus dapat sarapan–hehe emang dasar wanita maunya yang murah-murah aja ala backpacker tanpa melihat sikon, tapi apa salahnya ya honeymoon ala backpacker kan seru ya.

Hotel yang kedua yang dibawa ke mamas adalah Mini Hotel yang dikawasan yang sama. Harga hotelnya tergolong murah. Kelihatannya memang hotel bagus tapi beneran mini kamarnya dan tidak dapat sarapan. Langsung dicoret mamas karena kamarnya terlalu mini hampir kayak Yesinn hostel.

Hotel yang ketiga adalah Butterfly Hotel yang ada di Waterfront. Yah menurut kami waterfront ini tidak jauh dari Causeway Bay dan ada kamarnya yang menghadap ke pelabuhan, pemadangan apik lah. Butterfly Hotel ini ada 6 hotel di Hong Kong. Memilih yang di waterfront tentunya karena ada sarapan dan harga bersaing. Ukuran kamar sekitar 180 sq. Pastinya yang ini lebih besar dari Mini Hotel. Tapi kamar ukuran 180 sq itu untuk ukuran hotel lumayan kecil juga.  Ada yang sedikit diatasnya sekitar 200 sq tapi udah full booked, maklum nyarinya mepet. Dibawa ke mamas akhirnya di keep dulu, masih mencoba cari yang sedikit besar.

Hotel yang keempat adalah The Harbourview Hotel yang letaknya ya nggak jauh-jauh amat dari Causeway Bay dan dekat pelabuhan. Besar kamar hotel ini mirip Butterfly Hotel cuman tergolong hotel lama. Yang pasti dapat sarapan juga. Tapi harga hotelnya lebih mahal dari Butterfly Hotel. Udah gitu kalau liat dari foto-foto guest di Trip Advisor memang kamar lama tidak seperti di Butterfly Hotel. Ini juga jadi pertimbangan mamas. Akhirnya disuruh keep siapa tahu dapat yang lebih besar.

Hotel yang kelima adalah Holiday Inn Hotel. Di Hong Kong ada tiga hotel dan yang jadi pilihan kami adalah yang di East Kowloon dan Causeway Bay. Ini sama juga dapat makan walau menurut testimoni di Trip Advisor, makananya itu-itu aja tiap hari. Besar kamar seperti Butterfly Hotel juga dan tergolong tipe kamar lama. Kalau kamar-kamar besarnya saat itu sudah fullbooked. Waktu dibawa ke mamas, mamas mencoret yang di Causeway Bay karena setelah baca beberapa review suasana hotelnya cukup ramai, yang honeymoon seperti kita pasti terganggu.

Sesudah dapat kelima ini langsung deh dirembuk bareng mamas. Setelah berembukan memilih Butterfly Hotel. Dan saat memesan, dooeenngg kamar murahnya habiisss bisss bisss. Kebingungan lagi dong, akhirnya memilih The Harbourview Hotel. Kamar murahnya belum habis tapi kok tiba-tiba saya nggak sreg. Selama sehari itu saya coba cari-cari dulu kalo nggak dapat berarti memang The Harbourview Hotel jodohnya.

Benar saja setelah searching dapat lah kamar hotel yang rada lega. Kalau liat profilenya bisa hampir setengah kalinya lebih lega dari Butterfly Hotel dan The Harbourview Hotel. Harga pun mirip The Harbourview dan dapat makan. Namun ternyata daerahnya agak jauh di kawasan East Kowloon karena itu kawasan bisnis industri. Walaupun begitu menurut–lagi-lagi–review trip advisor kawasannya sepi untuk penginapan. Saya langsung bawa ke mamas dan langsung di ACC. Nama hotelnya L’hotel Elan. Langsung booklah saya di situsnya langsung. Sayangnya dengan harga segitu hanya dapat 1 pax untuk sarapan pagi. Yang satunya lagi harus bayar. Inipun saya tahunya setelah check-in. Dasar oon kan, hahahaha. Harusnya pas booking di cek bener-bener untuk sarapan pagi dapat berapa pax.

Cuman ada sedikit masalah bayar-membayar hotel yang sampai sekarang saya dibikin bingung. Saat book kami menggunakan situs hotelnya supaya murah. Jadilah kami membayar dengan kartu kredit (cc) karena kami pikir setelah di Hong Kong tidak perlu pusing dengan bayar-bayar hotel lagi. Ternyata waktu check-in, kami diminta bayar. Lah kami jadi bingung. Saya langsung buka email dan beritahu hasil bookingnya. Kata mereka, kami tetap harus bayar saat check-in beserta deposit sebagai jaminan penggunaan kamar. CC yang telah terpotong hanya dijadikan sebagai tanda jadi, seandainya kami tiba-tiba batal atau tidak datang. Nanti setelah check-out potongan cc baru akan dibatalkan. Sontak kami newlyweds ini dibikin pusing. Baru saja kami mendarat di negeri orang masakan tidak bisa pergi kemana-mana hanya karena kekurangan uang. Kami hanya bawa duit seadanya karena berpikir sudah tidak perlu membayar hotel lagi. Limit CC pun terbatas karena sudah dipotong tanda jadi hotel yang kami book. Ini pengalaman pertama merasakan seperti ini (apakah hotel-hotel luar negeri lainnya juga sama? Seinget saya di Malaysia atau Singapore tidak seperti itu). Ya, walaupun begitu ini pengalaman lah.

Intinya saran saya untuk cari hotel di Hong Kong adalah:

  • Cari hotel lebih awal diatas 1-2 bulan sebelum keberangkatan. Karena akan dapat harga diskon. Saat itu salah kami adalah, kami baru mencari hotel itu H-1 bulan sebelum keberangkatan dimana harga diskon itu sudah tidak berlaku.
  • Booklah hotel untuk minimal 3 malam karena hotel-hotel di Hong Kong memberikan harga khusus untuk yang menginap diatas 2 malam. Kami pun book untuk 3 malam kala itu.
  • Sebaiknya book hotel lewat situs aslinya, jangan lewat book*ng.com atau situs-situs sejenis. Karena jika book lewat situs hotelnya langsung akan dapat diskon selain tidak ada biaya administrasi. Tapi memang kita tidak bisa bayar dibelakang (yah sesuaikan dengan pengalaman saya diatas saja).
  • Hotel dikawasan ramai ya pastinya menimbulkan kebisingan tersendiri. Kalau ingin yang sepi, kamar lebih lega, dan harga lebih murah carilah yang dipinggiran Hong Kong atau dikawasan industrinya tapi yang dekat dengan stasiun MTR.
  • Kalau tujuan untuk backpackeran carilah hostel-hostel atau budget hotel. Tapi saya tidak menyarankan cari guest house atau hostel Chungking Mansion. Ini sebenarnya saran teman saya yang sedang bekerja di Hong Kkong. Menurutnya tempat itu selain tidak bersih sering terjadi banyak penipuan terhadap para turis. Sebaiknya tetap berhati-hatilah dan cari tempat yang sudah direkomendasikan banyak turis. Untuk hal ini saya memanfaatkan Trip Advisor sebagai hasil review yang lebih akurat. Mengapa? Karena di dalam Trip Advisor juga terdapat foto-foto asli dari tamu yang menginap sehingga kita tidak tertipu dengan gambar asli milik hotel yang biasa mengecoh dari segi besarnya ukuran kamar. Selain itu rajin-rajinlah mencari di blog-blog orang seperti blog Java Milk, Travelawan, Jejak Vicky, dan lain sebagainya.

v.      Hotel di Macau

Berbekal ilmu yang sama untuk hotel di Hong Kong, saat mencari hotel di Macau tidak terlalu sulit. Apalagi Macau daerah yang kecil jadi tidak sulit mencari hotel. Cuman harganya lebih selangit dari pada Hong Kong. Hotel-hotel murah di Macau rata-rata memiliki kamar-kamar hotel yang lama.

Lupakan Lisboa hotel yang harganya selangit buat kami atau pun Venetian Macao hotel karena kami tidak punya budget yang besarrr. Sebut saja Sintra Hotel dan Regency Hotel yang menjadi pilihan kami. Awalnya Regency hotel menjadi pilihan kami tapi sayang kamar harga murahnya sudah full booked. Akhirnya menghubungi Sintra Hotel yang menurut beberapa review memiliki menu sarapan pagi yang lezat dan letak hotelnya tidak jauh dari Lisboa.

Kepusingan bayar-membayar pun terjadi juga ditempat ini. Sama dengan hotel di Hong Kong, saya pun harus merogoh kocek sendiri untuk membayar kamar hotel saat check-in. Bahkan sempat ada insiden saya tidak bisa ambil duit di atm saat itu–cerita selengkapnya nanti aja ya 😀

vi.      Kesehatan

Ini nih yang perlu dipersiapkan baik-baik. Hong Kong termasuk negara yang strik sama kesehatan apalagi yang terkait dengan penyakit flu-fluan dan ebola. Saya pun karena kecapean mengurus pernikahan setelah pemberkatan mulai flu dan batuk-batuk ditambah kurang tidur karena mengurus resepsi sedangkan dua hari setelah resepsi udah musti berangkat honeymoon.

Saya sempat khawatir jangan-jangan saya ga bisa masuk imigrasi Hong Kong lagi. Tapi saya terus menjaga tubuh saya dengan minum obat batuk dan flu sebelum berangkat serta dopping dengan vitamin sehingga waktu berangkat tidak terlihat sakit. Cuman sayang saya lupa bawa obat batuknya ke Hong Kong. Jadilah saya sering batuk-batuk disana tapi nggak minum obat. Pasalnya obat di Hong Kong mahal sekali. Panadol aja bisa hampir 100rban kalau dirupiahkan. Iya kalau cocok, kalau nggak cocok?

Inilah kisah persiapan jalan-jalan kami ke Hong Kong kala itu. Bagaimana denganmu? Seperti apa persiapanmu saat jalan-jalan ke negeri orang?

Regards,

sans sign