Memburu Sunrise di Sikunir

Sabtu, 4 Januari 2014 silam, saya bersama pacar dan beberapa rekan sekerja memutuskan untuk berlibur ke Dataran Tinggi Dieng. Tujuan utama kami adalah menikmati matahari terbit dari Sikunir. Setelah sebulan mencari dan mencari tahu, kami yang mayoritas bertubuh kerempeng dan takut dingin ini (kecuali pacar saya tentunya) memantapkan hati untuk mencari suasana baru di Sikunir.Pukul 3.30 pagi kami sudah bangun dan mulai bersiap-siap untuk memulai perjalanan di pukul 4.00 pagi. Ini kami lakukan demi melihat matahai terbit. Yang pastinya, kami susah sekali untuk beranjak dari tempat tidur kami. Meringkuk adalah posisi favorit kami untuk mengatasi dinginnya dieng. Padahal suhu menunjukkan hanya 13 derajat celcius. Belum ada bandingannya jika perjalanan ini kami lakukan saat musim kemarau, yang menurut informasi dapat mencapai titik 0 derajat celcius. Nggak kebayang banget seperti apa dinginnya Dieng di musim kemarau.
Untuk menuju Sikunir kami menyewa mobil—untuk kami yang bertubuh kerempeng ini, kami sangat bersyukur tidak menyewa motor dan mengarungi dingin nya pagi serta ekstremnya jalanan menuju pintu masuk Sikunir. Awalnya kami kira supiryang mengantar kami hanya mengantar kami di pintu masuk Sikunir, ternyata beliau juga memandu kami sampai ke spot-spot menarik untuk menikmati sunrise.
Sampai ke parkiran Sikunir, sudah banyak orang yang bersiap-siap untuk mendaki (baca: trekking) ke puncak Sikunir. Menurut informasi kala itu, kurang lebih ada ratusan orang yang akan menikmati sunrise yang sama dengan kami.
Sebelum pendakian (tepatnya saat masih didalam mobil) kami di briefing secara informal oleh sang pemandu yang bernama Mas Opik (maaf mas kalau spellnya salah, karena kami tidak bertukar kartu nama ^^). Beliau berkata, ”Siapkan fisik; jalan pelan-pelan saja dan jangan terlalu terburu-buru; diharapkan bawa senter, kalo ga punya bisa pake hp karena jalur kiri jurang;” dan briefing-briefing lainnya.
Seratus meter pertama, kami, tepatnya saya, masih semangat 45. Seratus meter kedua, jalanan mulai menanjak, badan, yang menggunakan jaket super tebal dan berlapis-lapis kaos didalamnya, mulai mengeluarkan keringat. Seratus meter ketiga, mulai ketakutan dengan licinnya jalanan berbatu yang terkena embun. Saat itu saya salah menggunakan sepatu. Seratus meter keempat, nafas mulai makin pendek karena kekurangan oksigen. Seratus meter kelima dan hampir sampai di perhentian pertama, kepala saya makin pening memikirkan bagaimana dapat turun tanpa terpeleset nantinya.
And here we were, arrived at our first stop!!! Hanya sayang setelah menunggu hampir 30 menit dengan berfoto-foto, ternyata sunrise tidak terlalu nampak dikarenakan awan dan kabut yang tebal. Tapi tetap saja, melihat pemandangan alam yang begitu menakjubkan membuat saya terus melantunkan rasa syukur kepada Sang Pencipta didalam hati dan melalui mulut saya.
Ini belum seberapa. Mas Opik mengajak kami menuju perhentian kedua dimana menurutnya, pemandangan yang akan terlihat jauh lebih indah dari perhentian pertama. Dan benar saja, Puji Tuhan indahnya!!! Walau kabut terkadang tebal menghalangi, ketika tersibak terpapar keindahan sulaman rapih dari Yang Maha Kuasa. Matahari sudah terbit agak tinggi tapi tidak mengecewakan kami.
Sudah puas berfoto dan menikmati dinginnya perhentian kedua, kami dibawa Mas Opik ke perhentian ketiga. The view was very wonderful rather than the two before!!! Astonishing!! Just let the pictures speak ^^.

Itulah pengalaman kami mendaki Sikunir. Walau tidak mendapat sunrise tapi kami mendapat sukacita dan pemandangan indah. Bahkan saat kami kembali ke pintu masuk Sikunir, kami dapati ladang-ladang kentang yang sedang dipanen.

Beberapa fakta tentang Sikunir:
  1. Saat berada di perhentian ketiga, kita sedang berdiri kurang lebih 2300 meter diatas permukaan tanah—walaupun trekking nya hanya 500 meter dan sisanya dibantu dengan menggunakan mobil.
  2. Saat musim penghujan, dikawasan dataran tinggi ataupun gunung mana pun pasti memiliki suhu yang tidak terlalu tinggi. Tapi sayangnya tidak bisa menyaksikan sunrise. Saat musim penghujan, Sikunir susah membiarkan mata anda untuk menikmati bahkan Silver Sunrise sekalipun, apalagi Golden Sunrise.
  3. Walaupun begitu, view yang terpampang akan membuat perjalanan kita tidak sia-sia. Beberapa gunung dan hamparan sawah serta telaga dapat kita lihat dari satu puncak.
  4. Trekking Sikunir penuh dengan batu-batuan licin karena kabut serta tanah merah karena curah hujan tinggi—di musim penghujan tentunya. Jalurnya pun hanya 1-2 orang. Tapi pastinya kalah jauh dari trekking ke gunung-gunung terkenal ^^.
  5. Saat perjalanan selayaknya hutan, terdapat jurang yang sangat tinggi, hamparan rumput yang segar, tanah merah yang pekat, jalan berbatu yang licin dan menanjak, serta ladang-ladang sayur mayur.
  6. Bisa dijadikan tempat shooting. Saat kemarin di perhentian ketiga, kami melihat sekelompok orang sedang mengadakan shootingyang entah apa dan sedang bergaya bak penari yang lompat kesana kemari dengan pakaian yang tentu saja tidak tebal—hanya satu lapis dengan kain-kain melambai. Pertanyaan saya sampai sekarang, bagaimana mereka mengatasi kedinginan mereka? Saya saja harus pake baju panjang 3 lapis, jaket 2 lapis, celana panjang 3 lapis, topi kupluk tebal di balut hoodie jaket, satu syal, menggunakan sepatu dengan kaos kaki supertebal, dan sarung tangan.

Demikian sepenggal pengalaman saya dan rekan-rekan menikmati indahnya pemandangan Dataran Tinggi Dieng melalui puncak Sikunir. Bagaimana denganmu?
Regards,

11 thoughts on “Memburu Sunrise di Sikunir

    1. Harus cari waktu kesana mak 😁…
      Tapi memang musim hujan begini susah dapet sunrisenya mak. Seperti saya kemarin, ga dapet silver atau golden sunrisenya malah keseringan kabut. Tapi enaknya, kalau kata penduduk sana, cuacanya ga sedingin di musim panas 😊

  1. Hehehehe justru nggak mba. Aku kira bakal dingin banget ternyata suhunya ga sedingin yang saya duga (13-14 derajat) walau banyak kabutnya daripada sinar mataharinya ^^. Menurut orang-orang sana, justru titik dingin ada pada saat musim kemarau. Bisa 0 derajat. Brrr ga kebayang deh tuh.

  2. Wuih, musim hujan ke Dieng makin dingin pastinya ya:)
    Belum pernah ke Dieng, gagal terus rencana ke sana 🙁
    Foto-fotonya keren, jadi bertekad harus ke Dieng suatu hari nanti.

  3. Terima kasih banyak mba… Saya justru baru ini sunrise nya… Bisa jadi rekomendasi untuk kedepanny… hehehe

    Ayo ayo mba, ga bakal menyesal. Balita pun aman diikutsertakan. Menurut penduduk setempat sunrise yg bagus disekitar juli agustus, bisa lihat silver dan golden. Tapi dinginnya bisa mencapai 0 derajat celcius. Ga kebayang saya. 8D

  4. sooooo niceee….I haven't been here beforeeee….makasih sudah sharing…fotonya keren-keren…Sunrise yang aku sempet jabanin banget terakhir adalah Punthuk Setumbu, overlooking Merapi mountain and Borobudur Temple..cantiiik…

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.