Selesai pemberkatan sebenarnya sudah lega tapi masih ada satu tanggung jawab lagi yaitu Resepsi. Sebelum mempersiapkan pernikahan saya sempat bertanya-tanya apakah gunanya Resepsi? Bukankah kalau sudah sah dimata agama dan hukum ya sudah sah jadi suami istri? Pertanyaan-pertanyaan ini mencuat karena saya pribadi awalnya pengen punya konsep nikah tamasya. Selain itu uang pun tidak banyak kebuang dan bisa ditabung untuk beli rumah.

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab juga. Resepsi ada sebagai tanda ucapan syukur bahwa dua insan telah dipersatukan oleh Tuhan. Kebahagiaan itu sepatutnyalah ditularkan pada orang-orang terdekat kita dan orang-orang yang ada disekeliling kita terutama keluarga besar kita. Ya, akhirnya melihat lagi kondisi kedua keluarga besar yang memang besar binggitttzzzz itu. Kalau tidak diadakan resepsi, wew kebayang deh bakal jadi perbincangan hangat berkepanjangan. (Walaupun begitu balik lagi ke pribadi dan keluarga masing-masing apakah perlu mengadakan resepsi atau tidak).

Okey diputuskan tetap ada resepsi. Tapi mikirin ini tuhhhh mumetnya berbulan-bulan. Mulai dari cari gedung yang disesuaikan dengan kapasitas undangan serta harga gedung itu sendiri. Dua bulan lebih kami mencari dan mengubah-ubah jumlah undangan. Awalnya perlu mencari gedung dengan kapasitas 1600 orang karena keluarga dan kolega orang tua mamas amat sangat banyak. Lalu karena nggak dapet-dapet — orang tua mamas juga merasa kasihan dengan kami akhirnya diputuskan mencari kapasitas gedung yang muat 1200 orang standing party dengan tamu-tamu terfokus kepada rekan kerja kami, keluarga besar kedua orang tua, dan kolega-kolega kerja . Sisanya akan diadakan resepsi di rumah keluarga mamas.

Sudah berkurang pun masih susahhhh juga nyari gedungnya. Karena kalau gedung ini belum dapat gimana cari yang sisa-sisanya, seperti catering. Kami mau gedung itu disekitaran jakarta timur arah ke Bogor atau Jakarta Selatan. Keluarga dan kolega berkisar di daerah-daerah itu soalnya. Kalau kita ambil yang jauh malahan nggak ada yang hadir buat apa. Memang ya, kalau cari gedung itu jangan H-7 bulan. Kalau perlu H-15 bulan.

Setelah pencarian beberapa minggu, kami dapat di TAIP TMII pas ditanggal 16 agustus 2014 siang karena ada yang batal. Tapi saat itu saya tidak mengiyakan. Kembali lagi karena ada konflik internal yang masuk kategori top classified. Akhirnya melayang deh tuh. Tapi jujur kalau siang hari ditempat itu wuih kebayang panasnyaaaa. Saya sebenarnya mengincar di gedung pencak silat sampai-sampai saya tanya di forum-forum pernikahan apakah ada yang mau over DP. Tapi setelah hampir satu bulan ga ada juga yang cancel akhirnya memutuskan cari yang lain. Kami hampir memutuskan mengambil paket di Sovereign Plaza. Tapi sayang gedung nya kecil. Hampir juga mengambil paket di Amarossa Kemang dan memang kapasitasnya juga kecil.

Akhirnyaaaaa, kami dapat lagi di TAIP TMII untuk malam hari cuman dapatnya seminggu sesudahnya yaitu tanggal 23 Agustus 2014. Kami langsung menyetujuinya. Cuman saya sempat galau, bagaimana kalau euforianya berkurang sesudah pemberkatan. Udah gitu banyak keluarga yang sudah datang pemberkatan takutnya nggak ada yang dateng juga ke resepsi. Atau bisa saja orang kantor karena sudah memberikan selamat pada kita saat di hari senin sesudah pemberkatan akhirnya mengurungkan niat untuk hadir.

Mengatasi kegalauan saya itu sebisa mungkin saya dan mamas tidak memberitahukan tanggal pemberkatan kami supaya euforianya tetap berasa. Palingan hanya orang-orang tertentu saja termasuk keluarga yang mengetahuinya. Bukan apa-apa, tapi catering yang sudah dipesan-pesan banyak itu kalau yang hadir sedikit kan jadi mubazir juga.

