Akhirnya saya balik lagi menggarap post yang tertunda hampir 7 bulan. Udah kayak kehamilan aja ya, hahahaha. Sesuai dengan post saya Second Trip to Sentosa Island inilah saya akan membagi pengalaman saya. Jadi mulai niat membagi hal ini lagi sebenarnya setelah membaca blogpost mak Murtiyarini ini.

Seperti tertulis di master post ini, kami duo kakak-beradik, Sandrine & Angellica siap mengarungi Sentosa, Singapura. Pukul 2 pagi, kami dibangunkan mama untuk bersiap-siap karena antrian kamar mandi mencapai angka 4 orang, aka semua anggota rumah akan mandi dipagi hari. Ya secara kami akan diantar kedua orang tua kami ke bandara lalu mereka akan melanjutkan perjalanan ke kantor jadi sekali jalan lah.

Berhubung ini termasuk program FAM, jadilah yang dibayar tiket pesawat secara gratis hanya saya. Adik saya perlu membayar tiket pesawat sendiri. Saya pergi ke Singapura dengan menggunakan SQ atau terkenal dengan nama Singapore Airlines dengan waktu keberangkatan pk. 9.20 pagi dan adik saya, atas nama penghematan, saya dan keluarga belikan Air Asia dengan penerbangan pk. 7 pagi – karena itu yang paling murah xixixixixi. Adik saya dihantar duluan ke Terminal 3 lalu saya ke Terminal 2. Ohya, Adik saya ini baru pertama kalinya lowh ke luar negeri. Jadi pasti kebayang lah reaksi excitednya saat pertama dengar akan diajak ke Singapura.

By the way, karena saya ikut program FAM bersama dua rekan dari media, jadilah kami dijamu di loungenya Singapore Airlines di terminal 2 secara gratis. Padahal kami awalnya cuman sedang duduk-duduk santai di Starbuc**s eh tetiba salah satu rekan media mendapat telepon akan dijemput untuk menikmati saat-saat boarding di lounge. Udah gitu saat boarding pun kami ikut yang last call. Berasa kayak artis aja, atau terdakwa karena menyebabkan pesawat delay??? Hahah ya ga mungkin lah ya. Cuman sayang, dari segi makanan saya hanya menikmati bubur. Entah mengapa saya tumben-tumbenan tidak mencoba seluruh makanan yang ada di lounge itu. Entah mengapa…

Selama perjalanan menggunakan SQ ya bisa dibayangkanlah, sangat menyenangkan. Siapa siyh yang ga senang naik SQ. Pesawatnya besar, tempat duduk tetap luas walaupun dikelas ekonomi, entertainment dalam pesawatnya keren-keren, minim goncangan, udah gitu termasuk yang memiliki makanan sedap – kalau ini saya hanya membandingkan dengan maskapai Garu**, Air As**, Sriwija**, dan Li** Air saja. Walaupun hanya menempuh penerbangan hampir dua jam, yang agak phobia dengan penerbangan sejak banyaknya pemberitaan kecelakaan pesawat, membuat saya tetap bisa relax di pesawat.

Kala itu sebenarnya kala kedua saya menikmati penerbangan dengan SQ – beberapa kali business trip ke Singapura saya wajib menggunakan SQ dari kantor – tapi saya tak pernah berhenti takjub dengan besarnya pesawat. Udik memang tapi harap maklum lah, saya belum pernah naik pesawat-pesawat gede selain ke Singapura. Belum ada negara lain yang saya jajaki.

Turun pesawat pun saya dibuat takjub. Saya kira saya, adik saya, dan kedua rekan saya harus berangkat sendiri ke pulau Sentosa. Ternyata oh ternyata kami dijemput langsung dari depan pintu pesawat. Mister-yang-namanya-saya-lupa menjemput kami dengan bahasa Indonesia-nya yang fasih. Udah gitu ramah bangggeeetttt. Beliau ternyata pernah lama tinggal di Indonesia tapi asli warga Singapura. Udah gitu mobil yang kami naiki adalah mobil yang termasuk seri limousine yang berbentuk seperti Alphard. Nyamaaannn tapi sayang saat itu AC nya kurang dingin.

