Kalau ngomongin foto saya selalu excited. Bukan seorang photographer melainkan hanyalah seorang penikmat foto. Paling suka kalau udah lihat gambar-gambar pemandangan indah. Begitu juga dengan foto-foto prewedding. Saya demen bangeeetttt lihat sudut pandang fotografernya dalam mengambil gambar. Mau indoor ataupun outdoor, kalau tema dan pengeditan gambarnya cukup menarik pasti mata saya betah melahap segala jenis fotonya.

Berhubung dalam persiapan ingin menikah juga, sejak bulan februari saat-saat menentukan budget saya dan–yang kala itu–calon suami mulai searching paket-paket prewedding bahkan sampai datang ke pameran pernikahan. Cukup mencengangkan bahwa hasil-hasil foto prewedding outdoor yang saya nilai sangat bagus dan wah itu memiliki harga paket mahal-mahal 0_O. Dengan dompet tipis kami calon pengantin kami sempat menyerah untuk mengambil paket yang indoor saja sesuai dengan budget yang ada dan memadukan dengan foto-foto travelling kami yang ala kadarnya dan di edit sebisanya.

Bagi kami ini drama. Tapi yang-kala-itu-calon-suami saya teringat bahwa salah satu saudaranya melakukan prewedding dengan dibantu teman gereja yang sudah sangat kenal dekat dengan kami. Menurut sang saudara, hasil fotonya memuaskan baik outdoor maupun indoor. Akhirnya coba menghubungi pria yang bernama Aris Christian dan orangnya langsung mengiyakan untuk membantu kami membuat foto prewedding outdoor. Kami senang sekali karena rate-nya masuk budget kami (sebenarnya orangnya tidak menetapkan tarif karena profesinya memang bukan seorang fotografer melainkan membantu saudara-saudara dekatnya saja).

Drama belum berakhir. Sempat saat tiba waktunya prewedding teman kami ini menolak dengan alasan tidak PD, takut mengecewakan, dan tidak punya kamera SLR. Bingung lah kami. Bayangan untuk kembali ke foto prewedding indoor terlintas. Bahkan sempat mengutak-atik budget agar tetap bisa foto prewedding outdoor. Si mamas coba membujuk-bujuk teman kami lalu mencoba cari pinjaman kamera dari teman gereja yang sangat baik hati bernama, dan hasilnya… kami jadi foto outdoor bersamanya ^^.

Dua hari kami menghabiskan foto prewedding. Sebenarnya satu hari asal seharian itu cukup. Tapi karena terkendala di saya yang pagi harinya harus ngider-ngider cari aksesoris jadilah tanggal 19 Juli 2014 kami cuman setengah hari dan dilanjutkan tanggal 30 Juli 2014 saat libur lebaran. Sebenarnya kalau mau dipaksain siyh kelar, cuman jam 4 sore tiba-tiba mendung. Ya resiko foto prewed outdoor pasti terkendala cuaca.

Oh ya, foto prewedding outdoor kami mengambil tempat hanya di daerah TMII. Tentu saja karena mencari tarif yang murah. Memang punya angan-angan bisa foto di salah satu restoran ternama atau di PIK atau bahkan di Bandung, tapi sekali lagi terkendala tarif. Bahkan saya pernah mengusulkan bagaimana jika berfoto ke semarang, karena memang tema foto kami berkisar di TRAVELING yang sama-sama menjadi kegemaran kami. Hanya kembali lagi ke budget yang pastinya membengkak. Akhirnya alternatif terakhir dan lengkap ya TMII.

Sesuai dengan tema kami yaitu TRAVELING, pertama-tama kami berfoto di kawasan Museum Transportasi. Melambangkan bahwa banyak transportasi yang kami gunakan saat traveling. Untuk dapat leluasa berfoto disana, dikenakan tarif foto 150.000 sekali kedatangan dengan waktu terserah mau berapa lama sampai tutup dan dapat menggunakan seluruh lokasi. Enaknya saat kami berfoto itu lagi bulan puasa jadi museumnya sepi. Ada siyh beberapa capeng yang juga lagi prewedding. Hanya sayang, saat itu kami tidak bisa berfoto di dalam pesawat Garuda Indonesia. Selama bulan puasa tutup.

