Malaysia I Was in Lost (Part 2)

Walaupun terlihat tenang diluar, aku nervous berat. Kontak pertama yang kudapat dari Indonesia tidak bisa kuhubungi. Hampir 2 jam aku menunggu ditempat yang salah itu. Di pikiran terbersit rasa kesal. Mungkin seminar itu dibatalkan tapi hanya aku yang tidak diberitahu. Terbersit juga rasa takut, kalau memang dibatalkan masakkan aku hanya tinggal di hotel selama 3 hari, yang notabene hotel itu jauh dari mana-mana, cari makan murah susah, dan kondisi keuangan sangat menipis karena habis untuk deposit.

Singkat cerita, dengan penuh rasa terima kasih dari rekan-rekanku dikantor, aku berhasil mendapatkan nomor yang harus kuhubungi. Setelah ku telpon, betapa kagetnya aku karena aku akan dijemput bukannya pergi sendiri ke tempat seminar yang ternyata dipindah itu. Jadi perlukah aku kesal? Yang penting sekarang dapat kabar baik.
Akhirnya yang menjemputku datang. Dan jujur saja, dia seorang pria jepang tampan. Aku kira yang menjemputku tadinya adalah seorang supir, tapi ternyata yang menjemputku langsung sang bos penyelenggara seminar dengan mobil priusnya yang wow. Wooohhh. Kekesalanku makin teredam.
Ternyata setelah diberitahu, semua itu memang kesalahan dari penyelenggara seminar. Ada perubahan tempat seminar dan hotel, tapi hanya aku yang tidak diberitahu. Mereka sangat mencari-cari diriku dari pagi tapi tak ketemu. Anehnya mereka sempat menghubungiku di hotel tempatku menginap pertama, tapi kata pihak hotel tidak ada namaku. Hmmm, sungguh aneh.
Pendek kata, akhirnya aku bisa seminar walaupun jadinya datang telat di hari pertama. Setelah hari pertama seminar, pihak penyelenggara mengadakan welcome dinner di salah satu restoran dekat dengan hotel. Tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata, tapi aku sangat senang kala itu. Makanannya pun enak. Kenalan pun bertambah. Dari yang sebaya hingga yang lebih tua. Bahkan ada satu cerita yang sangat kuingat kala itu.
Saat itu aku berkenalan dengan salah satu peserta seminar berasal dari Jepang, tapi ternyata pernah tinggal lama di Australia. Dia dulunya bekerja di Panasonic juga. Tapi karena kegigihannya untuk belajar Bahasa Inggris di Australia (ya dengan kumpulan biaya pribadi dia ke Australia selama 2 tahun hanya untuk belajar bahasa Inggris, dengan membawa ijazah bachelor seorang engineer) dia dipercaya membuka pabrik Panasonic di Inggris. Wew. Disitu aku belajar bahwa nothing is impossible if we wanna work a little harder, of course in God’s will.
Keesokan harinya seminar kembali diadakan, hingga waktu yang ditentukan. Bahkan foto bersama pun sudah menjadi kewajiban. Yang sangat menyenangkan adalah ketika pulang, aku ingin sekali jalan-jalan dengan kenalan baruku Ms. Hang. Sebenarnya keinginanku adalah melihat menara kembar itu walaupun tidak bisa masuk sampai keatas karena sudah malam dan sudah tutup (saat sedang membicarakan jalan-jalan waktu sudah menunjukkan pk. 06.00 sore tetapi matahari masih sangat terik, di sana matahari terbit pk. 07.00 pagi dan terbenam pk. 07.00 malam). Tapi berhubung menurut orang-orang lumayan jauh dari tempat itu ya kita memutuskan tidak jadi karena kita hanya berdua wanita, walaupun aku kecewa.
Mungkin kekecewaan itu terlihat di mata rekan dari orang jepang yang menjemputku kemarin. Akhirnya dia mau mengantarku ke twin tower bersama Ms. Hang dan meminta dua teman laki-laki teman seminar kami untuk menemani kami hingga hotel.

Dan voila, sampailah kami di twin tower, dinner di Dome, foto-foto disana, kemudian ke sunway pyramid foto-foto walaupun mallnya sudah tutup, dan diantar kedua teman lelaki itu sampai hotel lagi. Benar-benar baik mereka.

DSCF0426   DSCF0488

Dan keesokan harinya aku sudah harus kembali ke Jakarta. Penerbangannya pk. 09.30 pagi yang mengharuskanku berangkat dari hotel pk. 06.00 pagi menggunakan taksi eksekutif, dengan sinar matahari belum sama sekali tampak. Wihhhh……

Sungguh perjalanan bisnis ini memang istimewa. Dari Kesasar hingga Keceriaan nampak. Memang selama disana tidak ada tempat-tempat wisata yang dikunjungi, tapi cukup banyak pelajaran dan keceriaan yang kudapat. Aku berharap suatu hari nanti bisa balik dan menikmati segala tempat wisata yang ada disana.

Regards,

sans-sign

2 comments on “Malaysia I Was in Lost (Part 2)

Leave your footprint here ... :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: