Melihat kembali blog saya dari atas hingga kebawah sesudah mengalami perubahan besar cukup membuat saya tercengang. Pasalnya, saya menyadari satu bagian yang ternyata menjadi titik kelemahan saya beberapa tahun belakangan ini. Inilah yang membuat saya kembali merenung di depan layar monitor:

“Tantangan Membaca Tahun 2013: Sandrine telah membaca 0 buku dari tujuan 12 buku.” Sadis memang, belum menghabiskan 1 bukupun hanya dari 12 buku saja. Padahal jika ditilik kebelakang, sampai saya lulus SMA, sudah kurang lebih 200an buku yang saya habiskan dari berbagai genre dimulai dari novel, komik, dan buku motivasi (untuk hal ini buku pelajaran tidak masuk hitungan karena yang saya baca hanya sepenggal-sepenggal saja).


Tapi sekarang kemana rasa ingin tahu itu pergi? Kelihatannya tergantikan dengan facebook, twitter, path, instagram, serta socmed lainnya. Tidak menyalahkan kehadiran socmeds tersebut, tapi bagi saya pribadi waktu yang dihabiskan didepan media-media sosial tersebut mengalahkan keinginan untuk beranjak dari tempat tidur memilih buku untuk dibaca yang sudah lama bertengger di rak buku saya. Waktu-waktu didepan media sosial pun mengalahkan gerak jari saya memilih ratusan e-book yang selalu saya beli ataupun unduh didalam player saya. Semua buku ataupun e-book ini hanya aksi dari pengeluaran uang saja tanpa ada reaksi dari mata yang jelalatan pada ribuan kata.

Saya sampai melupakan “2013 Reading Challenge” yang saya ungkapkan sendiri di awal tahun 2013 ini. Tahun lalu saya juga membuat reading challenge yang sama dan berhasil membaca beberapa buku walau tidak lebih dari 10 selama satu tahun–perihal ini saya tidak mencantumkan dalam goodreads saya. Sehingga ini memotivasi saya untuk kembali menjalankan reading challenge di tahun ini. Tapi akhir-akhir ini saya selalu menyalahkan waktu. Saya terus berkata, “saya tidak punya waktu”, “pekerjaan saya menyita waktu saya”, “sekarang saya sudah kuliah”, “saya sudah tak sendiri lagi”, dan berbagai macam alasan lain.

Tapi benarkah itu semua halangan?

Saya jadi berpikir, itulah TANTANGAN!

Tantangan tidak akan ada jika tidak ada halangan. Saya perlu mendeskripsikan semua tantangan saya:

1. Saya terus berpikir bahwa pekerjaan saya menyita waktu saya –> berarti saya harus belajar memanage waktu saya

2. Saya terus berpikir bahwa saya tak sendiri lagi –> selain memanage waktu saya, paling tidak ajaklah pasangan untuk belajar membaca. Jika tidak suka, saat pasangan nonton, kenapa kita tidak membaca.

3. Saya terus bepikir bahwa sekarang saya sudah kuliah –> membacalah text book dengan tekun, textbook tetap adalah buku untuk memperluas wawasan dan menambah ilmu yang dapat dibagikan kepada orang lain.

4. Saya terus berpikir bahwa saya tidak punya waktu –> ini sangat serius, buatlah jadwal harian serinci mungkin. Kesukaan saya adalah membaca novel, berarti paling tidak saya harus memberi paling tidak 2 jam seminggu untuk membaca novel, 2 jam seminggu untuk membaca buku motivasi, dan 4 jam seminggu membaca textbook (tetap ini lah prioritas utama saya), serta luangkan waktu sedikit membaca koran supaya tidak kuper perharinya. Paling tidak 30 menit.

5. Saya ingin terus banyak menulis –> menulis dapat dilakukan kalau kita banyak membaca.

Jadi tidak ada alasan lagi untuk membuat telur saya tidak pecah. Yang menjadikan itu halangan berubah menjadi tantangan. Starting now I dare myself to read at least one book in a month, aaaaannnyyyy kind of books. How about you?

Regards,

follow us in feedly