‘Till Death Do Us Part

Father, I said ’till death do us part
I want to mean it with all of my heart

Inilah dua penggal kalimat yang menjadi komitmen kami calon pengantin pada tanggal 16 Agustus 2014 yang lalu. Sandrine Jezabel Biagiotti Tungka resmi bersanding dengan Yuswa Agung Hariyanto. Ketika prosesi pemberkatan selesai, kami berdua rasanya legaaa sekali. Penantian panjang dan doa kami terjawab dengan terpasangannya cincin yang ditukarkan ke jari manis tangan kanan kami dan janji pernikahan yang kami ucapkan sepenuh hati dalam hati kami.

Dan rasa lega itu juga berasal dari….. saya bisa menghafalkan janji pernikahan saya dan mengucapkannya tanpa salah. Hahahahahaha. Jangan salah ya, bukan berarti saya tidak menghayati janji pernikahan saya. Justru dengan hafalan ini saya sedang mengawal diri saya dari improvisasi-improvisasi yang justru akan kelihatan semakin tidak jelas maknanya pada hari H.

Di dalam pernikahan Kristiani, pemberkatan adalah istilah dari akad nikah. Dan tanda “sah” adalah tanda peneguhan pemberkatan sesudah tukar cincin dan ucapan janji pernikahan. Prosesi Janji Pernikahan ini lah yang membuat saya tidak tenang sejak H-1 minggu pemberkatan. Apalagi H-1 hari pemberkatan. Nervous nya itu nggak karuan, lantaran baru malam itu saya membuat janji pernikahan. Artinya H-12 jam saya baru memikirkan janji pernikahan seperti apa yang harus di ucapkan nantinya. But everything went well :).

Secara detail, apa-apa saja siyh yang harus kami persiapkan untuk hari peneguhan dan pemberkatan ini?

1. Bridal

Ini sudah pasti. Dari awal merencanakan satu paket pernikahan, bridal  yang perlu dipersiapkan sejak lama. Kami yang kala itu disebut capeng, sepakat menggunakan pakaian yang menjadi paketan catering untuk gedung. Mengapa? karena pada acara gedung kami justru menjahit sendiri. Aneh memang kami dikala rata-rata capeng justru membuat pakaian akad mereka dan menyewa pakaian untuk gedung. Atas nama budget kami membolak-baliknya. Karena kami ingin baju yang wah saat pemberkatan jadilah kami menyewa yang wah juga karena banyak payetnya. Tahu kan ya kalau bikin sendiri dengan full payet, habisnya tidak bisa kurang dari dua juta untuk pengantin wanita.

Bagaimana dengan riasan? Saya pastinya mengandalkan mba Sri yang menjadi perias saya saat lamaran. Hasilnya??? Cukup natural tapi manglingi kalau kata orang-orang yang hadir. Sederhana untuk sebuah pesta gereja tapi meriah untuk sebuah pesta perkawinan. Kalau urusan rambut atau sanggul saya juga serahkan kepada stylist dari salon langganan mama. MUA dan stylist ini cukup dipanggil kerumah. Ibu dan adik saya pun dipegang oleh tangan yang sama. Sebagai tambahan, dipernikahan ini saya tidak pakai kacamata dan tidak menggunakan lensa kontak juga. Walaupun lihat harus sipit-sipit sedikit tapi lancar-lancar aja tuh. πŸ˜€

Tapi kami sempat kebat-kebit lantaran mereka berdua datangnya terlambat. Seharusnya jam 5 pagi sudah mulai di dandani di rumah, eh merekanya baru datang jam 6 untuk pesta jam 10. Bagi capeng yang pakai MUA dan stylist kenalan harap strick dengan waktu ini kemereka ya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

2. Susunan Acara Pemberkatan

Susunan acara ini kami tidak buat secara khusus. Kami hanya mengikuti dari pengantin-pengantin sebelumnya. Hanya memang ada yang diubah yaitu proses pemberkatan dan peneguhan ditaruh diawal sebelum khotbah (biasanya sebaliknya). Tujuannya adalah supaya khotbah yang ditaruh di belakang menjadi pedoman bagi kami pengantin baru. Pada akhirnya seperti apa yang baik dikembalikan ke gerejanya masing-masing yang penting esensi acaranya dapat tertangkap.

Untuk lagu-lagu dalam acara pun diserahkan kepada MC yang adalah teman kami sendiri. Pria MC ini sudah khatam sekali dalam dunia per-MC-an di Gereja. Susunan acarapun ada beberapa yang disempurnakan olehnya. Hasilnya, top markotop dah. Urusan musik kami meminta bantuan seorang teman yang sangat expert bermusik dari gereja lain. Masalah ini juga cukup kebat-kebit. Pasalnya kami baru dapat kabar kesediaan beliau H-2 minggu. Sebenarnya bisa saja sejak lama kami mencari orang lain. Tapi capeng pria nya memaksa harus si pemusik tertentu ini. Walau cuman latihan H-2 minggu permainan musiknya terkenang banget.