Lalu dihari berikutnya kami pergi ke kawasan anjungan. Kami memilih anjungan Bali, Jawa Tengah, dan Sulawesi Utara. Memilih Bali karena saya dan mamas pernah liburan bersama kesana. Memilih Jawa Tengah sebagai representasi daerah asal mamas yaitu Solo. Memilih Sulawesi Utara karena merupakan daerah asal orang tua saya yaitu Manado. Sebenarnya Lombok, Belitung, dan Jawa Timur masuk dalam daftar kami karena kami pernah berlibur bersama kesana hanya sayang tempatnya kurang menarik sebagai objek foto dan kurang merepresentasikan daerahnya. Kalau Jawa Timur kami tidak jadi masuk karena menurut beberapa referensi yang saya baca tarif foto prewedding suka ditembak secara tiba-tiba oleh pengurusnya dan tarifnya besar. Daripada gambling akhirnya tidak jadi.

Sebenarnya mungkin saja di tiga anjungan diatas di kenakan tarif–banyak referensi blog yang saya baca, capeng dikenakan tarif di anjungan Bali–tapi kami pakai metode kucing-kucingan. Kami berfoto-foto disitu layaknya turis. Untung saja outfit kami, capeng, tidak aneh-aneh seperti pakai-pakaian wedding–tidak seperti salah satu capeng yang waktu itu juga sedang mengadakan foto prewedding di anjungan bali menggunakan outfit wedding yang lengkap dan full makeup. Kami hanya menggunakan kaos dan celana layaknya orang pergi traveling. Kami pun tidak membawa properti apa-apa untuk prewedding selain tas dan topi. Sang fotografer pun tidak membawa lampu-lampu atau tripod penunjang foto. Jadinya tidak kena tarif apa-apa walaupun penjaganya sering lirik-lirik curiga. πŸ˜€

Sebenarnya saat itu kami juga berencana mengambil gambar di Taman Bunga Keong Mas–dan ditempat ini dikenakan tarif resmi layaknya di museum transportasi–tapi terkendala hujan saat baru selesai mengambil gambar di anjungan Sulawesi Utara. Akhirnya kami melipir ke restoran Manado dalam kawasan anjungan melepas dahaga dengan es kacang merah dikala bulan puasa dan berteduh dari derasnya hujan.

Satu minggu sesudahnya walaupun mepet, beberapa foto terpilih selesai di edit. Hasilnya?? SANGAT TIDAK MENGECEWAKAN!!! (buat kami) Semuanya bagus-bagus. Rawnya pun sudah bagus apalagi kalau di edit. Saya happy-happy sendiri melihatnya ^^.

Puas dengan gambarnya, kami mencari tempat cetak foto + frame murah. Setelah searching kami menemukan Q-tha Photography di bilangan Tebet. Mereka menyediakan cetak foto dan frame yang sangat murah dibandingkan tempat lain. Hasilnya pun bagus dan tempat cuci cetak fotonya juga keren. Pengen tau harganya, bisa dilihat di facebooknya. Kalau cetak foto & frame tidak sampai Rp. 500.000,- lebih baik langsung aplikasi member biar dapat harga member yang murah. Kalau mencapai Rp. 500.000,- otomatis bisa di convert ke member dan dapat harga member. Oh ya, di Q-tha Photography juga menyediakan paket prewedding dan foto video liputan untuk wedding lowh. Mereka juga menyediakan foto studio untuk keluarga atau event-event lainnya.

Memang terbukti bahwa foto prewedding berkelas tidak selalu mahal. Bagaimana dengan pengalamanmu?

Regards,

sans sign