Setelah gedung dapat saatnya mencari catering. Kalau ini tidak susah-susah amat lah. Saya cukup email meminta penawaran ke beberapa vendor catering diantaranya Maharani, Puspita Sawargi, Almarta, Alfabet, Aura, Sonokembang, dan Chikal. Ini semua berkat browsing dan googling di blog-blog wedding atau pun forum-forum. Sesudah dapat penawaran mulai lihat-lihat harga yang cocok. Dan harga yang memang cocok ada di tiga tempat yaitu Almatra, Aura, dan Chikal. Barulah memutuskan untuk TF. Prioritas kita TF ada di dua tempat dulu yaitu Almatra dan Chikal. Hari pertama di Almatra setelah TF reaksi orang tua menurut mereka biasa. Hari keduanya di Chikal dan orang tua langsung suka. Jadilah memutuskan Chikal. Tidak susah juga memutuskan Chikal karena orang tua mamas sering menghadiri acara yang menggunakan Chikal sehingga mereka sudah paham rasa makanan dari Chikal. Orang tua saya pun menyukainya. Tanpa berlama-lama cari vendor lagi ya diputuskan Chikal dan mengambil semua paketannya.

Lalu, saatnya buat susunan acara. Ini sih susah-susah gampang. Awalnya membentuk tim EO terlebih dahulu. Tim ini beranggotakan teman-teman masa kuliah di politeknik dahulu. Supaya sesuai keinginan pengantin saya dan mamas membuatkan dulu susunan acaranya baru disempurnakan mereka. Awalnya kita ingin banyak variasi di acara pernikahan kami. Yaitu seperti melantai memberi coklat kepada jombloers ataupun pasangan-pasangan yang belum menikah, terus ada tari-tarian Lenso khas manado, terus ada juga lomba foto di instagram sekaligus membagi kebahagiaan kami pengantin, dan lain-lain sebagainya. Cuman setelah dilihat-lihat kok kayaknya timing tidak memungkinkan ya. Akhirnya pangkas sana dan pangkas sini jadilah event yang standar saja. Paling tidak ada tarian Gatot Kaca yang memeriahkan acaranya, ada kirab Cucuk Lampah saat memasuki pelaminan, ada paduan suara dari tante saya, dan poco-poco oleh tim paduan suara tersebut. Ini pun persiapan-nya juga berkali-kali meeting.

Overall acara di hari H memuaskan. Walaupun–lagi-lagi–telat mulainya tapi saya sangat suka dengan dekor dari Chikal. Lorong ranting lampu berhias foto-foto prewedding, pergola dengan sangkar-sangkar burung putih, karpet seperti karpet bunga, dan dekorasi pelaminan nuansa putih sangat menyatu dengan pakaian kami pengantin yang serba emas. Sesi foto-foto juga bikin happy. Kami mendapat tukang foto yang sangat kooperatif dan bisa mengarahkan gaya. Lagu-lagu pun nggak ada yang mellow. Bahkan ada beberapa kali orang-orang berdansa atau menari salsa di depan pelaminan.

Dari segi susunan acara pun lancar penuh dengan salaman yang tiada henti. Dan yang bikin kami berbunga-bunga adalah acara kami ini di hadiri Presiden Direktur kami dan bos Jepang saya ^.^/. Tapi memang bodohnya kami, kami tidak sempat berfoto dengan beliau. Kami pikir beliau akan makan dulu di ruang VIP lalu di panggil untuk berfoto di pelaminan tapi ternyata beliau langsung pulang. Harusnya saat bersalaman kami langsung berfoto bersama. Padahal orang tua saya sudah kedip-kedip mata memberikan kode untuk langsung foto. Tapi apa daya saya yang tidak memakai kacamata ini ya tidak melihat kode itu. Ditambah lagi terlalu excited, saya dan mamas sampai speechless dan nggak kepikiran untuk foto langsung. Cuman setelah lihat-lihat foto jadinya, paling tidak PresDir kami tertangkap kamera. Hanya sayang bos Jepang saya tidak tertangkap kamera satu pun. Yaaa paling nggak kami mempunyai foto dengan kedua bos lokal kami ^^.

Setelah acara selesai saya justru malah kangen sama prosesnya. Mulai dari bikin susunan acara, memilih anggota WO, meeting-meeting menggodok acara, mendatangi vendor berkali-kali, bahkan sampai acara selesai justru saya kangenin bahkan sampai sekarang. Kok ya jadi memiliki obsesi untuk jadi WO juga ya supaya bisa mengulang resepsi (jangan salah tangkap ya, saya hanya menikah untuk satu kali sampai maut memisahkan)… Hahahaha….

Jadi, bolehkah resepsi ini “diulang”?? ^^

Regards,

sans sign