Kami juga meminta anggota gereja GBII Agaphe untuk memberikan kesaksian pujian sebanyak dua lagu; meminta sahabat-sahabat kami semasa berjuang di pelayanan dulu (dan tidak secara kebetulan jadi EO untuk resepsi kami nantinya) untuk menyanyikan lagu Grace Alone, lagu yang sangat mengharukan sekali terkhususnya bagi saya; dan meminta tante saya sendiri untuk menyanyi lagu “Father We Commit To You” mengiringi bagian apresiasi kepada orang tua (aka sungkeman). And they are all awesome!!!

3. Surat-surat Pernikahan

Inilah yang paling penting. Surat-surat pernikahan. Untuk kasus kami ada dua surat yang harus dibuat yang pertama Akta Pernikahan Gereja dan yang satu lagi Akta Pernikahan dari Pencatatan Sipil.

Untuk mendapatkan akta pernikahan gereja kami cukup dengan bergereja dan menjadi anggota jemaat setempat, mengikuti kelas pra-pernikahan yang kami ikuti selama 3~4 minggu, lalu diberkati di gereja tempat jadi anggota.

Nah untuk urusan pencatatan sipil ini yang cukup membuat kepala saya pening tujuh keliling. Pertama karena kesalahan saya yang mengurusnya terlalu mepet. Kedua karena memang keluarga saya juga pindah-pindah melulu sehingga KTP masih pakai alamat rumah yang pertama. Ketiga karena birokrasi yang ampun-ampunan deh ribetnya. Duh kalau ceritain ini sebenarnya saya jadi panas hati sendiri dan justru akan membuat blog ini semakin panjanggggg dan membosankan. Di lain kesempatan deh ya saya buatnya.

Intinya, jangan terlena sama persiapan pemberkatan / akadnya saja, tapi pastikan urusan Pencatatan Sipil dapat selesai minimal H-2 bulan sebelum pernikahan.

4. Gladi Resik & Hari H Acara

Nah ini sebenarnya penting juga tapi sayang kami tidak maksimal saat gladi resiknya. Karena kelelahan, gladi resik yang dilakukan hari Rabu justru tidak maksimal. Bahkan saya pun tidak menyampaikan dengan benar instruksi kepada orang tua saya (papa) saat harus menyerahkan anaknya setelah sampai ke altar. Tidak hanya itu, karena minimnya gladi resik saat hari H cincin kami sempat tertukar. Mungkin gugup juga kali ya, pak pendeta memberikan cincin pria kepada mempelai pria untuk dikenakan pada jari manis saya. Otomatis kegedean. Hahahaha…

Pada hari H nya, kami keluarga mempelai wanita sempat membuat mempelai pria kebat-kebit. Pasalnya kami datang sangaaatttt terlambat. Acara harusnya pukul 10, kami baru sampai gereja pukul 10.45. Saya di ceritain bahwa mempelai prianya sedikit uring-uringan karena dibecandain bahwa sang mempelai mengurungkan niatnya untuk di berkati padahaaaaallll….. memang terlambat saja karena keadaan. Memang ada insiden kecil sebelum keberangkatan yaitu mobil pengantinya lupa diisi bensin!!!! Akhirnya musti bermacet-macet ria isi bensin terlebih dahulu. Hahaha ada-ada saja. Oh ya perihal mobil pengantin, kami sewa lewat GBU Trans. Tinggal searching di google pasti paling atas deh tuh situsnya.

Tapi itu semua saya anggap seni. Tidak ada ini tidak dikenang iya ga siyh?? Hal ini juga mengajarkan saya untuk tenang pada saat prosesi pemberkatannya dan terbukti saya bisa melaluinya dengan tenang yang tidak dibuat-buat.

Sukacita calon pengantin ada pada saat prosesi akad / pemberkatannya. Ketika mengucapkan janji pernikahan dengan setulus hati sembari mengimani kata-kata “hingga maut memisahkan”, disitulah letak sukacita yang sebenarnya.

Bagaimana dengan mu? Apa kegembiraan yang kamu rasakan saat kata “SAH” berkumandang?

Regards,

sans sign

9 thoughts on “‘Till Death Do Us Part

    1. Terima kasih banyak mba…
      Mmmm aku juga kurang tahu persis kenapanya, cuman mungkin lebih ke arah bawa pernikahan itu suci dan berharap kedepannya tetap terjaga kesuciannya. Mungkin itu kali ya πŸ˜€
      Tapi banyak kok yang sekarang ga pakai putih lagi.
      Cuman aku pribadi memilih putih karena dari dulu emang pengennya putih, keren aja gitu dan berciri khas pengantin πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

  1. Congrats yaa.. Mudah2an langgeng selalu sampai kakek nenek. Btw waktu nikahan aku malah ada insiden lupa bawa cincin kawin waktu pemberkatan. Paraah, tapi jadi kocak karna ada ceritanya πŸ˜€

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.