Oh ya, sebelum kami keluar counter imigrasi dan naik ke mobil, saya sempat kebat-kebit karena adik saya tidak bisa dihubungi. Nomornya nonaktif, whatsapp juga tidak masuk. Sudah kebingungan saja saya, takutnya adik saya akan ditinggal karena pastinya mobil yang menjemput tidak mau menunggu. Tapi adik saya memang cerdas, dia sudah menunggu di pintu keluar terminal 2 – adik saya landing di terminal 3. Dia memang tidak bisa mengaktifkan internet selama dibandara, jadilah dia berusaha mencari nomor penerbangan saya yang dia sendiri lupa-lupa ingat lalu menuju terminal tempat pesawat saya landing.

Setelah sampai di hotel dan check in, saya ditelpon oleh pihak FAM pulau Sentosa bahwa saya dan adik saya akan dijemput pukul 15.30 untuk mengunjungi tempat pertama yaitu mengunjungi Tiger Sky Tower dimana kita dapat melihat pulau Sentosa bahkan Singapura dari ketinggian. Sebenarnya akan lebih menarik jika dilihat pada malam hari. Sayang jadwal kami di sore hari jadi hanya bisa melihat gedung-gedung tinggi, laut, serta pepohonan-pepohonan yang masih rindang di Sentosa. (Silahkan klik link di atas untuk detailnya ya).

Setelah dari Tiger Sky Tower kami dibawa mengunjungi The Merlion and Merlion Plaza. Inilah patung icon Singapura terbesar dan kami bisa melihat pulau Sentosa dari kepala Merlion. Sewaktu memasuki kawasan Sentosa Merlion kita akan melewati diorama-diorama yang kueren berisi makhluk-makhluk dibawah laut (jujur saya lupa apa inti diorama tersebut, hwehehe). Hanya sayang kamera saya jelek jadi hasil foto di dalamnya gelap-gelap, hanya satu yang bagus seperti di galery dibawah. Kemudian kita diajak menonton sejarah mengapa Merlion menjadi icon dari Singapura selayaknya burung Garuda menjadi icon Indonesia. Lalu kita diajak mengunjungi mulut dan kepala Merlion. Hati-hati loh karena anginnya kennnncannggg sekali diatas sana. Oh ya seharusnya sebelum itu kita perlu melempar koin kedalam suatu pancuran mini tapi sayang saat itu tidak beroperasi akhirnya koin tersebut menjadi kenang-kenangan untuk dibawa pulang.

Selanjutnya kami pergi mengunjungi atraksi 4 dimensi di 4D Adventureland. Sebenarnya bukan sesuatu yang asing lagi tapi 4 dimensi ini digabungkan dengan permainan game interaktif layaknya main XBox gitulah.

Lalu… ini niyh kegemaran saya, kami menaiki Cable Car menuju Mount Faber, bolak balik. Wuiiihhh seru aja. Udah gitu di Mount Fabernya itu lohhh cozy banget. Karena saat kita menaiki cable car di Mount Faber kita sampai di pemberhentian terakhirnya yaitu Faber Peak. Dimana disitu terdapat tempat makan cozy bernama Spuds & Aprons. Oh ya, disitu saya bertemu kamar restroom yang memiliki view indah. Bayangkan saja restroom tapi dindingnya kaaaacccaaa semua. Jadi sambil dandan atau cuci tangan viewnya keren. Yang pasti bilik-bilik toiletnya tertutup ya. Ngga mungkinlah pakai kaca. Warga Singapura pun pasti ga mau lagi pip*s diintip :D.

Balik dari Mount Faber kami menikmati sunset dan makan malam di Coastes. Western food yang enak bingggiiiitttttt menurut saya. Kalau soal harga bisa dikira-kira ajalah masing-masing. Oh ya restoran ini juga mengusung pemesanan makanan lewat smartphone. Jadi kita tidak perlu capai-capai antri di kasir untuk memesan makanan.

Sangking keasikan makan, kita terlambat memasuki pertunjukan Songs of The Sea yang mana merupakan pertunjukkan terakhir di hari itu. Hanya terlambat sedikit siyh tapi ya tempat duduknya dapat di pinggir-pinggir tidak di tengah-tengah. Walaupun begitu tetap okey banget. Memang Singapura penjual konsep yang hebat. Eh ternyata sekarang pun pertunjukkan sudah berubah. Songs of The Sea sudah diganti menjadi Wings of Time. Tapi saya yakin jenis pertunjukkan masih sama, fountain show & laser lights menjadi tema utamanya.

Akhirnya kembalilah kami ke hotel masing-masing untuk beristirahat. Terus dikamar ngapain? Ya bobo aja secara nothing to do. Palingan cuman nonton TV dan baca buku. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah 9 malam.

Regards,

sans sign